Akhirnya Mgr. William Lynn Benar-benar akan Masuk Penjara: Kasus Pertama di Gereja Katolik AS (2)

LALU apa reaksi Mgr. William Lynn (61) atas tuduhan yang menyebutnya tidak bertanggungjawab? Apa jawaban Sang Monsinyur ketika sidang pengadilan hari Kamis (26/7) ini sampai mendakwanya sebagai pihak yang telah lalai dan bersikap tak acuh atas komplen umat katolik terhadap perilaku bejat para pastur yang berkelakukan seksual secara menyimpang?

“Sejujurnya, saya tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan sampai menimpa (pastur) Avery. Senyatanya, apa yang mestinya bisa saya lakukan ternyata tidak saya lakukan guna menghentikan percabulan itu,” kata Sang Monsinyur dengan tabah.

“Saya ini juga seorang pastur paroki.  Sudah semestinya, saya akan berlaku seperti ini (yakni tidak banyak bicara),” tambahnya.

Meski Mgr. Lynn sangat mungkin masuk penjara atas ‘kelalaiannya’ itu, namun para pengacaranya menyatakan ingin berjuang sekuat tenaga agar tuduhan atas tindakan ‘pembiaran’ itu gagal demi hukum. Kalau pun tidak berhasil, mereka mencari opsi lain agar Mgr. Lynn tidak sampai masuk hotel prodeo, tapi –sesuai hukum positif di Negeri Bagian Philadelphia—yang bersangkutan bisa melakukan kerja sosial sebagai ‘silih’ atas perbuatannya melawan hukum.

Sengaja dikorbankan?
Mengapa  Keuskupan Agung Philadelphia terkesan “tutup mulut” terhadap kasus besar yang membelit mantan pastur Avery hingga kemudian merembet ke Mgr. Lynn? Laporan berita di berbagai media terbitan AS menyebutkan, Mgr. Lynn bisa jadi telah ‘pasang badan’ atau malah sengaja dikorbankan untuk melindungi Uskup Agung Philadelphia Kardinal Anthony Bevilacqua sebagai pemimpin tertinggi umat katolik dan hirarki Diosis Philadelphia.

Mengapa tuduhan seperti itu sampai muncul? Laporan berita  yang kritis terhadap hirarki Gereja menyebutkan, itu karena Kardinal telah sengaja menghilangkan barang bukti berupa surat-surat berisi komplen umat katolik atas perilaku amoral pastur. Dan sebagai bawahan yang harus tunduk pada ‘perintah’ Uskup Agung, Mgr. Lynn tak bisa tidak terpaksa mengikuti kemauan sang bos.

Tahu tapi tidak mau

Oleh jaksa penuntut dan kemudian diyakini dewan hakim sebagai tindakan ‘pembiaran’, maka sikap ‘diam’ Mgr. Lynn itu lalu terkena pasal pelanggaran hukum. Diam di sini bukan berarti emas, melainkan diam justru menjerumuskan anak-anak menjadi korban amoral para pastur.

“Monsinyur, Anda tentu tahu mana yang benar dan mana yang tidak. Namun, Anda telah memilih yang salah (dengan banyak diam, tak acuh mendiamkan seakan tidak pernah terjadi apa-apa),” kata Hakim Sarmina dalam persidangan di Philadelphia, Kamis siang ini.

Bulan lalu, Mgr. Lynn juga duduk di kursi pesakitan ketika pengadilan menggelar perkara kejahatan seksual yang dilakukan oleh Pastur James Brennan.

Yang membuat pengadilan menjadi gerah adalah keputusan Mgr. Lynn yang ketika dilapori umat tentang kejahatan seksual Pastur Avery malah menyebut kasusnya bukan soal seksual, melainkan tindakan akibat efek alkohol. Padahal sudah pada tahun 1992, seorang dokter menyampaikan keluhan itu karena telah diperlakukan cabul oleh Avery, namun jawaban Mgr. Lynn kurang lebih sama: Romo Avery kena pengaruh efek minum alkohol berlebihan.

Yang membuat para jaksa penuntut juga geram adalah tindakan Mgr. Lynn yang sengaja bertahun-tahun menutup ketat identitas para pastur amoral. “Setelah bertahun-tahun menyimpan ketat rahasia para romo bejat itu, maka kini giliran beliau akan dikurung menjauhi kotak rahasia dimana ia telah menyimpan daftar hitam para pastur amoral itu,” ungkap Jaksa Seth William dari Kantor Kejaksaan setempat.

Kasus perbuatan amoral para pastur Amerika hingga kemudian menyeret Mgr. Lynn pada jalan lempeng menuju hotel prodeo ini bukan yang terakhir. 

Bulan depan, Uskup Robert Finn dan Diosis Kansas City juga akan diseret ke meja hijau guna mendengarkan gelar perkara atas praktik seksual fedofilia yang pernah dilakukan para pastor di Keuskupan Kansas City terhadap sejumlah anak.

Para aktivis gerakan perlindungan anak-anak dari kejahatan fedolia menyambut positif sidang dengan terdakwa Mgr. Lynn dan nanti juga Mgr. Robert Finn ini. Menurut Barbara Blaine –pendiri Survivors Network of Those Abused by Priests, langkah hakim menyeret kasus ini ke ranah hukum dan menyidangkan Mgr. Lynn adalah tindakan bagus guna menimbulkan efek jera.

Namun Blaine juga memuji keputusan pengadilan yang tidak memberi hukuman tambahan berupa  special treatment kepada Mgr. Lynn justru karena dia masih seorang pastur.  (Selesai

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.