7 Mar – Kel 3:1-8a.13-15; 1Kor 10:1-6,10-12; Luk 13:1-9

“Biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya,”

Mg Prapaskah III : Kel 3:1-8a.13-15; 1Kor 10:1-6,10-12; Luk 13:1-9.

 

Lembaga Pemasyarakatan (LP) atau Penjara adalah tempat menampung para penjahat atau pendosa atau narapidana (napi). Disebut lembaga pemasyarakatan kiranya ada maksud baik yaitu dengan penuh kesabaran para napi didampingi, dibina dan dimotivasi agar bertobat dan dapat hidup bermasyarakat lagi dengan baik. Sayang, dari aneka informasi yang tersiarkan melalui aneka sarana media massa, entah cetak atau elektronik, pendampingan atau pembinaan yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Para napi masih ada yang bermain judi maupun berbisnis narkoba, bahkan juga terjadi pelacuran terselubung yang dilindungi oleh oknum-oknum pegawai  LP. Apa yang terjadi di LP ini rasanya dapat menjadi gambar atau cermin apa yang terjadi di dalam masyarakat: kesempatan untuk bertobat atau memperbaharui diri tidak dimanfaatkan dengan baik. Warta Gembira hari ini mengajak kita semua untuk dengan tekun dan sabar mengusahakan pertobatan atau pembaharuan hidup.

 

Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!" (Luk 13:8-9)

 

Kutipan di atas ini kiranya mengajak kita semua untuk berrefleksi perihal pertobatan atau pembaharuan diri. Kita mungkin sering mendengar gerutu atau keluhan orang dengan berkata: “Sayang sekali orang baik-baik itu cepat dipanggil Tuhan (meninggal dunia), sementara itu orang-orang jahat berumur panjang”. Mungkin di antara kita yang masih hidup ini termasuk yang dianugerahi umur panjang, entah karena kita sungguh merawat diri sedemikian rupa sehingga tetap sehat dan segar bugar atau lingkungan hidup yang mendukung kita sehingga berumur panjang. Pada umumnya tambah umur juga bertambah kekurangan dan dosanya maupun kelebihan dan kebaikanya, namun yang sering disadari dan dihayati adalah pertambahan kelebihan dan kebaikan karena lebih cenderung berpedoman pada ‘positive thinking’ daripada ‘negative thinking’, yang juga dapat mendorong orang untuk menjadi sombong. Marilah kita sadari dan hayati bahwa jika kita dianugerahi umur panjang atau sampai kini masih hidup, sehat dan segar bugar berarti kita dianugerahi juga kesempatan untuk bertobat atau memperbaharui diri.

 

Sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem?  Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian."(Luk 13:4-5), demikian sabda Yesus kepada beberapa orang yang datang kepadaNya. Anggota-anggota tubuh atau sel-sel tubuh  kita setiap hari diperbaharui, maka selayaknya cara hidup dan cara bertindak kita juga diperbaharui terus menerus sehingga lebih baik. Bertobat  di satu sisi berarti meninggalkan cara hidup dan cara bertindak yang tidak baik atau dosa-dosa, sedangkan di sisi lain berarti bersemangat ‘magis‘ artinya melebihi diri terus menerus dalam hal apa yang baik, benar, luhur dan mulia. Pada umumnya orang bertambah baik cara hidup dan cara bertindaknya sekaligus juga menyadari dan menghayati diri sebagai yang lemah dan rapuh atau berdosa, karena apa yang baik, benar, luhur dan mulia adalah anugerah Allah.

 

Pertobatan atau pembaharuan hidup memiliki dimensi sosial, artinya berdampak pada lingkungan hidup atau sesama manusia, maka sebagai tanda pertobatan kita diharapkan melakukan perbuatan sosial, antara lain ‘melawan kemiskinan’ yang menjadi tema Aksi Puasa Pembangunan tahun ini. Buah pertobatan adalah perbuatan sosial, semakin memiliki banyak saudara, sahabat dan teman  Maka jika masing-masing dari kita sungguh bertobat atau memperbaharui diri, terjadilah kehidupan bersama yang enak, menarik, mempesona dan memikat karena terjadi kegotong-royongan atau kebersamaan hidup dan bertindak, sebagaimana terjadi dalam umat perdana, “tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa. dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya“(Kis 4:34-35)          

 

“Mereka semua makan makanan rohani yang sama dan mereka semua minum minuman rohani yang sama, sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus. Tetapi sungguhpun demikian Allah tidak berkenan kepada bagian yang terbesar dari mereka, karena mereka ditewaskan di padang gurun. Semuanya ini telah terjadi sebagai contoh bagi kita untuk memperingatkan kita, supaya jangan kita menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang telah mereka perbuat” (1Kor 10:3-6)

 

Kutipan surat Paulus kepada umat di Korintus di atas ini kiranya mengajak kita untuk mengenangkan nenek moyang atau para pendahulu kita. Ada yang baik dan ada yang jahat yang telah dilakukan oleh nenek moyang atau para pendahulu kita, dan kita “jangan menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang telah mereka perbuat”. Maka baiklah apa-apa yang baik yang telah dilakukan oleh nenek moyang atau para pendahulu kita perdalam dan teguhkan dalam cara hidup dan cara bertindak kita, sedangkan apa yang tidak baik atau jahat tidak kita lakukan. Dengan kata lain kita dipanggil untuk menjadi lebih baik daripada para pendahulu atau nenek-moyang kita.

 

TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun.”(Kel 3:15), demikian sabda/firman Allah kepada Musa, yang dipanggil untuk menuntun atau memimpin bangsanya kembali ke tanah terjanji.  Baiklah saya mengajak dan mengingatkan anda sekalian untuk ‘menempatkan diri’ sebagai Musa yang diutus untuk mengingatkan saudara-saudari kita agar tidak berbuat jahat dan senantiasa mendengarkan dan melaksanakan kehendak dan perintah Allah melalui aneka macam saran, peringatan, nasihat, kritik, tegoran dari sesamanya, lebih-lebih mereka yang memiliki fungsi untuk mendampingi, memimpin dan menuntun kita.

 

Marilah kita sadari dan hayati bahwa sebagai umat beriman kita semua adalah ‘putera dan puteri’ atau keturunan bapa Abraham, bapa dan teladan umat beriman.  Kita telah menerima makanan dan minuman rohani dari sumber yang sama, dan mungkin salurannya sedikit berbeda, namun bersumber dari Allah yang sama, yang tidak lain adalah Sang Cintakasih Sejati. Maka hemat saya sebagai putera-puteri Abraham, entah agamanya apapun, kita dipanggil untuk hidup saling mengasihi, sehingga di antara kita yang berbeda satu sama terjadilah persaudaraan sejati, tiada sedikitpun di antara kita untuk berbuat jahat atau mencelakakan yang lain. Kepada siapapun yang masih berkeinginan untuk berbuat jahat terhadap sesamanya, kami harapkan untuk bertobat. Ingat dan sadari ketika kita senang berbuat jahat kepada orang lain, maka anak-anak atau penerus atau keturunan kita pasti akan berbuat lebih jahat dari apa yang telah kita lakukan.

 

” Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu, Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat,”

 (Mzm 103:1-4)

 

Jakarta, 7 Maret 2010

Loading...

Published by Wilhelmina Sunarti

Membaca firman Allah setiap hari akan menjaga hati kita dari rasa lelah dalam memikul salib kita. Semoga tulisan para gembala yang ada pada website kami bermanfaat bagi Saudaraku semua. Salam damai dalam kasih Kristus...

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.