60 Th Hidup Membiara Br. Alex MTB, 25 Th Bruder Charles MTB dari Keluarga Muslim

KENANGAN – Bruder Allexandro van Beer MTB (ketiga dari kiri) yang merayakan 60 tahun hidup membiara, diajak berfoto bersama oleh tamu undangan. (Severianus Endi)

KAWASAN itu terasa asri dengan taman yang luas. Beberapa pohon besar menjulang tinggi, memberikan keteduhan. Acara yang tengah digelar pun begitu istimewa: peringatan 60 tahun dan 25 tahun membiara bagi anggota komunitasnya.

Suasana Provinsialat Kongregasi Bruder-Bruder Maria Tak Bernoda (MTB) Propinsi Indonesia di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (15/8/16) terasa meriah dengan sekitar 500-an orang berhimpun dalam Misa Kudus yang digelar di bawah tenda di halaman kapel.

Di antara orang-orang yang hadir adalah biarawan-biarawati, sejumlah pastor, para guru beserta keluarga, para siswa, dan pekerja di lingkungan Yayasan Pendidikan Sekolah Bruder. Anggota komunitas yang sedang berpesta, mendapat kesempatan untuk berbicara sekitar tiga menit di hadapan para tamu.

Kisah 60 tahun lalu

Dengan suara agak serak, bruder asal Negeri Kincir Angin itu mengungkapkan rasa bahagianya bisa mencapai pesta 60 tahun hidup membiara. Ia adalah Bruder Allexandro van Beer MTB, yang kini telah berusia 79 tahun, sedikit mengilasbalik perjalanan hidupnya di Bumi Kalimantan.

Bruder Alex–demikian dia akrab disapa–mengenang, untuk pertama kalinya menjejakkan kaki di Indonesia di bulan April 1964. Singkawang di Kalimantan Barat menjadi tempat pertama dia memulai karyanya sebagai pembina asrama para siswa.

“Enam puluh tahun yang lalu, saya sudah memulai kehidupan dalam nilai-nilai utama dari Bunda Maria serta menjadi pengikut semangat Santo Fransiskus Asisi. Inspirasi yang mendasari panggilan saya adalah perkataan ‘aku ini hamba Tuhan’, dalam penghayatan atas ketaatan, kemiskinan, dan kemurnian, sebagaimana dinyatakan dalam kaul,” kata Bruder Alex.

Selama 52 tahun lebih berkarya di Indonesia, dia tidak pernah bertugas di tempat lain di luar Kalimantan Barat. Ia telah menjalankan tugas di tempat-tempat Karya Kongregrasi Bruder-Bruder MTB di Singkawang, Sanggau, Kuala Dua, dan Pontianak.

“Malam ini turut hadir beberapa orang dari generasi pertama yang pernah saya didik di Singkawang dan sekarang telah berdomisili di Jakarta,” kata Bruder Alex, yang bersama Bruder Claudius MTB, merupakan misionaris asal Belanda yang masih tersisa di komunitas itu.

Dengan nada bercanda, dia mengatakan dirinya merupakan anggota KB, Keluarga Besar. Bruder Alex dan para saudara-saudarinya dalam keluarga berjumlah 13 orang, dan masing-masing dari mereka telah memilih jalan hidup masing-masing.

“Satu orang menjadi suster, satu orang menjadi bruder yang kini berdiri di hadapanmu ini, dan seorang lagi menjadi imam. Sementara 10 lainnya menjalani hidup sebagai awam,” ucap Bruder Alex yang malam itu mengenakan jubah putih dengan kalung salib Tao dan aksesoris bunga dan daun cemara yang disematkan di dada kiri.

Satu di antara pengalamannya yang cukup berkesan, ketika terjadinya Peristiwa Gerakan 30 September (G30S/PKI). Saat itu,  banyak pengungsi yang membutuhkan bantuan karena kelaparan dan sakit. Para bruder MTB, termasuk Bruder Alex, membantu memberikan makanan dan obat-obatan, dan berpartisipasi sebagai anggota Palang Merah Indonesia.

“Bersama seorang pastor bernama Pastor Yakobus, saya ikut ke Camp Tahanan untuk menghibur mereka,” tutur Bruder Alex sambil menyatakan harapannya semoga banyak pemuda-pemudi masa kini terpanggil untuk menjalani hidup membiara.

PERSAUDARAAN – Bruder Charles Thomas MTB yang merayakan 25 tahun hidup membiara, didampingi kakak kandung dan keponakannya yang Muslim, saat menyampaikan pesan dan kesan. (Severianus Endi)

Dari keluarga Muslim

Saudara se-Kongregasi Bruder Alex, yakni Bruder Charles Thomas MTB merayakan 25 tahun hidup membiara pada saat yang sama. Ketika menyampaikan pesan dan kesannya, Bruder Charles mengundang dua anggota keluarganya untuk mendampinginya di podium.

Keduanya adalah wanita dengan busana Muslimah, berjilbab. Seorang di antaranya merupakan kakak kandung Bruder Charles, dan seorang lagi keponakannya. Mereka tinggal di Karangjati, Ungaran, Kab. Semarang, Jawa Tengah, dan hadir di Kota Pontianak untuk ikut merayakan kebahagiaan saudara mereka yang memperingati 25 tahun hidup membiara.

“Saya berasal dari enam bersaudara, dan sayalah satu-satunya yang memeluk agama Katolik. Saudara-saudari saya yang lain tetap sebagai Muslim,” kata Bruder Clarles, menambahkan perbedaan keyaninan bukanlah menjadi masalah dalam keluarganya.

Dalam beberapa acara yang sama di tahun-tahun sebelumnya, kata Bruder Charles, saudara-saudaranya juga selalu hadir. Keberagaman yang terjadi di dalam keluarga tetap terpelihara dalam semangat persaudaraan.

BERBINCANG - Tiga bruder berbincang dengan sebagian tamu undangan di sela acara ramah tamah yang digelar di kawasan Provinsialat Bruder-Bruder Maria Tak Bernoda (MTB) di Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (15/8/16) malam. (Foto: Severianus Endi) BERBINCANG – Tiga bruder berbincang dengan sebagian tamu undangan di sela acara ramah tamah yang digelar di kawasan Provinsialat Bruder-Bruder Maria Tak Bernoda (MTB) di Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (15/8/16) malam. (Severianus Endi)

Selalu mohon doa

Provinsial Kongregrasi Bruder-bruder MTB Indonesia, Gabriel Tukan MTB mengatakan, hidup sebagai bagian dari pilihan, merupakan bentuk kesadaran penuh bagi setiap orang. Namun pilihan hidup harus pula dimaknai sebagai suatu kebahagiaan.

“Setelah mencapai sekian puluh tahun hidup membiara, apakah saudara-saudara saya ini merasa bahagia? Jika bahagia, jadikanlah itu sebagai alat bukti bahwa kebahagiaan tetap dirasakan dalam kehidupan yang mengikatkan diri pada Kasih Kristus. Saksi atas peristiwa luhur dalam hidup anak manusia,” kata Bruder Gabriel.

MERIAH – Sebagian tamu dari kalangan imam, biarawan dan biarawati yang hadir memeriahkan pesta syukur hidup membiara dua Bruder MTB. (Severianus Endi)

Ia meminta agar selalu didoakan, karena menyadari sifat manusia yang tidak pernah luput dari berbagai macam kelemahan. Meskipun tetap mensyukuri Rahmat Allah yang telah “menggunakan” mereka dalam berbagai karya-Nya.

“Kami-kami ini tetap sebagai manusia yang lemah, suka berubah, suka menyesuaikan diri dengan situasi, memiliki kelalaian, kekeliruan, dan kadang salah langkah. Mohon selalu doakan kami,” kata Bruder Gabriel.

Selain untuk merayakan pesta hidup membiara, pada kesempatan itu dua bruder lain menjalani pembaharuan kaul, yaitu Bruder Maksi MTB dan Bruder Marianus MTB.

Sumber: Sesawi.net

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.