9 Juni – 1Raj 18: 20-39; Mat 5:17-19

Aku datang bukan untuk meniadakannya melainkan untuk menggenapinya.”

(1Raj 18: 20-39; Mat 5:17-19)

 

"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga” (Mat 5:17-19), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Keunggulan hidup beriman atau beragama adalah dalam pelaksanaan atau penghayatan, bukan dalam teori, aturan atau omongan, sebagaimana disabdakan dan dihayati oleh Yesus bahwa “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya”. Maka marilah kita lebih mengutamakan menjadi pelaksana-pelaksana atau penghayat aneka aturan dan tatanan hidup daripada membicarakan atau mendiskusikannya. Kita mulai dulu dengan melaksanakan aturan sebagaimana tertulis di dalam aneka macam bentuk kemasan barang, makanan, minuman, obat, dst..yang menjadi kebutuhan kita setiap hari. Jika dalam hal-hal kecil dan sederhana, yang juga menjadi kebutuhan hidup kita sehari-hari, kita dapat melaksanakan dengan baik, maka kiranya dengan mudah kita melaksanakan aturan atau tatanan hidup yang lebih sulit dan berat. Saya pribadi juga prihatin dengan terjadinya penghayatan atau pelaksanaan aturan liturgy, entah yang terjadi dalam ibadat sabda maupun Perayaan Ekaristi, misalnya dalam pemilihan lagu maupun urutan upacara.; saya juga sangat prihatin dengan masih terjadinya aneka pelanggaran aturan berlalu lintas sehingga menimbulkan banyak korban. Kami juga mendambakan agar memfungsikan aneka aturan, tatanan hidup, undang-undang dst. sebagai sarana untuk semakin beriman atau mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan melalui saudara-saudari kita, bukan untuk bersilat lidah atau saling menjatuhkan. Kami juga sangat berharap agar di sekolah-sekolah , sedini mungkin anak-anak dibiasakan untuk mentaati dan melaksanakan aneka aturan dan tatanan yang terkait dengan hidup dan tugasnya, dan tentu saja dengan teladan para guru atau pendidik; demikian juga anak-anak di dalam keluarga dengan teladan para orangtua.

·   "Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati? Kalau TUHAN itu Allah, ikutilah Dia, dan kalau Baal, ikutilah dia." (1Raj 18:22), demikian kata nabi Elia kepada seluruh rakyat yang sedang berkumpul.. Elia mengingatkan rakyat yang bercabang hati, hatinya tidak dipersembahkan seutuhnya kepada Allah. Apa yang diingatkan Elia tersebut rasanya masih up to date bagi kita semua pada saat ini. Sadar atau tidak sadar kebanyakan dari kita perlahan-lahan terbawa ke perhatian terhadap aneka macam jenis harta benda atau kenikmatan duniawi, sehingga kurang atau tidak memperhatikan Allah lagi. Dengan kata lain ada kecenderungan dalam diri kita untuk bersikap mental materialistis yang sering membawa orang untuk bercabang hati maupun tertekan atau stress. Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk senantiasa memperhatikan dan mengikuti kehendak Allah, melaksanakan kehendak Allah di dalam hidup sehari-hari. Dengan kata lain kita dipanggil untuk setia dan taat kepada kehendak Allah. “Setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Kepada yang berkeluarga kami harapkan untuk setia pada pasangan masing-masing, tidak berselingkuh atau menyeleweng, kepada yang terpanggil untuk menjadi imam, bruder atau suster untuk setia pada panggilannya dan tidak hidup mendua atau ‘double life’. Kami juga berharap kepada kita semua: marilah kita nikmati apa yang sedang kita kerjakan, yang menjadi tugas kita masing-masing, dengan kata lain ketika di kantor hendaknya mengerjakan tugas kantor bukan tugas pribadi dan sebaliknya.

 

Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung. Aku berkata kepada TUHAN: "Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau!" (Mzm 16:1-2)

 

Jakarta, 9 Juni 2010

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.