An Eye for an Eye

Ayat bacaan: 1 Petrus 2:15
======================
“Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh.”

mata ganti mataAn eye for an eye, mata ganti mata, itu merupakan sebuah hukum yang berlaku di masa Perjanjian Lama sesuai dengan hukum Taurat. Kita bisa menjumpai perihal mata ganti mata ini dalam beberapa bagian kitab Perjanjian Lama, diantaranya dalam Imamat 24:19-20, Ulangan 19:21 dan Keluaran 21:24. Ini adalah hukum yang diberlakukan untuk mencegah semangat balas dendam yang berlebihan di masa itu. Hukum yang sudah berusia sangat tua ini ternyata masih dianggap relevan oleh banyak orang bahkan hingga hari ini. Prinsip balas dendam ini berlaku bukan saja untuk perorangan, tapi seringkali sudah menyangkut lintas bangsa. Berbagai peperangan pun acap kali disebabkan oleh prinsip mata ganti mata seperti ini. Bukan saja dilakukan oleh orang-orang dunia, tetapi ironisnya di kalangan anak Tuhan sekalipun prinsip balas dendam ini masih saja terjadi. Ketika kita disakiti, kita pun tidak akan tinggal diam untuk membalas, malah kalau bisa lebih sakit lagi. “Saya bisa lebih baik 100x lipat jika orang baik pada saya, tapi sebaliknya jika saya disakiti orang, saya bisa menyakitinya 1000x lipat dari itu.” kata seorang teman menyatakan prinsipnya.

Ketika kita merasa dikecam, dipersulit, dipermalukan atau dihujat orang, tindakan manusiawi kita biasanya adalah membalas kembali. Jika tidak, artinya kita menyerah kalah dan akan semakin dipijak-pijak. Itu pola pikir dunia yang sudah dianggap sebagai sesuatu yang wajar oleh banyak orang. Padahal jika dipikir lagi, apa yang bisa kita dapatkan dari balas dendam seperti itu? Kepuasan? Biasanya tidak, karena masalah puas dan tidak itu sangat subjektif dan begitu semu. We tend to fight fire with fire. “Itu yang adil, bukan?” demikian isi pikiran kita. Yang sering terjadi adalah, kita hanya akan menambah masalah, menambah bahan bakar pada api yang sudah menyala. Api akan semakin besar, dan pada akhirnya kita tidak lagi bisa meredamnya. Kehancuran suatu generasi atau bangsa pun bisa menjadi akibat dari pola pikir balas dendam seperti ini.

Firman Tuhan hadir lewat Petrus. “Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh. (1 Petrus 2:15). Tuhan ternyata mengingatkan kita untuk melawan kecaman dan serangan dari orang lain bukan dengan membalas, melainkan lewat perbuatan baik. When the fire starts, somebody has to stop it, bukan malah dengan menambah bara api untuk semakin menjadi-jadi. Dengan cara apa? Sekali lagi, dengan tetap berbuat baik bahkan terus mendoakan mereka dan memohon pengampunan bagi mereka. Dengan cara demikian, kita akan mampu membungkam kepicikan mereka yang telah menyakiti kita. Itu tugas kita, orang-orang percaya, seperti yang diajarkan Tuhan Yesus sendiri.

Yesus datang membawa pesan akan sebuah paradigma baru. Yesus memulainya dengan menyitir hukum Taurat mengenai mata ganti mata di atas. “Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” (Matius 5:38-39). Terlihat sulit bukan? Yesus melanjutkan pula dengan ini: “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. (ay 43-44). Sulit, namun kita harus mampu mencapai tingkatan seperti itu, “karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga..” (ay 45).

Salah satu tugas Kristus turun ke dunia ini adalah untuk menggenapi hukum Taurat. (Matius 5:17). Sebagai orang percaya, kita pun diharuskan untuk menjalankan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Berhadapan dengan orang sulit? Orang yang menghujat, mengecam, menjelek-jelekkan kita? Hadapi bukan lagi dengan membalas, mendebat mreka kembali, bukan dengan membela diri kita dengan segala cara, melainkan dengan berdiam diri dan terus melakukan perbuatan baik. Lawan kebencian dengan kasih, yang telah dianugerahkan Tuhan secara langsung dalam diri kita. Itulah yang menjadi kehendak Allah. Tuhan Yesus sendiri telah memberi teladan secara langsung. Dalam perjalananNya di muka bumi ini bukan hanya sekali dua kali Yesus menghadapi kecaman oleh kalangan rohaniwan di masa itu, tapi Dia tidak pernah membalas dengan perlawanan kembali. Sebagai gantinya, Kisah Para Rasul 10:38 memberikan kesaksian indah mengenai apa yang diperbuat Yesus menghadapi itu semua. “..tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia.” Secara konsisten Yesus terus fokus untuk menjalankan tugas yang digariskan Bapa. Bahkan ketika menghadapi siksaan mengerikan hingga wafatNya di atas kayu salib sekalipun. Bukankah Yesus masih memohonkan pengampunan kepada orang-orang yang telah begitu kejam menyiksaNya? “Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23:34).

Don’t fight fire with fire, but fight it with love. Jangan lawan kobaran api dengan menambah bahan bakar, tetapi padamkanlah dengan kasih. Tuhan tidak menginginkan kebencian apalagi sampai pembalasan dendam untuk menjadi prinsip hidup kita. Tuhan menginginkan kita untuk bisa hidup damai dengan semua orang, termasuk dengan orang-orang yang sulit dan kerap menyakiti kita. “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” (Roma 12:18). Jangan tergoda untuk membalas perbuatan jahat orang lain terhadap diri kita, tetapi ikutilah petunjuk dalam surat Paulus untuk Timotius. “Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu.” (2 Timotius 3:14). Bungkamlah kecaman picik dengan terus berbuat baik dan teruslah hidup dalam iman. Maka pada suatu saat, ketika semua kecaman itu memudar, kita akan mendapatkan diri kita tetap berdiri teguh tanpa harus kehilangan sukacita.

Don’t fight fire with fire, but fight it with love

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.