7Agt

"Tenanglah! Aku ini jangan takut!"
(Yer 30:1-2.12-15.18-22; Mat 14:22-36)

” Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!", lalu berteriak-teriak karena takut. Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus.Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!" Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?"Lalu mereka naik ke perahu dan angin pun redalah. Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: "Sesungguhnya Engkau Anak Allah." Setibanya di seberang mereka mendarat di Genesaret. Ketika Yesus dikenal oleh orang-orang di tempat itu, mereka memberitahukannya ke seluruh daerah itu. Maka semua orang yang sakit dibawa kepada-Nya. Mereka memohon supaya diperkenankan menjamah jumbai jubah-Nya. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh” (Mat 14:22-36), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Jangan takut” merupakan sabda Tuhan yang terarah kepada orang-orang yang terpilih untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatan. Dalam kisah Warta Gembira hari ini diceriterakan para rasul yang ketakutan karena dalam perjalanan melalaui danau diombang-ambingkan oleh ombak: mereka takut perahu karam dan akhirnya semuanya tenggelam. Karena ketakutan mereka, Yesus yang datang untuk menyertai mereka pun disikapi sebagi hantu yang menakutkan. Kisah ini kiranya dapat menjadi bahan mawas diri atau permenungan kita, dimana dalam perjalanan penghayatan panggilan serta pelaksanaan tugas pengutusan kita sering menghadapi masalah, tantangan, godaan dan jebakan, yang menakutkan dan dapat menenggelamkan kita ke dalam arus kejahatan. Sebagai orang beriman, marilah kita sadari dan hayati bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, melainkan Dia terus-menerus menyertai dan mendampingi perjalanan hidup, tugas dan panggilan kita. Maka marilah kita lihat dan hayati kehadiran dan karyaNya dalam apa yang baik, indah, luhur dan mulia di tengah-tengah kita, yang antara lain menjadi nyata dalam diri orang yang berkehendak baik. Kami percaya bahwa kita semua berkehendak baik, maka marilah saling mengkomunikasikan kehendak baik kita serta kemudian kita sinerjikan guna menghadapi aneka masalah, tantangan, hambatan dan godaan. Dalam kebersamaan dengan Tuhan maupun saudara-saudari kita yang berkehendak baik tidak ada ketakutan sedikitpun. Penakut berarti kalah sebelum perang atau berjuang, marilah kita menjadi pemberani karena Tuhan senantiasa menyertai.

·   Sesungguhnya, Aku akan memulihkan keadaan kemah-kemah Yakub, dan akan mengasihani tempat-tempat tinggalnya, kota itu akan dibangun kembali di atas reruntuhannya, dan puri itu akan berdiri di tempatnya yang asli.” (Yer 30:18), demikian Firman Tuhan melalui nabi Yeremia terhadap bangsa terpilih yang sedang berada dalam masa pembuangan. Kutipan ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita, khususnya yang sedang dalam mengalami krisis, frustrasi atau takut karena penderitaan akibat dari kelalaian para pendahulu kita. Karena kelalaian para pendahulu kita maka ada kemungkinan hidup bersama amburadul, tak nyaman dan tak sejahtera dan tak damai-tenteram. Sekali lagi marilah kita lihat dan akui saudara-saudari kita yang berkehendak baik untuk memperbaiki situasi dan kondisi kehidupan bersama, kita dengarkan kehendak baik dan niatnya serta kemudian kita menyatukan diri dengannya. Di tengah-tengah kehidupan kita bersama pasti ada orang-orang yang menghayati rahmat kenabian, sehingga dengan rendah hati dan tekun menyuarakan aneka kebenaran dan ajakan guna memperbaiki situasi dan kondisi hidup bersama. Fungsi macam itu antara lain ada dalam diri para pemuka-pemuka agama: kyai, pendeta, pastor, biksu dst.., maka marilah kita dengarkan ajaran, nasihat, petuah, kotbah dan saran mereka , serta kemudian kita hayati bersama-sama guna memperbaiki hidup bersama di tengah-tengah masyarakat. Kepada para pemuka agama kami berharap tidak jemu-jemu dan terus-menerus mengingatkan dan mengajak umatnya untuk senantiasa hidup dan bertindak baik, sesuai dengan kehendak Tuhan. Sekali lagi kami ingatkan bahwa saat ini kita berada dalam masa puasa saudara-saudari kita, umat Islam, maka marilah menyatukan diri pada mereka dalam rangka usaha memperbaiki diri, maupun situasi dan kondisi lingkungan hidup bersama.
Biarlah hal ini dituliskan bagi angkatan yang kemudian, dan bangsa yang diciptakan nanti akan memuji-muji TUHAN, sebab Ia telah memandang dari ketinggian-Nya yang kudus, TUHAN memandang dari sorga ke bumi, untuk mendengar keluhan orang tahanan, untuk membebaskan orang-orang yang ditentukan mati dibunuh” (Mzm 102: 19-22)
Ign 7 Agustus 2012

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.