Alm Kardinal CM Martini SJ: Gereja Katolik Ketinggalan Zaman, Mundur 200 Tahun ke Belakang (3)

BEBERAPA hari sebelum wafatnya, Pater Georg Sporschill SJ – konfater Kardinal Martini di Kolese Aloisianum Gallarate, sempat ngobrol-ngobrol dengan Kardinal Martini mengenai issue Gereja terkini. Pada 8 Agustus 2012, di sela-sela perawatannya, Pater Georg ditemani Federica Radice, mengadakan wawancara dengan Kardinal Martini.

Wawancara yang dilakukan pada malam hari ini, dipublikasikan lengkap oleh Koran Milano Corriere della Sera  edisi Sabtu 1 September 2012. Wawancara yang dipublikasikan Corriere della Sera  ini sempat menghebohkan, setelah dikutip New York Times, Le Monde dan masih banyak koran besar berwibawa lainnya  dengan judul besar “Gereja Katolik Ketinggalan 200 tahun”. Gereja sudah 200 tahun out of date!

Sebelum dipublikasikan, Kardinal Martini membaca sendiri teks yang ditulis oleh Pater Georg Sporschill SJ ini dan memberikan persetujuannya. Berikut saya terjemahkan teks itu dari bahasa Itali yang dipublikasikan oleh Corriere della Sera.

Bagaimana Bapak Kardinal memandang keadaan Gereja kita sekarang ini?

Gereja kita sudah capek dan lelah, di benua yang makmur seperti Eropa dan Amerika ini. Budaya kita tambah tua. Gedung gereja kita besar-besar. Biara-biara kosong. Aparat birokrasinya kelewat besar. Liturgi, upacara dan pakaiannya tak lagi bermakna, tinggal kata-kata kosong. Itulah kenyataan yang kita alami dan mesti kita terima sekarang ini. Kemakmuran ternyata memberi beban. Kita berada dalam dilema yang dialami anak muda kaya dalam Injil: yang pergi dengan sedih dan tidak bersedia menjadi murid Tuhan karena hartanya banyak.

Saya tahu, kita tidak bisa menghadapi kenyataan seperti itu dengan mudah. Tetapi kurang lebih, kita masih bisa menemukan orang-orang yang berhati bebas dan mudah peduli dengan orang lain. Seperti Uskup Romero dan para martir Jesuit di El Salvador. Saya bertanya: “Dimana sekarang ini, kita bisa menemukan para pahlawan yang bisa memberi inspirasi kepada kita?” Jangan-jangan, kita ini terlalu terbelenggu oleh lembaga kita sendiri.

Kalau begitu, lalu siapa yang bisa menolong Gereja kita sekarang ini ?

Teolog besar Alm. Pater Karl Rahner SJ pernah memberi perumpamaan tentang bara api yang tertutup oleh abu. Saya melihat, Gereja kita itu seperti bara api yang terlalu sering tertutup abu sehingga kehilangan fungsinya.

Bagaimana kita bisa membebaskan diri dari abu itu, sehingga api cinta kasih itu semakin berpijar?

Yang pertama, kita mesti menemukan kembali bara api itu. Dimana bisa kita temukan kembali orang-orang yang murah hati seperti orang Samaria itu? Bagaimana kita bisa memiliki iman yang teguh seperti serdadu Roma itu? (Yang pernah mengatakan: “Ya Tuhan, saya tidak pantas Tuhan datang pada saya. Tetapi bersabdalah saja maka hamba saya pasti sembuh” – catatan pribadi saya).

Dimana ada orang-orang beriman seperti Maria Magdalena? Saya pernah mengusulkan kepada Paus dan para Uskup untuk mencari 12 “rasul” di luar yang sekarang ada, untuk menempati posisi-posisi kunci yang mengarahkan. Kita membutuhkan orang-orang yang berani, sehingga Roh Kudus lebih bisa leluasa bergerak kemana-mana. (Bersambung)

Artikel terkait:

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.