8 Juli 2013 di Samarinda, Terakhir Bertegur Sapa dengan Mgr. Sului (7)

< ![endif]-->

MASIH kental tertinggal di benak dan hati saya kalau harus  mengingat saat mendiang Bapak Uskup Agung Diosis Samarinda datang ke rumah kami di Samarinda, Kalimantan Timur untuk sebuah perayaan ekaristi. Intensinya adalah untuk misa peringatan 1.000 hari arwah almarhum ayah kandung saya. Keluarga kami masih keluarga dekat dengan mendiang Bapak Uskup.

 

Mgr. Sului Florentinus MSF –demikian beliau biasa dipanggil di Samarinda– sungguh berkenan datang mengunjung rumah demi ayah saya alm. S. Gatot Harsono. Bahkan beliau berkenan mempersembahkan ekaristi di rumah keluarga kami. Peristiwa Bapak Uskup Agung Diosis Samarinda alm. Mgr. Sului Florentinus MSF memimpin perayaan ekaristi 1.000 hari itu terjadi hanya dua pekan lalu, tepatnya pada hari Senin malam  tanggal 8 Juli 2013.

 

Dari dekat
Sudah lama sekali saya mengenal beliau.

 

Almarhum adalah seorang pribadi yang ramah, hangat, dan berusaha bisa menyenangkan kepada siapa saja. Meski demikian, di balik keramahan dan kehangatannya itu juga terdapat sikap pribadi yang tegas dalam hal-hal prinsipiil.

 

Bagi saya, almarhum adalah sosok yang layak dijadikan panutan bagi banyak orang, tak terkecuali orang-orang muda katolik (OMK).

 

Saya ingat sekali bahwa beliau senang  bergurau dengan orang-orang di sekelilingnya.  Juga seperti yang terjadi  dua pekan lalu saat beliau usai memimpin misa arwah di rumah keluarga saya dimana banyak tetamu, tetangga, dan kerabat berdatangan.

 

mgr sului pimpin misa arwah di rumah

Beliau pintar membuat jokes hingga banyak orang tertawa. Tapi juga berkotbah dengan suka menyelipkan butiran-butiran nasehat.

 

Saya akan selalu dengan kuat merekam bagaimana beliau selalu mengingatkan saya akan banyak hal. Beliau selalu memberi nasehat, setiap berkesempatan bertemu. Terutama sejak ayah kandung saya meninggal dunia. Beliau praktis menjadi pihak yang sering membantu keluarga kami.

 

Saya tak menyangka, kedatangan beliau ke rumah kami dua pekan lalu itu menjadi semacam pamitan kepada sanak-saudara dan kerabatnya.  Pertemuan di Samarinda itu juga menjadi pertemuan saya terakhir kali melihat beliau secara fisik visual.

 

Memang benar kata orang, umur seseorang tidak ada yang tahu. Tetapi saya ingat perkataan beliau ketika homili di misa arwah tersebut. “Kematian adalah suatu hal yang pasti, dan perpisahan selalu membawa kesedihan. Tapi janganlah terlalu lama berlarut-larut dalam kesedihan, hidup harus terus berjalan serta berkembang dan tunas-tunas kehidupan yang baru harus terus tumbuh.”

 

Selamat jalan Bapak Uskup. Terima kasih untuk semuanya.

 

Photo credit: Alm. Mgr. Florentinus Sului MSF di rumah keluarga kerabat dekat (Cosmas Dimas Gusti Anugroho/Samarinda)

Tautan: 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.