Agung Adiprasetyo, Sang Pemetik Matahari

SEMANGAT salah satu CEO terbaik tahun 2009, yang menurut pengakuannya sudah termasuk oversek – alias over seket (umur di atas 50 tahun) itu tidak pernah luntur. Senyumnya tak segan diumbar seiring tawa dan canda. Ruangan sore yang macet itu terasa sejuk bukan hanya karena AC mengalir tanpa hambatan, tetapi suasana ceria menulari segenap yang hadir dalam bedah buku Agung Adiprasetyo, CEO Kelompok Kompas Gramedia (KKG), di PPM Manajemen, Menteng, Jakarta Pusat.

Dua jam tak terasa terbang dengan penuh cerita dan tips bisnis yang ‘enak’ na renyah dicerna.

Kepenatan menerobos rimba kendaraan di Jakarta berganti optimisme dan semangat untuk menerapkan tips dan tricks yang dengan murah hati disharing oleh Agung. Undangan bedah buku biasanya jarang saya penuhi, tetapi yang satu ini dari awal terasa ingin dilakoni walau raga ‘protes’ diajak ke pertemuan demi pertemuan dalam bulan ini.  Apalagi berlokasi di daerah yang agak merepotkan untuk dijangkau maupun untuk pulang ke rumah setelahnya, kecuali dengan kendaraan umum lepas seperti taksi, ojek, atau bajaj. Lagi-lagi, nama besar sang CEO salah perusahaan paling bonafid di Indonesia yang seakan adimagnet untuk dikenal lebih lanjut.

Sekedar buku panduan internal

Buku setebal 208 halaman yang diperbincangkan pada sore cerah tersebut hampir saja tak akan sampai di tangan pembaca di luar karyawan KKG. Agung menceritakan dia menulis kisah-kisah singkat tersebut pertama-tama untuk sebagai panduan bagi karyawan. Tetapi setelah dikompori oleh stafnya bahwa masyarakat luas juga butuh buku tersebut, maka jadilah buku itu sebagai produk kesekian dari Penerbit Kompas.

Agung Adiprasetyo KKG

Pimpinan teras KKG (Kelompok Kompas-Gramedia): CEO Agung Adiprasetyo, Pendiri/Presiden Komisari Jakob Oetama, Vice CEO KKG Lilik Oetama (Courtesy of KKG)

Jumlah halaman juga seharusnya 450, tetapi kekhawatiran bahwa buku setebal itu akan berubah fungsi menjadi sekedar pajangan berdebu yang bisa berdiri sendiri, maka dipecah menjadi 2 jilid. Memetik Matahari merupakan bagian pertamanya. Kapan yang kedua akan muncul? “Setelah jilid pertama ini sudah tidak laku”, demikian seloroh Agung.

Halaman buku dipenuhi ilustrasi berupa karikatur atau pun sekedar quotes yang diperbesar hurufnya. “Format yang bagus penting untuk merayu orang benar-benar membaca, bukan sekedar bangga mengoleksi buku”, demikian argumen Agung.

Judul provokatif

Judul buku tentunya perlu dipilih yang menarik dan lebih baik lagi kalau mampu mencerminkan keseluruhan isinya. Ketika ditanya mengapa dipilih Memetik Matahari, Agung dengan gaya lugasnya menjabarkan tentang keinginannya agar pembaca meletakkan cita-cita setinggi langit seperti kata bijak yang selalu didengungkan ibunya sejak dia kecil. Hanya, kalau judulnya kayak gitu, wah kepanjangan dan tidak catchy. Maka jangan lalu iseng menanyakan kalau matahari dipetik, lalu yang lain bakal binasa karena kedinginan, atau sebaliknya yang metik juga binasa karena kepanasan.

Manajemen ala Indonesia

Beberapa kali Agung mengungkapkan istilah ‘manajemen ala Indonesia’ ketika menjelaskan sistem yang digunakan KKG sekarang. Berawal dari kecermelangan sang pendiri dan pemilik KKG, Jakob Oetama, yang terkenal dengan ketokohan, kesalehan, integritas, dan terlebih lagi humanisme tingkat tinggi, bertransformasi ke manajemen modern plus nilai kemanusiaan. Tongkat pimpinan tertinggi diserahkan Jakob Oetama kepada Agung pada tahun 2006. Agung Adiprasetyo 2jpg

Awal kepemimpinannya menuai banyak kecaman, kritikan dan tentangan dari internal. Perusahaan yang lebih mementingkan welas kasih diyakini Agung tidak akan bertahan lama. Gerbong KKG yang makin sarat diganduli staf yang berdedikasi, sekaligus juga staf yang ‘bermeditasi’ alias numpang duduk dan menikmati saja.

Sistem modern perlu diterapkan, walaupun awalnya itu tidak diamini seratus persen oleh Jakob Oetama yang terkenal dengan kebesaran hatinya dengan tidak pernah memecat karyawan KKG. “Ada dua pilihan bagi saya saat itu”, cerita Agung, “saya nunut gaya Pak Jakob dengan risiko 100% gagal. Atau saya menentukan sistem sendiri dengan peluang keberhasilan 50%.”

Pil pahit yang diyakininya merupakan obat untuk membuat sehat harus tega diminumkan. Penawaran pensiun dini akhirnya menjadi salah satu solusi awal ketika transformasi mulai dijalankan. Tuduhan sebagai orang kejam, melenceng dari nilai asli KKG, dan segepok tudingan negatif lainnya, kenyang didapat oleh Agung saat itu.

Agung Adiprasetyo 1

Diskusi buku Agung Adiprasetyo di LPPM, Jakarta Pusat (Royani Lim)

“Sistem kami tidak disiplin kaku seperti beberapa perusahaan multi nasional terkenal. Komposisi penilaian kinerja kerja terbagi atas 70% pencapaian target dan 30% berupa penilaian nilai/value yang diterapkan seorang karyawan. Ada 5 nilai value yang diharapkan dimiliki seorang karyawan KKG, yaitu memiliki rasa kemanusiaan tinggi, berintegritas, punya prestasi, memiliki daya saing, dan memperhatikan konsumen.

“Tantangan ke depan perlu diterawang sebelum terjadi. Ada tiga hal yang saya lihat: suksesi kepemimpinan, produk yang tua bersama dengan pengasuhnya, dan serangan digital elektronik”, papar Agung.

Semua perlu dipetakan dan dicari penangkal serta solusinya. Berpangku tangan akan beralamat pada pemesanan batu nisan untuk mengistirahatkan suatu produk atau bahkan perusahaan.

Isi dapur KKG yang dikupas Agung sedikit membuat bukan teori-teori muluk yang bertebaran di ruang Lounge Executive PPM. Inspiratif dan membumi, dan jelas lebih memberi ilmu terapan dibanding buku-buku ilmiah tebal yang bisa berdiri. Ini benar booktalk yang bernas dan berjiwa.

 

Loading...

Published by Renungan Iman Katolik

Merenungkan sabda Tuhan di saat hening di pagi hari akan menjaga hati dan pikiran kita dari kuasa roh jahat. Berkah Dalem...

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.