An Eye for an Eye (1)

Ayat bacaan: Amsal 10:12
======================
“Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran.”

“An eye for an eye.” Mata ganti mata. Itu beberapa kali dijadikan tema di film-film dan masih dijalankan oleh banyak orang hari ini. Kalau disakiti, kita harus sakiti lagi orangnya. Kalau diserang, kita serang balik. Kalau dirugikan, rugikan lagi. Pendeknya kalau kita dirugikan, kita harus segera membalas, minimal pikiran di setel dulu ke arah sana. Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam hidup kita akan terus berhadapan dengan orang-orang yang mengecewakan, merugikan atau bahkan menyakiti kita. Bisa jadi mereka membuat kita menderita hingga waktu yang lama. Dan kita pun sering didorong oleh pola pikir dunia sejak kecil untuk bersikap tergantung dari reaksi yang kita peroleh dari orang lain. Apakah kita berbuat baik atau jahat, itu tergantung dari sikap orang yang kita hadapi. Bukankah itu yang tertanam di kepala kita?

Apakah seperti itu yang harus kita lakukan? Bagaimana cara kita menghadapi orang-orang yang berlaku tidak benar sehingga membuat kita susah? Apakah perbuatan baik memang harus dilakukan dalam bentuk berbalas pantun, yang artinya tergantung dari bagaimana seseorang itu menurut kita?

An eye for an eye, sebuah mata untuk sebuah mata alias mata ganti mata merupakan salah satu hukum yang tertulis dalam hukum Taurat. Kita bisa menjumpai hal tersebut dalam beberapa bagian kitab Perjanjian Lama seperti dalam Imamat 24:19-20, Ulangan 19:21 dan Keluaran 21:24. Hukum ini diberlakukan dengan tujuan untuk mencegah semangat balas dendam yang berlebihan yang sering terjadi saat itu. Hukum yang sudah berusia sangat tua ini ternyata masih dianggap relevan oleh banyak orang sampai saat ini, dan malah diarahkan kepada prinsip balas dendam. Prinsip ini berlaku bukan saja untuk perorangan, tapi seringkali sudah menyangkut lintas suku, kepercayaan, lingkungan warga bahkan bangsa dan negara. Lihatlah bahwa peperangan kerap kali terjadi disebabkan oleh prinsip mata ganti mata alias balas membalas. Perang antar etnis, antar penganut kepercayaan, antar warga dan kelompok-kelompok tertentu. Kalau perbuatan menyentuh tindak pidana dan ditangkap, dengan mudah pelakunya akan berkata bahwa bukan dia yang memulai tapi dia hanya membalas. Apakah membalas itu dibenarkan? Secara hukum saja itu tidak dibenarkan. Tapi pada kenyataannya masih banyak yang menganut prinsip ini dalam hidupnya. Yang sangat disayangkan, sikap ini bukan saja dilakukan oleh orang-orang dunia, tetapi juga dilakukan oleh mereka yang mengaku percaya pada Kristus.

Ketika kita merasa dikecam, dipersulit, dipermalukan atau dihujat orang, kita menganggap wajar atau manusiawi kalau membalas kembali. Jika tidak, artinya kita menyerah kalah dan akan semakin dipijak-pijak. Kita meletakkan harga diri disana. Apalagi kalau sudah menyusahkan, merugikan, melukai dan membuat kita menderita. Wah, kalau bisa balasannya lebih lagi baru puas. Padahal jika dipikir lagi, apa yang bisa kita dapatkan dari balas dendam seperti itu? Kepuasan? Biasanya tidak, karena masalah puas dan tidak itu sangat subjektif dan begitu semu. Kecenderungan kita adalah membalas, bahkan kalau bisa lebih parah dari apa yang diperbuat orang. Simply put, we try to fight fire with fire. Ibarat bertemu dengan rumah terbakar, kita bukannya menyiramkan air supaya padam tetapi malah menambah lebih banyak api lagi agar tersulut disana. Aneh? Tapi itulah yang dianggap banyak orang sebagai keadilan. Orang yang diam saja berarti kalau bukan pengecut ya bodoh. Padahal yang sering terjadi kalau kita melakukan balas-membalas, kita hanya akan menambah masalah, menambah bahan bakar pada api yang sudah menyala. Api akan semakin besar, dan pada akhirnya kita tidak lagi bisa memadamkannya. Kehancuran bukan hanya antar pribadi atau individu, tetapi bisa menyentuh suatu generasi atau bangsa. Sejarah sudah membuktikan itu.

Bagaimana pandangan Firman Tuhan akan hal ini? Lewat Petrus dikatakan: “Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh.” (1 Petrus 2:15). Tuhan ternyata mengingatkan kita untuk melawan kecaman atau serangan dari orang lain bukan dengan membalas, melainkan lewat perbuatan baik. When the fire starts, we have to stop it. Bukan malah dengan menambah bara api untuk semakin menjadi-jadi tapi memadamkannya. Dengan cara apa? Dengan cara tetap berbuat baik bahkan terus mendoakan mereka dan memohon pengampunan bagi mereka. Seperti itulah yang seharusnya dilakukan orang percaya, dan dengan cara demikian kita akan mampu membungkam kepicikan mereka yang telah menyakiti kita.

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.