Air Muka tak Berseri

Ayat bacaan: Kejadian 4:6-7a
=====================
“Firman TUHAN kepada Kain: “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik?”

Seorang pianis senior tanah air pernah memberikan sebuah tips yang sangat menarik kepada para musisi muda. Katanya: “Senyumlah dan pandang wajah teman-teman dalam satu grup sebelum bermain. Aura positif di atas pentas itu akan sangat mempengaruhi kualitas permainan, karenanya sangat perlu untuk diciptakan.” Ini sebuah pesan yang bagi saya sangat baik. Tidakkah kita akan senang jika bertemu dengan orang-orang yang berwajah cerah dan ramah, lalu memberi senyum kepada kita ketika berpapasan atau bertemu? Suasana seperti itu akan mampu membawa kita menikmati hari dengan senang hati, dan itu akan berdampak baik pada pekerjaan atau aktivitas yang tengah kita lakukan. Disisi lain ada seorang musisi lain yang juga berkata: “Jujur saja, tidak semua orang akan memberi senyum dan menyapa dengan ramah. Sebagian orang bersikap sebagai “bajingan”, baik dari air mukanya maupun perilakunya.” Inipun benar. Kita bertemu dengan orang-orang yang bersikap buruk dengan air muka yang provokatif hampir setiap hari, dan itu sama sekali tidak menyenangkan. Dari mana air muka yang cerah sesungguhnya berasal? Dan adakah dampak negatif yang bisa muncul dari air muka yang keruh tak berseri?

Untuk menjawab kedua hal tersebut kita bisa melihat kisah klasik antara Kain dan Habel. Pada suatu hari mereka berdua mempersembahkan korban persembahan kepada Tuhan. Dalam Kejadian 4:4 dikatakan bahwa Tuhan berkenan (had respect and regard) pada Habel atas persembahannya. Sebaliknya korban persembahan Kain ternyata ditolak. Lalu inilah yang terjadi.“Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram.” (ay 5b). Ketika hati panas, air muka pun berubah menjadi muram. Kita bisa melihat kelanjutannya bahwa Tuhan menyatakan ketidaksukaanNya kepada raut muka seperti ini. “Firman TUHAN kepada Kain: “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik?” (ay 6-7a). Tuhan mengingatkan satu hal, yaitu bahwa raut wajah yang muram akan timbul ketika tidak ada sukacita dalam diri kita, ketika tidak ada kasih Tuhan berkuasa atas kita dan itu akan tergambar lewat berbagai perbuatan baik sebagai cerminan kasih Tuhan yang bekerja dalam diri kita. Ayat 7 selanjutnya menuliskan kelanjutan kata-kata Tuhan berikutnya. Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.” (ay 7b). Air muka yang muram muncul ketika kita kehilangan sukacita dalam hati kita yang diakibatkan oleh perbuatan-perbuatan kita yang tidak baik. Dan ketika itu terjadi, ada dosa yang sudah mengintip di depan pintu dan tengah bersiap-siap untuk menerkam kita. Dan benarlah, ketika Kain mengabaikan peringatan Tuhan, sesuatu yang buruk pun terjadi. Ia membunuh adiknya sendiri dan dengan sendirinya harus menanggung konsekuensinya seumur hidup, bahkan berdampak hingga beberapa keturunan berikutnya. Jadi ada hubungan yang kuat antara apa yang ada dalam hati kita dengan apa yang terpancar keluar lewat air muka kita.

Tuhan sangat peduli terhadap air muka kita.  Dalam salah satu amsal Salomo kita baca “Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat.” (Amsal 15:13). Adalah penting bagi kita untuk memiliki muka yang berseri-seri, dan itu semua berasal dari hati yang gembira, yang bersukacita. Dan seperti yang sudah saya sampaikan dalam banyak kesempatan, hati adalah sumber dari mana kehidupan kita terpancar, termasuk di dalamnya air muka kita. Dan itu tertulis dalam Amsal 4:23 lengkap dengan pesan agar kita senantiasa menjaga hati kita dengan serius dan penuh kewaspadaan. “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Jangan biarkan sumber-sumber buruk masuk ke dalam hati kita, berkuasa di dalamnya dan kemudian menggiring kita ke dalam berbagai penyimpangan. Jika itu terjadi, sukacita akan hilang dari diri kita dan yang terpancar lewat air muka kita pun bukan lagi sesuatu yang menyenangkan dipandang mata.

Kesimpulannya, agar kita bisa memiliki air muka yang menyenangkan, caranya tidak lain adalah dengan terus mengisi hati kita dengan sukacita. Hati yang bersukacita akan memancarkan sinar cerah di wajah kita yang bisa membahagiakan kita dan juga orang lain yang melihatnya. Kalau begitu tidaklah mengherankan bahwa firman Tuhan terus memerintahkan kita untuk setiap saat terus bersukacita dalam situasi dan kondisi apapun. “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (Filipi 4:4). Hati yang bersukacita akan selalu membawa banyak manfaat. Selain membawa pengaruh kepada orang-orang disekitar kita, itu juga akan membuat kita lebih luwes dalam pergaulan, membawa kita bekerja sebaik mungkin bahkan akan bermanfaat pula pada kesehatan kita. Sebaliknya Ketakutan, kebencian, kegelisahan, emosi dan perasaan-perasaan negatif justru menjadi pembunuh mematikan jika terus kita simpan di dalam hati kita. Berbagai jenis penyakit seringkali berawal dari hal-hal negatif yang kita simpan di dalam diri kita. Sejak jauh hari Tuhan pun sudah mengingatkan akan hal ini. “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” (Amsal 17:22).

Tuhan tidak suka kepada orang yang air mukanya muram dan suka bersungut-sungut. Selain teguran Tuhan pada Habel, lihatlah bagaimana kesal dan kecewanya Tuhan melihat bangsa Israel yang terus saja bersungut-sungut meski mereka terus mendapat curahan berkat dan penyertaan Tuhan. Haruskah kita mencontoh perilaku mereka dan terus mengecewakan Tuhan lewat sikap-sikap kita? Apakah baik apabil kita terus membiarkan diri kita menjadi orang yang cepat marah, cepat tersinggung, egois, tidak mau mengerti orang lain dan memasang wajah kaku tak bersahabat? Tuhan sendiri tidak menginginkan hal seperti itu untuk dilakukan anak-anakNya. Kasih Tuhan yang tercurah setiap hari kepada anak-anakNya seharusnya mendatangkan sukacita, dan selanjutnya terpancar lewat raut  muka, sikap dan perilaku yang bersinar terang, dan itu seharusnya dapat dengan mudah dilihat oleh dunia.  Jadilah orang yang ramah, murah senyum, punya sikap bersahabat. Jangan pernah biarkan kesulitan-kesulitan dan tekanan dalam hidup merampas sukacita dalam diri kita dan menghilangkan senyum dari wajah kita. Untuk itu, selalu jaga hati kita supaya tetap bersukacita.

Senyum ramah terpancar dari hati yang bersukacita, dan itu akan membawa banyak manfaat baik bagi diri kita maupun orang lain

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.