7Spt

"Berbahagialah hai kamu yang miskin karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.”
(Kol 3:1-11; Luk 6:20-26)

” Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata: "Berbahagialah,
hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.
Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan
dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena
kamu akan tertawa. Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang
membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu
serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. Bersukacitalah pada
waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di
sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah
memperlakukan para nabi. Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya,
karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu. Celakalah
kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah
kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan
menangis. Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara
demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi
palsu." (Luk 6:20-26), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:
•       Orang miskin pada umumnya tidak ada yang dapat diandalkan apa yang
ada di dunia ini kecuali tubuhnya atau pribadinya sendiri; mereka yang
miskin dan jujur juga terbuka terhadap aneka macam kemungkinan dan
kesempatan serta terbuka terhadap aneka uluran atau ajakan orang lain
untuk berbuat baik. Sementara itu orang kaya cenderung mengandalkan
diri pada harta benda atau kekayaannya, was-was terhadap kekayaannya,
apalagi ketika terjadi gejolak ekonomi yang tidak menentu. Sabda Yesus
hari ini mengajak kita semua untuk menghayati semangat miskin, memang
untuk itu kita tidak harus miskin. Bersemangat miskin berarti
senantiasa membuka diri terhadap aneka sapaan dan sentuhan Tuhan
melalui aneka ajakan, suka-duka saudara-saudarinya. Bersemangat miskin
juga berarti bersikap mental belajar terus menerus serta menghayati
diri sebagai pendosa yang dipanggil Tuhan untuk berpartisipasi dalam
karya penyelamatanNya: ia sungguh merasa ‘haus dan lapar’ akan sabda
dan kasih Tuhan; ia juga rendah hati. Maka dengan ini kami mengajak
kita semua umat beriman untuk membangun dan memperdalam semangat
miskin dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimanapun
dan kapanpun. Anak kecil pada umumnya juga bersemangat miskin, maka
marilah kita bercermin pada atau belajar dari anak-anak kecil, dengan
kata lain marilah ‘back to basic’, kembali menghayati semangat miskin
ketika kita masih kanak-kanak. Secara khusus kami berharap kepada
mereka yang kaya akan harta benda, uang, pengalaman maupun
keterampilan untuk bersikap mental miskin atau rendah hati, menghayati
aneka kekayaan yang kita miliki, kuasai dan nikmati sampai saat ini
adalah anugerah Tuhan, sehingga memfungsikannya sesuai dengan kehendak
Tuhan, yaitu sebagai pertolongan untuk mengejar dan mengusahakan
keselematan jiwa kita.  Selanjutnya marilah kita renungkan atau
refleksikan ajakan Paulus di bawah ini.
•       “Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu
telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam
Allah.” (Kol 3:2-3), demikian ajakan Paulus kepada umat di Kolose,
kepada kita semua umat beriman, khususnya yang beriman kepada Yesus
Kristus. Memikirkan ‘perkara yang di atas’ antara lain berarti
senantiasa mengusahakan keselamatan jiwa kita dan dengan demikian
berusaha dengan sungguh-sungguh menghayati atau melaksanakan aneka
tata tertib sebagai bantuan untuk mengusahakan keselamatan jiwa atau
hidup dijiwai oleh Roh Kudus, sehingga memiliki keutamaan-keutamaan
seperti ” kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan,
kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23).
Memikirkan ‘perkara yang di atas’ juga berarti senantiasa melihat dan
mengimani Tuhan yang hidup dan berkarya dalam semua ciptaanNya di bumi
ini: manusia dengan semua buah karyanya, binatang dan tumbuh-tumbuhan.
Melihat dan mengimani Tuhan yang hidup dan berkarya dalam aneka buah
karya manusia, antara lain menghargai dan menghormatinya sebagai kasih
Tuhan, sehingga mengurus dan merawatnya sebaik mungkin; menggunakan
buah karya manusia tidak untuk mencelakakan atau merugikan orang lain,
lebih-lebih jiwanya. Memikirkan ‘perkara-perkara yang di atas’ juga
identik dengan ‘mati dan hidup bersama Kristus’, meninggalkan aneka
dosa dan kejahatan alias tidak melakukan dosa atau berbuat jahat serta
senantiasa berusaha untuk berbuat baik kepada sesamanya dimanapun dan
kapanpun. Sebagai orang yang telah dibaptis berarti menghayati janji
baptis, yaitu hanya mau mengabdi Tuhan saja serta menolak semua godaan
setan. Godaan setan dapat menggejala dalam aneka bentuk tawaran dan
rayuan kenikmatan duniawi seperti “percabulan, kecemaran, hawa nafsu,
penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati,
amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah,
kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya” (Gal 5:19-21).
Marilah kita bekerjasama dan saling membantu dalam melawan
godaan-godaan setan, yang sungguh marak dalam kehidupan bersama kita
di masa kini.
“Segala yang Kaujadikan itu akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, dan
orang-orang yang Kaukasihi akan memuji Engkau. Mereka akan mengumumkan
kemuliaan kerajaan-Mu, dan akan membicarakan keperkasaan-Mu, untuk
memberitahukan keperkasaan-Mu kepada anak-anak manusia, dan kemuliaan
semarak kerajaan-Mu. Kerajaan-Mu ialah kerajaan segala abad, dan
pemerintahan-Mu tetap melalui segala keturunan. TUHAN setia dalam
segala perkataan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya”
(Mzm 145:10-13)

Ign 7 September 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.