Air untuk Raya

Michelle-1

Kita tidak mewarisi bumi ini dari nenek moyang kita.

Kita meminjamnya dari anak cucu kita

Maka kembalikanlah secara utuh….

“Tiada Syukur Tanpa Peduli”.

Ya, slogan tersebut kerap kali didengungkan kepada kita selama masa Prapaskah 2015 ini, baik di dalam kotbah Gereja maupun dalam setiap renungan harian yang kita baca. Dalam merayakan Tahun Syukur 2015, Keuskupan Agung Jakarta mengajak semua umat Kristiani untuk melakukan perenungan diri dan mewujudkan rasa syukur melalui hati yang peka, tangan yang peduli dan mata yang melihat kepada sesama yang kekurangan.

Hendaknya kita siap untuk diutus dalam pelayanan, dipecah-pecah dan dibagi-bagikan, seperti Roti Ekaristi yang menjadi berkat bagi mereka yang menerimanya. Karena itulah, Kebangkitan Yesus Kristus dimaknai melalui persiapan di Masa Prapaskah yang penuh dengan ucapan syukur dan kepekaan batin kepada mereka yang membutuhkan uluran tangan kita.

Bagi saya, kepedulian yang terbentuk tak hanya ditunjukan kepada sesama manusia, melainkan turut dipersembahkan kepada lingkungan yang menjadi griya kita di bumi. Masa Prapaskah tahun ini mengawali keinginan saya untuk menjamah kembali rasa prihatin dan kepekaan terhadap alam yang kian hancur di tangan manusia. Oleh karena itulah, di tahun ini semangat kasih Paskah yang hendak saya bagikan lebih ditunjukan kepada alam melalui aksi kampanye yang saya dan teman-teman lakukan.

Hari Air Sedunia

Dalam rangka memperingati Hari Air Sedunia, Greenpeace Indonesia mengadakan kampanye “Detox My Fashion” yang dilakukan serentak di empat kota besar naungan Greenpeace Youth Indonesia.

Saya dan teman-teman relawan Jakarta mengajak para pengunjung Car Free Day pada hari Minggu, 22 Maret 2015 lalu untuk bersama-sama menghentikan penggunaan bahan kimia beracun dan berbahaya pada produksi pakaian dan produk fashion lainnya.

Lalu, apa hubungannya dengan kebersihan dan kejernihan air?

Selama ini, banyak di antara kita yang tidak mengetahui bahwa baju yang kita pakai atau celana yang kita beli ternyata membawa zat kimia dan bahan-bahan yang bisa merusak kualitas air pada proses produksinya. Limbah hasil pembuatan pakaian yang dibuang begitu saja di sungai-sungai dan daratan nyatanya mampu mencemari dan merusak ekosistem yang ada.

Karena kesadaran itulah detox untuk fashion diusungkan sebagai tema tahun ini, di mana kami menghimbau para industri pakaian dan perusahaan fashion dunia untuk memakai bahan pakaian yang aman dan sehat untuk lingkungan. Fashion adalah dunia yang menawarkan keindahan dan kebahagiaan, jadi sudah sepantasnya fashion terbebas dari bahan kimia berbahaya yang dapat merusak habitat air.

Kampanye yang saya dan teman-teman lakukan terdiri dari empat jenis kegiatan, yakni sosialisasi informasi seputar detox kepada masyarakat, pengadaan photobooth dengan latar Detox My Fashion, peragaan kostum ksatria yang melawan monster jahat karena merusak air dan mannequin-mannequin sebagai bentuk protes, serta pembuatan kain dan kaos bertuliskan Detox My Fashion oleh pengunjung dengan teknik cukil.

Saya sendiri membantu para masyarakat yang hendak mencoba teknik cukil pada kain ataupun baju polos yang di bawanya, sembari menjelaskan bahwa tinta yang dipakai bersifat organik dan kain terbuat dari serat bambu yang aman. Selama tiga jam, kami berfokus untuk menyebarluaskan harapan dari Greenpeace, organisasi lingkungan lainnya, serta 18 perusahaan pakaian dunia yang telah bergabung dengan Detox akan fashion yang indah, bersih dan aman untuk lingkungan. Sehingga setelah mengetahuinya, masyarakat bisa lebih berhati-hati dalam membeli pakaian yang industrinya belum menerapkan Detox sebagai solusi utama.

Ketersediaan air yang bersih dan sehat menjadi hal yang mutlak untuk kehidupan manusia. Air bukan hanya milik segelintir orang. Air tidak hanya untuk kepentingan industri besar atau demi keberlangsungan kelompok tertentu. Keberadaan air bukan menjadi wadah limbah yang bisa dimanfaatkan sewaktu-waktu atau dicemari kapan saja.

Air adalah untuk Raya, untuk semua orang di mana pun mereka tinggal, dimana pun mereka membutuhkannya. Air milik setiap insan, setiap jagat dan setiap alam. Sudah seharusnya kita peduli kepada air, mulai dari hal-hal kecil seperti membeli merk pakaian yang telah bekerjasama dengan Greenpeace untuk fashion yang lebih baik. Karena kalo bukan dari kita sendiri, lalu siapa?

Melalui aksi yang saya lakukan bersama teman-teman Greenpeace Indonesia dan dunia, saya bersyukur dapat menjadi bagian dari agen perubahan yang turut serta mensosialisasikan dan mengajak masyarakat luas tentang kepedulian akan keselamatan air. Sudah selayaknya kita bersyukur dengan pemberian-Nya akan alam dan lingkungan, terutama air yang menjadi pemangku kehidupan banyak orang. Dan dari rasa syukur itulah kita dapat membawa perubahan-perubahan kecil yang dapat menjadi hal yang besar untuk saya, kalian, dan kita bersama.

Karena syukur tak terbalaskan jika kita berdiam diri dan tak menengok ke sekeliling.

Syukur hadir ketika empati dan aksi menjadi satu,

menjadi sebuah kasih yang disebar untuk tumbuh dan berkembang.

Air untuk Raya,

semoga syukur kita pada alam senantiasa membuat kita peduli.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN DOKUMENTASI FOTO

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Saya dan beberapa relawan bertugas membantu para pengunjung Car Free Day membuat kain atau kaos bertuliskan “Detox” dan “DetoxMyFashion” dengan teknik cukil menggunakan tinta organik dan kain dari serat bambu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Saya dengan beberapa relawan baru yang berasal dari berbagai universitas dan sekolah yang turut membantu jalannya kampanye Greenpeace di booth.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Saya dan semua kru relawan Greenpeace yang bertugas pada hari Minggu, 22 Maret 2015.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.