8 Maret – Tb 2: 9-14; Mrk 12:13-17

"Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!"

(Tb 2: 9-14; Mrk 12:13-17)

 

“Kemudian disuruh beberapa orang Farisi dan Herodian kepada Yesus untuk menjerat Dia dengan suatu pertanyaan. Orang-orang itu datang dan berkata kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur, dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka, melainkan dengan jujur mengajar jalan Allah dengan segala kejujuran. Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak?" Tetapi Yesus mengetahui kemunafikan mereka, lalu berkata kepada mereka: "Mengapa kamu mencobai Aku? Bawalah ke mari suatu dinar supaya Kulihat!" Lalu mereka bawa. Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?" Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!" Mereka sangat heran mendengar Dia” (Mrk 12:13-17), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Sabda Yesus di atas ini kiranya menjadi inspirasi atau sumber motto dari Mgr.A.Soegijapranata SJ alm.: “seratus persen katolik dan seratus persen warganegara”  dan pada masa kini menjiwai LSM yang mencanangkan azas dalam Anggaran Dasarnya: “Dalam terang iman kristiani berazaskan Pancasila dan UUD 45 dalam hidup bermasyarakat,berbangsa dan bernegara”. Baiklah kami mengajak dan mengingatkan kita semua umat beriman: marilah dalam terang iman kita hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Beriman berarti mempersembahkan atau mengarahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, dan dengan demikian senantiasa mencari kehendak dan menemukan karya Tuhan dalam ciptaan-ciptaanNya, terutama dalam diri manusia yang diciptakan sebagai gambar atau citra Tuhan. Kehendak Tuhan antara lain diterjemahkan dalam aneka tata tertib atau aturan dalam hidup dan kerja bersama, maka marilah sebagai warganegara kita taati dan laksanakan aneka tata tertib dan aturan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Karya Tuhan dalam diri manusia antara lain menggema dalam keutamaan-keutamaan seperti ” kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri“(Gal 5:22-23), maka marilah kita temukan keutamaan-keutamaan tersebut baik dalam diri kita masing-masing maupun sesama kita, tanpa pandang bulu atau SARA. Hendaknya kita semua juga menghayati keutamaan-keutamaan tersebut, agar sila kelima dari Pancasila, yaitu “Keadilan Sosial bagi seluruh bangsa atau warganegara”  menjadi kenyataan atau terwujud. Kami berharap kepada para warganegara yang menjadi anggota lembaga legislatif, yudikatif maupun eksekuitf untuk menghayati fungsi masing-masing dalam terang atau semangat iman.   

·   "Dari mana anak kambing itu? Apa itu bukan curian? Kembalikanlah kepada pemiliknya! Sebab kita tidak diperbolehkan makan barang curian!" (Tb 2:13), demikian kata Tobit kepada Hana, isterinya. “Kita tidak diperbolehkan makan barang curian”, itulah kiranya yang baik menjadi bahan permenungan maupun pegangan dan pedoman cara hidup dan cara bertindak kita. Mungkin kita tidak mencuri tetapi ada kemungkinan menerima hadiah dari orang lain berupa barang, harta benda atau uang curian. Pengalaman dan pengamatan menunjukkan: nampaknya yang mudah dan tanpa merasa ‘makan barang curian’ adalah para anggota lembaga legislatif, yudikatif maupun eksekutif. Jika diperhatikan imbal jasa atau gaji mereka sesuai dengan aturan yang berlaku, maka sungguh menjadi pertanyaan mereka menjadi kaya raya. Sama-sama pegawai negeri dan berpangkat sama mereka yang berkarya di bidang yudikatif maupun eksekutif pada umumnya pendapatan lebih besar daripada para guru yang berkarya di bidang edukatif, padahal para guru lah yang berjasa bagi mereka yang saat ini berkarya di bidang legislatif, edukatif maupun eksekutif maupun usaha-usaha atau bisnis. Maka dengan ini kami berharap kepada mereka yang kaya akan barang, harta benda atau uang, entah itu curian atau tidak, hendaknya dengan rela dan hati berkorban berani ‘mengembalikan barang, harta benda atau uang’ tersebut untuk penyelenggaraan pendidikan atau sekolah di negeri kita ini. Sungguh memprihatinkan: orang dapat membelanjakan jutaan atau ratusan ribu rupiah dalam satu hati untuk liburan atau pesta, sementara itu begitu pelit membayar uang sekolah. Marilah kita lebih memperhatikan ‘human investment’ daripada ‘material investment’.

 

“Hatinya tetap, penuh kepercayaan kepada TUHAN. Hatinya teguh, ia tidak takut, sehingga ia memandang rendah para lawannya.Ia membagi-bagikan, ia memberikan kepada orang miskin; kebajikannya tetap untuk selama-lamanya, tanduknya meninggi dalam kemuliaan” (Mzm 112:7b-9)

 

Jakarta, 8 Maret 2011

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.