Anak-anak Panti Asuhan Samuel Mulai Hidup Teratur dan Lebih Sehat

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait mengevakuasi anak-anak dan balita di Panti Asuhan The Samuels Home, Gading Serpong Sektor 6, Blok GC, Kabupaten Tangerang, Banten, Senin, 24 Februari 2014. Sebanyak 12 dari 32 anak-anak dan balita dievakuasi oleh Komnas PA karena menerima adanya laporan dugaan penganiayaan dan penelantaran anak di panti asuhan tersebut/TEMPO/STR/Marifka Wahyu Hidayat

ANAK-ANAK asuh di bekas panti Samuel Tangerang, saat ini mulai hidup teratur dan lebih sehat di Rumah Perlindungan Sosial Anak (RSPA) milik Kementerian Sosial.

“Dari total anak bekas Panti Samuel yang dirujuk LBH Mawar Sharon dan KPAI ke RPSA Bambu Apus 21 orang. Saat ini, kondisi mereka semuanya sehat dan bisa melakukan aktivitas sehari-hari dengan normal,” kata Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu (12/7/2014).

Pada saat awal datang ke RPSA, bekas anak Panti Samuel tidak memiliki keteraturan pola makan, pola tidur dan pola hidup bersih. Tidur jika sudah larut malam dan bangun sesuka hati dan saat makan sering mengeluh karena tidak mendapatkan mie instan.

Tidak hanya itu, seringkali meninggalkan sisa makanan, piring dan gelas di meja makan tanpa dicuci terlebih dulu. Pola hidup bersih seperti mandi, mengganti baju setelah mandi, mencuci baju dan membersihkan kamar tidur juga tidak dilakukan dengan tertib dan teratur.

Mereka terbiasa hidup bebas, tanpa aturan dan sering terjadi konflik antarsesama mereka sendiri. Misalnya, saat makanan datang, beberapa orang langsung membuka dan mengambil jatah lauk atau buah temannya dan tidak mau mengakui perbuatannya itu.

Sehingga anak lain yang tidak mendapatkan jatah makanan itu marah dan melampiaskan dengan berteriak-teriak, membanting pintu dan menghajar anak yang dituduh mengambil makanannya.

Selain itu, mereka terbiasa berkata kasar dengan nada tinggi dan mengacuhkan petugas. Dalam benak mereka petugas RPSA sama dengan petugas di Panti Samuel dulu dan hal ini menyulitkan ketika mereka diarahkan untuk mengikuti berbagai kegiatan psikososial di RSPA.

Setelah empat bulan tinggal di RPSA mereka mengalami perubahan, seperti pola tidur, pola makan dan pola hidup bersih lebih teratur dan dibiasakan masuk kamar pada jam yang ditentukan dan bangun teratur.

Juga, mulai terbiasa makan dengan menu nasi, sayur, lauk dan buah-buahan serta membersihkan bekas tempat makanan yang dipakai. Pola hidup bersih seperti mandi, mengganti baju dan membersihkan lingkungan sekitar sudah dilakukan teratur.

Mereka sudah berinteraksi, baik dengan teman sebaya maupun lingkungan sekitar dan petugas RPSA secara baik. Hubungan klien dan petugas semakin akrab dengan kedekatan kepada petugas pun sudah mulai terbangun.

“Kini, anak-anak bekas Panti Samuel sudah lebih mudah diarahkan untuk terlibat dalam kegiatan psikososial. Mulai mengenal dan menerapkan nilai, norma dan aturan di RPSA dan lingkungan sekitar, serta potensi konflik pun mulai berkurang karena sudah bisa mengontrol emosi,” katanya.

Sejak 2012, indikasi adanya ketidakberesan Panti Samuel sudah tercium. Salah satunya dengan adanya rujukan dua anak dari KPAI yang kabur dari panti tersebut.

Hasil pemeriksaan Kepolisian, investigasi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Dinas Sosial menunjukkan pengelola Panti Samuel melakukan eksploitasi seksual, penelantaran dan tindak kekerasan terhadap anak asuhnya.

Keterangan Foto : Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait mengevakuasi anak-anak dan balita di Panti Asuhan The Samuels Home, Gading Serpong Sektor 6, Blok GC, Kabupaten Tangerang, Banten, Senin, 24 Februari 2014. Sebanyak 12 dari 32 anak-anak dan balita dievakuasi oleh Komnas PA karena menerima adanya laporan dugaan penganiayaan dan penelantaran anak di panti asuhan tersebut/TEMPO/STR/Marifka Wahyu Hidayat.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.