“Aisyah, Biarkan Kami bersaudara”, Pelajaran Indah tentang Makna Toleransi Beriman

APA artinya menjadi seorang guru atau pengajar di zaman ini?  Film anyar  Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara adalah renungan cukup mendalam tentang panggilan seorang guru.

Ber-guru

Lewat tokoh Aisyah (Laudya Cynthia Bella), para penonton akan melihat pergulatan seorang guru muda apakah mencari rezeki atau pemberian diri untuk bangsa?  Tegangan antara soal ekonomi dengan nasionalisme dihadirkan dalam sosok yang masih muda, bau kencur, dan hijau dalam pengalaman mendidik.

Aisyah mewarisi pesan ayahnya untuk menjadi guru yang membagikan ilmu.  Ternyata, ia mendapat panggilan kerja di Atambua. Ia dengan antusias menuju Timor, NTT.  Kemudian setelah melewati perjalanan yang menegangkan, tibalah ia di Dusun Derok, Kabupaten Timor Tengah Utara yang dikenal oleh orang setempat dengan TTU.

Perjalanan menuju tempat tugas guru ini pun sudah berbicara banyak.

Pertama, Aisyah harus meninggalkan ibunya (Lydia Kandou) yang begitu protektif dan sayang padanya.Kedua, ia ditransfer dari daerah hijau berlimpah air ke daerah kering yang sulit mendapatkan air bersih.Ketiga, ia harus meninggalkan tempat yang nyaman dengan fasilitas komunikasi dan transportasi ke wilayah Indonesia yang masih terbatas dengan fasilitas tersebut.Keempat, Aisyah berpindah dari lingkungan Islam ke lingkungan Katolik.

Apakah panggilan macam ini masih menjadi idaman banyak guru di zaman ini?

Aisyah menawarkan sosok guru yang ber-adventure dan adaptable dalam dunia baru.  Maka panggilan Aisyah untuk bertugas ke sebuah sekolah di dusun Derok sebenarnya potret radikal tentang impian guru sejati.  Menjadi guru berarti “merasul” datang ke tempat-tempat dimana anak-anak bangsa membutuhkan pendidikan dan mengajar bagaimana mereka harus hidup dengan menggunakan akal budi secara benar.

Ber-agama

Hal lain yang diangkat dalam film yang melibatkan Ge Pamungkas, Dionisius Rivaldo Moruk, dan Ari Keriting ini menyuguhkan proses adaptasi dua keyakinan untuk hidup bertetangga.  Sangat mencolok bahwa pakaian dan simbol keagamaan bukan menjadi tembok pemisah karena hati dan kebaikan berbicara.

Dalam film ini, dialog keagamaan tidak terjadi pada level teologi tetapi level praksis.  Murid Aisyah yang jumlahnya hanya sebanyak jari tangan itu sempat disusupi oleh sikap antipati terhadap agama lain.  \Sikap antipati umumnya lahir dari ketidaktahuan akan pengetahuan yang objektif.  Jelas sekali kalau ketidaktahuan dapat menyebabkan kesalahpahaman.  Walau demikian, terkadang penjelasan verbal pun kurang banyak berarti.  \Maka benar bahwa tindakan itu lebih banyak berbicara ketimbang kata-kata.

Justru lewat usaha untuk hidup dan bertahan di lingkungan yang 100% berbeda dari lingkungan ia bertumbuh sebelumnya, Aisyah menunjukkan esensi suatu agama dari perspektif seorang yang hidup dalam dunia plural.  Agama itu menuntun seseorang untuk semakin inklusif dan menebarkan kebaikan.

Apakah ini karena Aisyah adalah minoritas di Atambua maka ia berbaikan dengan orang-orang Katolik?  Banyak pertanyaan kritis dapat dilontarkan namun pertanyaan bukan hal solutif untuk mengatasi antipati.

Film ini tidak ingin terjebak dengan konsep tentang agama dan iman yang berbeda maka film ini lebih memilih untuk memutar adegan-adegan riil yang menyentuh level praksis.  Lihatlah adegan warga menyediakan mie instant agar Aisyah tidak menyantap makanan yang dilarang di agamanya; Aisyah membawa muridnya ke rumah sakit untuk pengobatan;  ibu-ibu di dusun Derok mengumpulkan uang agar Aisyah bisa pulang untuk merayakan Lebaran, dsb.

Tindakan riil ternyata sangat berguna dalam membangun hidup sebagai satu keluarga besar umat beriman di muka bumi.

Masih terdapat aneka pelajaran yang diberikan oleh Aisyah dalam film ini. Silahkan menikmatinya.

avatar Imam SCJ; usai studi Ilmu Pastoral di EAPI, Ateneo de Manila, sekarang tugas di Rumah Pembinaan Pondok Kristopel di Jambi.

Sumber: Sesawi.net

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.