7 Maret – Tb 1:1a.2a. 3; 2:1b-8; Mrk 12:1-12

“Batu yang dibuang oleh tukang  bangunan telah menjadi batu penjuru”

(Tb 1:1a.2a. 3; 2:1b-8; Mrk 12:1-12)

 

“Yesus mulai berbicara kepada mereka dalam perumpamaan: "Adalah seorang membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Dan ketika sudah tiba musimnya, ia menyuruh seorang hamba kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima sebagian dari hasil kebun itu dari mereka. Tetapi mereka menangkap hamba itu dan memukulnya, lalu menyuruhnya pergi dengan tangan hampa. Kemudian ia menyuruh pula seorang hamba lain kepada mereka. Orang ini mereka pukul sampai luka kepalanya dan sangat mereka permalukan. Lalu ia menyuruh seorang hamba lain lagi, dan orang ini mereka bunuh. Dan banyak lagi yang lain, ada yang mereka pukul dan ada yang mereka bunuh. Sekarang tinggal hanya satu orang anaknya yang kekasih. Akhirnya ia menyuruh dia kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan membunuhnya, lalu melemparkannya ke luar kebun anggur itu. Sekarang apa yang akan dilakukan oleh tuan kebun anggur itu? Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, lalu mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain. Tidak pernahkah kamu membaca nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita." Lalu mereka berusaha untuk menangkap Yesus, karena mereka tahu, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu. Tetapi mereka takut kepada orang banyak, jadi mereka pergi dan membiarkan Dia.” (Mrk 12:1-12).,demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Di dalam situasi normal pada umumnya dalam hidup bersama para petinggi atau orang-orang penting/ terkemuka secara social-politik yang tampil, sedangkan mereka yang dinilai kecil dan bodoh tersingkir. Namun pada saat-saat genting mereka yang tersingkir ini sungguh dibutuhkan, sebagai contoh ada kotoran di lantai kantor atau ruangan pasti akan mencari para pembantu untuk segera membereskan. Dalam hal kejahatan demikian juga: mereka yang dianggap kecil sungguh menjadi ujung tombak dalam melakukan kejahatan. Anak-anak atau bayi juga menjadi sasaran kejahatan dengan penculikan; bayi atau anak-anak tidak ada sementara waktu orangtua/dewasa kebingungan, sedangkan kalau orang dewasa tidak ada sementara waktu tidak apa-apa alias dibiarkan saja. Paradigma atau cara berpikir Tuan memang berbeda dengan paradigma atau cara berpikir manusia, lebih-lebih manusia yang bersikap mental materialistis dan serakah, sebagaimana dikisahkan dalam Warta Gembira hari ini sebagai penyewa atau penggarap. Dalam hidup biasa sehari-hari ada kemungkinan kita juga kurang memperhatikan jiwa kita alias hidup sejati, antara lain dengan hidup seenaknya mengikuti selera atau keinginan pribadi. Orang juga kurang memperhatikan spiritualiats atau charisma dalam hidup sehari-hari, padahal charisma sungguh menjadi batu penjuru kehidupan kita. Sabda hari ini kiranya mengingatkan kita untuk sungguh memperhatikan dan menghayati charisma hidup dan panggilan kita masing-masing.

·   "Nak, pergilah dan jika kaujumpai seorang miskin dari saudara-saudara kita yang diangkut tertawan ke Niniwe dan yang dengan segenap hati ingat kepada Tuhan, bawalah ke mari, supaya ikut makan. Aku hendak menunggu, anakku, hingga engkau kembali."(Tb 2:2), demikian kata Tobit kepada Tobia, anaknya dalam jamuan makan bersama. Pesan Tobit kepada Tobia ini kiranya baik kita renungkan dan hayati. Marilah kita perhatikan orang-orang miskin dan berkekurangan di lingkungan hidup kita dimanapun dan kapanpun. Marilah kita hayati salah atau motto hidup menggereja atau beriman, yaitu “preferential with/for the poor”. Memang pertama-tama harus kita perhatikan kebutuhan hidup mereka sehari-hari, antara lain makan dan minum yang memadai. Namun baiklah kami ingatkan bahwa dari mereka yang miskin dan berkekurangan kita juga dapat belajar, yaitu perihal keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai kehidupan yang tidak kita miliki. Mereka yang miskin dan berkekurangan serta baik alias bermoral, pada umumnya memiliki keutamaan ‘penyerahan diri pada Penyelenggaraan Ilahi’, dengan kata lain mereka lebih beriman. Hati, budi dan tenaganya terbuka bagi yang lain serta siap sedia membantu mereka yang minta bantuan. Pengalaman saya pribadi sebagai imam atau pastor: melayani mereka yang miskin dan kaya sungguh berbeda. Yang miskin ketika dilayani kemudian berterima kasih, sementara yang kaya sudah dilayani dengan baik masih terus menuntut dan mengeluh. Maklum orang kaya biasa memerintah di tempat tinggal atau kerja mereka, maka di tempat umum atau kegiatan lain pun ada kecenderungan untuk memerintah dan ingin dilayani.

 

“Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati. Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap untuk selamanya.Di dalam gelap terbit terang bagi orang benar; pengasih dan penyayang orang yang adil.” (Mzm 112:1-4)

Jakarta, 7 Maret 2011

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.