Akhirnya, Mgr. William Lynn Benar-benar akan Masuk Penjara (1)

HIDUP di balik jeruji besi selama kurang lebih 3-6 tahun menjadi ujung dari sebuah kontroversi panjang di Negara Bagian Philadelphia, AS, ketika pejabat tinggi gerejani di Keuskupan Agung Philadelphia kena tuduhan tidak ringan. Mgr. William Lynn –mantan orang penting di jajaran Kuria Diosis Philadelphia—terancam harus segera masuk hotel prodeo kurun waktu 3-6 tahun jika akhirnya ia memang terbukti bersalah. 

Menurut pengadilan setempat, ‘kejahatan’ yang dilakukan Mgr. Lynn (61) sebenarnya merupakan efek domino dari serangkaian kasus kejahatan seksual menyimpang yang dilakukan para pastur di Diosis Philadelphia. Sebagai pejabat Gereja Diosis Philadelphia, posisi Sang Monsinyur berada di pucuk dilema.

Jujur atau blak-blakan

Oleh hukum positif yang berlaku di AS, tidak mau ‘berterus-terang’ sama artinya menyembunyikan ‘kejahatan seksual’ yang pernah dilakukan para pastur. Ketidakmauan Sang Monsinyur mengobral cerita akan bisa berujung pada keputusan Hakim M. Teresa M. Sarmina yang dengan gamblang telah menuduh mantan Sekretaris Keuskupan Agung Philadelphia ini sebagai orang yang “tidak bertanggungjawab”. 

Padahal, yang melakukan kejahatan seksual secara menyimpang fedofil –berbuat cabul dengan korban anak-anak di bawah umur—bukan Sang Monsinyur; melainkan seorang romo- yang secara organisatoris masuk dan tunduk dalam jajaran administrasi Keuskupan Agung Philadelphia.  Nama romo tertuduh adalah Edward Avery yang kini sudah diputus hakim harus meringkuk di balik jeruji besi selama 2,5-5 tahun atas tindakan seksualnya membujuk seorang misdinar untuk ‘berbuat tidak senonoh’ dengannya. 

Tindakan amoral Avery terhadap seorang bocah misdinar itu sendiri sudah terjadi pada tahun 1999. 

Lalu, pertanyaan kita: dalam hal apa, tuduhan atas ‘kejahatan’ Sang Monsinyur itu hingga bisa dikenai pasal-pasal yang berujung pada kesimpulan dia telah melakukan pelanggaran hukum? Para jaksa penuntut dan dewan panitera melihat delik penting ini yakni karena Sang Monsinyur tidak serius merespon puluhan keluhan yang disampaikan umat perihal tindak-tanduk amoral yang pernah dilakukan para pastur dengan korban anak-anak. 

Dan kejahatan seksual para pastur itu –sambungnya—terjadi pada kurun waktu sangat lama yakni sepanjang tahun 1992-2004. Atas banyaknya keluhan umat tersebut, Diosis Philadelphia cenderung tak acuh, bersikap diam seakan tak peduli atas tuduhan miring itu. 

Nah, sebagai orang penting yang diberi wewenang oleh  Uskup Agung Philadelphia untuk boleh menarik, memindahtugaskan satu pastur dari satu tempat ke tempat tugas yang lain –semacam kewenangan melakukan  tour of duty— ternyata Mgr. Lynn tidak berbuat yang semestinya. Katakanlah, segera mencopot (pastur) Avery dari tempatnya bertugas dan kemudian menjatuhkan hukuman suspensi alias melarang dia melakukan fungsi imamatnya antara lain memimpin perayaan ekaristi secara publik dan melayani sakramen.

 Kealfaan inilah yang ditohok para jaksa ketika harus menyebut ‘kesalahan’  Sang Monsinyur.  Susahnya lagi, dewan hakim yang mengadili perkara ini –seperti kata Hakim Sarmina–  “Karena Anda terkesan telah sengaja membiarkan pastur bejat itu punya kesempatan lanjut untuk merusak jiwa anak-anak.” 

Sarmina juga tak rikuh menyebut Mgr. Lynn sebagai orang yang telah berhasil berbuat ‘banyak kebaikan’, namun sekaligus juga telah banyak gagal ‘menghambat kejahatan’. Padahal, kata Hakim Sarmina, karir religius yang pernah dilakoni Mgr. Lynn bukan waktu pendek, melainkan sudah 36 tahun dan itu pun berjalan seakan ‘tanpa cela’. (Bersambung

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.