A Perfect Solitude to Connect with God (3)

(sambungan)

Alkitab dengan jelas mencatat perjumpaan mereka dengan Yesus dan mengalami sesuatu disana. Menghadapi begitu banyak orang dengan masalahnya sendiri-sendiri, Yesus dengan sabar melayani mereka satu persatu dan menjawab segala ratapan mereka. Tetapi perhatikan bahwa meski Yesus sibuk dan selalu tergerak atas rasa belas kasihanNya, Dia tetap berusaha pula meluangkan waktu untuk mencari tempat sepi agar bisa berdoa kepada Bapa di Surga. Alkitab mencatat hal itu dengan jelas. Seringkali itu tidak mudah, karena untuk mencari keheningan dan kesunyian Yesus harus rela repot terlebih dahulu untuk naik ke atas bukit. Disanalah Dia bisa mengambil waktu sejenak jauh dari kerumunan dan keramaian untuk bersekutu dengan Bapa.

Kita bisa mendapati contoh yang sama sebelum kisah angin sakal yang menerpa murid-murid Yesus lewat tengah malam. “Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ.” (Matius 14:23). Atau lihat contoh lainnya saat Yesus menarik diri untuk menghabiskan waktu selama empat puluh hari di padang gurun untuk berdoa dan berpuasa, yang bisa kita baca dalam perikop “Pencobaan di padang gurun.” (Matius 4:1-11). Menjelang akhir hidupNya di dunia, kita bisa melihat bahwa Yesus kembali menarik diri dari kerumunan termasuk dari para muridNya untuk berdoa sendirian di taman Getsemani. (Markus 14:32-42). Disana dikatakan “Yesus pergi lebih jauh sedikit lalu tersungkur ke tanah dan berdoa.” (ay 14a:BIS). Semua ini menunjukkan contoh dari Yesus sendiri akan pentingnya ,engambil waktu secara khusus, di sebuah tempat dimana kita bisa dengan khusyuk dan tenang dalam berdoa, merenung dan mendengar Tuhan. Sebuah tempat yang sepi, jauh dari hiruk pikuk yang mampu mengganggu konsentrasi dan fokus kita.

Kalau Yesus butuh itu untuk menuntaskan misi berat yang Dia emban untuk menebus dan menyelamatkan kita, itu artinya mengambil waktu tenang untuk berhubungan dengan Allah tanpa terganggu keriuhan dan orang-orang disekitar kita merupakan hal yang sangat penting. Jika demikian pertanyaan bagi kita selanjutnya adalah, sudahkah kita menyediakan waktu yang cukup untuk berdiam diri bersama Tuhan, atau segala kesibukan pekerjaan, berbagai tugas dinas, rapat, tugas-tugas yang menuntut deadline atau malah saat bermain, beraktivitas sosial atau menikmat berbagai sarana hiburan lewat berbagai media seperti televisi, majalah, koran dan radio masih menjadi penghalang terbesar bagi kita untuk membangun saat-saat teduh, berdoa dan bersekutu intim dengan Tuhan?

Kita tidak perlu naik jauh ke atas bukit untuk memperoleh itu, kita tidak perlu melakukan perjalanan jauh ke tengah gurun untuk itu. It’s just a matter of taking a step into our own room and finding a quiet time, as simple as that. Kata Yesus, kamar kita bisa menjadi tempat yang sangat baik untuk itu. Kalaupun ada orang-orang yang berbagi ruangan dengan kita, pasti selalu ada saat yang bisa kita cari untuk itu.

Pada akhirnya masalahnya hanya terletak pada kemauan untuk menyadari pentingnya menyediakan waktu untuk berdiam diri bersama Tuhan. Ambillah saat teduh yang khusus. Tidak masalah subuh, siang, sore atau malam, atau kalau anda terganggu dengan keadaan yang terlalu sunyi, anda bisa ditemani lagu-lagu penyembahan yang diputar pelan. Pendeknya jangan sampai ada yang memecah konsentrasi kita saat berada di dalam hadiratNya yang kudus. Rasakanlah bagaimana jiwa kita dikuatkan dan iman kita bertumbuh ketika kita menarik diri sejenak dari keramaian dan rutinitas sehari-hari untuk membangun hubungan yang sangat erat dengan Tuhan.

Jangan abaikan pentingnya mengambil waktu khusus tanpa terganggu oleh apapun untuk membangun hubungan berkualitas dengan Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.