8Mei.

“Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran”

(Kis 17:15.22-18:1; Yoh 16:12-15)
” Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu
belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh
Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia
tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu
yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan
memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan
Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari
pada-Ku. Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu
Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari
pada-Ku” (Yoh 16:12-15),demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:
•       Hidup dalam kebenaran berarti hidup baik, bermoral dan berbudi
pekerti luhur, sehingga apapun yang dikatakan dan dilakukan senantiasa
membahagiakan dan menyelamatkan jiwa, entah jiwanya sendiri maupun
jiwa orang lain. Secara manusia kita semua kiranya akan lebih tergerak
untuk berkata atau bertindak hanya mengikuti selera atau keinginan
pribadi, untuk memuaskan diri tanpa memperhatikan kepentingan orang
lain alias cenderung tunbuh berkembang menjadi pribadi yang egois,
sebagaimana terjadi di lingkungan generasi muda masa kini karena
pengaruh sarana genital seperti HP atau internet, IPad dst.. Sabda
perpisahan hari ini mengingatkan kita semua bahwa kepada kita yang
beriman kepada Yesus Kristus dijanjikan Roh Kudus, Roh Kebenaran yang
akan memimpin kita ke kebenaran. Maka dari pihak kita diharapkan
kesiapsediaan dan keterbukaan untuk menerima anugerah Roh Kudus
tersebut. Untuk itu baiklah saya mengajak dan mengingatkan anda
sekalian agar siap sedia menerima anugerah Roh Kudus, membiasakan diri
untuk taat setia pada aneka tatanan dan aturan yang terkait dengan
hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Jika kita
terbiasa dituntun dan dibimbing oleh aturan dan tata tertib, maka kita
akan lebih mudah untuk menerima anugerah Roh Kudus yang  akan memimpin
kita ke kebenaran sejati. Kita hendaknya juga dengan rendah hati suka
mendengarkan kata-kata atau cerita orang lain atau teman kita, karena
dengan demikian berarti  juga ada kesiapsediaan dalam diri kita untuk
menerima anugerah Roh Kudus. Dengan kata lain marilah kita perdalam
keutamaan mendengarkan bagi kita semua. Secara khusus kami ingatkan
kepada para orangtua agar tidak memanjakan anak-anaknya dengan sarana
genital seperti HP, Ipad, dst.., yang mendorong anak tumbuh berkembang
menjadi egois dan kurang peka terhadap orang lain, sehingga juga
kurang peka akan bisikan Roh Kudus, dan tentu saja para orangtua dapat
menjadi teladan tidak terkuasai oleh HP, IPad dst..
•       “Karena kita berasal dari keturunan Allah, kita tidak boleh
berpikir, bahwa keadaan ilahi sama seperti emas atau perak atau batu,
ciptaan kesenian dan keahlian manusia. Dengan tidak memandang lagi
zaman kebodohan, maka sekarang Allah memberitakan kepada manusia,
bahwa di mana-mana semua mereka harus bertobat” (Kis 17:29-30).
Kutipan di atas ini kiranya mengingatkan kita semua agar tidak
bersikap mental materialistis atau duniawi, selama hidup di dunia ini
hanya bekerja keras demi ’emas, perak atau batu’  alias harta
benda/uang, kedudukan/jabatan duniawi dan kehormatan duniawi. Dengan
kata lain kepada mereka yang masih bersikap mental materialistis atau
duniawi kami harapkan segera bertobat. Kepada para orangtua kami
harapkan mewariskan nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan manusiawi
kepada anak-anaknya bukan harta benda atau uang. Dengan kata lain
hendaknya anak-anak dididik dan dibina agar tumbuh berkembang menjadi
pribadi yang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur. Mereka yang
bekarya dalam pelayanan pendidikan atau sekolah kami harapkan lebih
mengutamakan usaha agar para peserta didik tumbuh berkembang menjadi
pribadi yang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur, bukan nilai
ujian sebagaimana menjadi idaman banyak orang masa kini, yang akhirnya
diusahakan dengan tidak bermoral, entah dengan mark-up nilai atau
menyontek dalam ulangan dan ujian. Kami juga berharap kepada siapapun
yang bekerja dalam jajaran Departemen Pendidikan dan Departemen Agama
tidak melakukan korupsi dalam bentuk apapun. Maklum dan sungguh
memprihatinkan bahwa masa kini mereka yang ada di jajaran dua
departemen ini, yang seharusnya membina warganegara menjadi
warganegara yang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur, tetapi
dalam kenyataan saat ini justru merusak moral warganegara. Semoga para
pemuka dan tokoh agama berani mengingatkan umatnya untuk tidak
melakukan korupsi sedikitpun.
“Haleluya! Pujilah TUHAN di sorga, pujilah Dia di tempat tinggi!
Pujilah Dia, hai segala malaikat-Nya, pujilah Dia, hai segala
tentara-Nya!” (Mzm 148:1-2)
Ign 8 Mei 2013

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.