7 Keunggulan Jiwa Mengatasi Perbedaan

Kasus penyerangan atas kelompok agama tertentu rasanya tak kunjung selesai. Di Jawa Tengah saja kita masih ingat penyerangan dan perusakan terhadap bangunan gereja-gereja di Temanggung terjadi 8 Februari 2011.

Menjelang pemilihan presiden ini, kita kembali dihenyakkan oleh penyerangan terhadap sejumlah umat Katolik yang sedang berdoa rosario di rumah Julius Felicianus di Dusun Tanjungsari, Desa Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik, Sleman, 29 Mei 2014. Sedikitnya lima orang terluka. Tak lama sesudahnya ada juga perusakan bangunan yang digunakan sebagai tempat ibadah umat Kristen di Dusun Pungukan, Desa Tridadi, Sleman Yogyakarta oleh kelompok tertentu.

Gereja St Petrus dan Paulus Temanggung yang dirusak kelompok tertentu tanggal 8 Februari 2011. Sepuluh menit sesudah perusakan, Romo YB Haryono mengambil foto suasana ini/ Foto: Romo YB Haryono MSF

Gereja St Petrus dan Paulus Temanggung yang dirusak kelompok tertentu tanggal 8 Februari 2011. Sepuluh menit sesudah perusakan, Romo YB Haryono mengambil foto suasana ini/ Foto: Romo YB Haryono MSF

Berita-berita seperti ini berlalu. Aparat keamanan seolah membiarkan. Orang lupa. Sikap dan jiwa masyarakat di tengah keragaman seolah tak berubah. Mereka kembali ke kesibukan sendiri sebagaimana orang juga tetap berpegang dalam keberanan versinya sendiri dan bertindak berperilaku seturut kebenarannya itu.

Mungkinkah ada perubahan jiwa unggul dalam keragaman ini? Berpangkal dari ide-ide YB. Prasetyantha, penulis ingin menghaturkan tujuh keutamaan unggul yang bisa dibangun untuk toleransi bangsa ini.

Berpangkal dari realitas
Bagi masyarakat Indonesia, keragaman memang sudah disadari sebagai kenyataan semenjak bangsa ini ada. Sebagai bangsa berkepulauan, keragaman adalah realitas. Sebagai bangsa maritim, perjumpaan dengan beragam suku bangsa bahkan agama dan kepercayaan adalah pengalaman setiap hari.

Dan kini di tengah gelombang urbanisasi, globalisasi dan kemajuan trasnportasi modern, kita tidak gagap lagi dengan keragaman sebagai part and parcel kehidupan. Di zaman digital, titik temu dan titik silang perjumpaan budaya dan agama itu sudah menjadi keniscayaan.
Karenanya orang yang berjiwa unggul dalam keragaman pertama-tama bersikap realistis.

Orang yang realistis melihat, menerima dan mengakui pluralitas budaya dan agama sebagai kenyataan. Ia menumbuhkan sikap itu dalam diri maupun paguyubannya. Ia menyadari bahwa mengingkari pluralitas berarti mengingkari realitas. Memang, tidak jarang, pluralitas menimbulkan masalah. Mengapa? Karena orang mesti memikir ulang atau bahkan mendekonstruksi klaim-klaim kebenaran – yang selama ini menjadi dasar keyakinan – yang muncul dalam gerak sejarah yang berbeda dengan zaman ini.

Bagaimanapun juga, pluralitas tidak hanya merupakan “masalah” melainkan juga “kesempatan emas.” Oleh karenanya setiap warga Indonesia diundang berpikir positif. Inilah keutamaan unggul yang kedua.

Bangsa kita diundang melihat pluralitas juga sebagai berkat. Orang yang apriori melihat pluralitas sebagai masalah. Mereka umumnya cenderung menjawab keragaman secara teoritis, bagaimana merefleksikan yang lain dalam kerangka pemikiran sendiri. Sedangkan orang yang melihat keberagaman sebagai berkat akan mengapresiasi yang lain sebagaimana yang lain itu menampakkan dirinya.

Ketimbang berpikir apriori, orang diundang berpraksis aposteriori. Berhadapan dengan keberadaan yang apa adanya dari yang lain itulah, orang Indonesia perlu berpraksis aposteriori. Inilah keutamaan yang ketiga. Disini orang mencoba mengenal yang lain dalam perjumpaan. Dalam perjumpaan, yang lain dijumpai secara konkret dan riil dan tidak secara abstrak. Bukankah perjumpaan adalah awal kehidupan dan perubahan?

Perjumpaan riil dengan yang lain, memang, bisa saja menakutkan, membingungkan dan menggoyahkan keyakinan. Di sinilah, kita ditantang untuk menjaga ketegangan antara keterbukaan terhadap kebenaran yang dipegang oleh yang lain dan kesetiaan pada kebenaran yang kita imani dan amini. Dengan keutamaan keempat ini, senyatanya orang justru terhindar dari bahaya absolutisme dan relativisme sekaligus membangun persahabatan antar iman.

Yang kelima adalah perlunya menjalin persahabatan sejati. Di zaman jejaring pertemanan sosial yang semakin marak ini, orang disatukan oleh persamaan yang ada namun sekaligus oleh perbedaan yang khas. Dalam persahabatan orang tidak larut dalam persamaan, tidak juga menggumpal dalam perbedaan. Dalam persahabatan sejati, persamaan dan perbedaan diterima secara tulus dan serius. Mengapa? Persamaan memperkaya, perbedaan memurnikan.

Gereja St Petrus dan Paulus Temanggung yang dirusak kelompok tertentu tanggal 8 Februari 2011. Sepuluh menit sesudah perusakan, Romo YB Haryono mengambil foto suasana ini/ Foto: Romo YB Haryono MSF

Gereja St Petrus dan Paulus Temanggung yang dirusak kelompok tertentu tanggal 8 Februari 2011. Sepuluh menit sesudah perusakan, Romo YB Haryono mengambil foto suasana ini/ Foto: Romo YB Haryono MSF

Mengatasi toleransi
Dengan begitu menjadi jelas, hidup bersama senyatanya tidak sekadar toleransi, saling membiarkan. Hidup bersama adalah suatu interaksi sosial. Di sinilah, (ke-6), orang Indonesia mesti mengatasi toleransi. Di satu sisi, orang melawan kecenderungan untuk mengebalkan diri dari angin keberagaman yang berhembus zaman ini.

Di sisi lain, orang berkawan dengan harapan bahwa perjumpaan yang tulus dan serius dengan yang lain justru mentransformasi hidup. Perjumpaan dengan yang lain tidak pernah membuat kita tetap sama seperti sebelumnya. Selain itu, dalam perjumpaan, kita akan makin mengenal identitas sekaligus sumbangan khas kita untuk dunia. Mungkinkah semuanya itu terjadi? Tidak mungkin.

Itu baru mungkin saat segenap warga mau merendahkan diri. Inilah keutamaan yang ketujuh yang menjadi dasar keutamaan yang sebelumnya. Sikap mengosongan diri (Yunani, kenosis) bisa dikatakan sebagai suatu pelepasan dari hak istimewa diri dalam relasi dengan yang lain. Tidak jarang perbedaan dianggap sebagai penyebab terjadinya konflik antar umat beriman.

Namun, senyatanya, bukan perbedaan melainkan kesombongan pribadi atau kelompoklah yang memicu pertentangan. Konflik terjadi karena ada kelompok-kelompok yang merasa diri paling benar dan mau memaksakan kehendak kepada kelompok yang lain. Sebaliknya, hidup bersama yang harmonis dalam masyarakat sekuler yang multikultural dan multireligius akan tercipta jika masing-masing kelompok rendah hati dalam perjumpaan dengan yang lain.

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.