Alarm Hati Nurani (1)

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 23:1
==================================
“Sambil menatap anggota-anggota Mahkamah Agama, Paulus berkata: “Hai saudara-saudaraku, sampai kepada hari ini aku tetap hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah.”

Adakah ‘alarm’ yang bisa berbunyi sebagai peringatan ketika kita mulai melakukan sebuah kesalahan, atau katakanlah ketika kita mulai melenceng keluar dari garis batas yang ditetapkan Tuhan? Dalam hidup ini ada begitu banyak tawaran yang bisa membuat kita tertarik karena terlihat menyenangkan. Jika tidak waspada, maka salah-salah kita  bisa memberi toleransi terhadap dosa dan menganggap itu hanyalah ‘dosa ringan’ yang sepele saja. Kita lupa bahwa dosa tetaplah dosa meski sekecil apapun, dan berbagai keinginan-keinginan yang terlihat sepele itu tetap bisa berujung maut seperti yang sudah disebutkan dalam Yakobus 1:14-15.  Oleh karena itu kita bisa berpikir alangkah baiknya jika kita punya alarm yang akan mengingatkan kita segera sebelum kita mulai melenceng keluar jalur. Apakah ada? Sebenarnya ada. Selain Roh Kudus yang akan selalu mengingatkan kita dalam setiap langkah, selain pagar Firman Tuhan yang akan berfungsi banyak untuk membantu kita menjaga batas-batas perjalanan agar tetap berada dalam koridor yang benar, Tuhan pun sebenarnya telah memberikan sesuatu dalam diri kita yang bisa berfungsi sebagai alarm awal untuk menghindari dosa, sesuatu yang Dia beri dalam hati kita. Kita mengenalnya dengan sebutan hati nurani.

Hati nurani bisa berfungsi sebagai sarana dimana Tuhan bisa berbisik untuk memperingatkan kita ketika kita mulai berpikir untuk melakukan perbuatan yang tidak baik. Seperti apa contohnya? Ada kalanya ketika kita berpikir untuk berbuat sedikit salah itu tidak apa-apa, kita mulai dicekam rasa gelisah, tidak tenang dalam diri kita. Itulah bentuk suara hati nurani yang mengingatkan kita seperti sebuah alarm yang akan membuat kita tersadar akan kesalahan yang hendak atau sudah kita lakukan. Seperti halnya alarm, hati nurani ini pun harus selalu diaktifkan dan dipastikan berfungsi baik, karena jika kita terus mengabaikannya pada suatu ketika hati nurani akan kehilangan fungsinya. Dan jika ini terjadi, inilah awal dari datangnya dosa-dosa dengan eskalasi meningkat hingga kita tidak lagi merasakan apapun ketika melakukan perbuatan yang salah. Semua dosa menjadi terasa biasa saja atau sepele, semakin lama kita semakin tidak peka, dan pada suatu ketika kita menjadi kebal terhadap “sentilan” yang diberikan oleh teguran lewat hati nurani ini.

Mari kita lihat sebuah kisah ketika Paulus ditangkap dan dihadapkan ke depan Mahkamah Agama karena keberaniannya untuk terus secara frontal mewartakan berita keselamatan dari Kerajaan Allah. Dalam Kisah Para Rasul 22 kita membaca kisah penangkapan yang hampir saja membuahkan hukuman cambuk atas diri Paulus. Bahkan ketika ia dihadapkan ke depan Mahkamah Agama, ternyata keberanian Paulus tidak surut sedikitpun. “Sambil menatap anggota-anggota Mahkamah Agama, Paulus berkata: “Hai saudara-saudaraku, sampai kepada hari ini aku tetap hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah.” (Kisah Para Rasul 23:1). Paulus memilih untuk mendengar , mematuhi dan melakukan apa yang ia dengar dari hati nuraninya yang murni. Dia menyadari bahwa Tuhan akan terus berbicara melalui hati nurani di dalam dirinya, dan ia memilih untuk mengikuti dan bukan mengabaikannya, no matter what or how. Dengan tegas pun Paulus menyatakannya di depan para penuduhnya, dan itu membuahkan sebuah tamparan keras ke mulutnya (ay 2). Tetapi Paulus tidak bergeming. Ia malah dengan lantang berkata “Allah akan menampar engkau, hai tembok yang dikapur putih-putih! Engkau duduk di sini untuk menghakimi aku menurut hukum Taurat, namun engkau melanggar hukum Taurat oleh perintahmu untuk menampar aku.” (ay 3). Pada akhirnya kita bisa melihat bagaimana hati nurani para orang Farisi dan Saduki disana saling menghakimi diri mereka. Mereka pun mulai bertengkar karena ada yang merasakan suara hati nurani mereka mengatakan bahwa Paulus tidak bersalah tetapi sebagian lagi ternyata mengabaikan seruan itu. Kisah ini memberi gambaran bagaimana hati nurani bekerja, lalu tergantung kita untuk menyikapinya, apakah kita memilih untuk mendengar atau mengabaikannya.
(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.