6 Sept – 1Kor 5:1-8; Luk 6:6-11

“Berbuat baik atau berbuat jahat”

(1Kor 5:1-8; Luk 6:6-11)

 

Pada suatu hari Sabat lain, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya.Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka dapat alasan untuk mempersalahkan Dia.Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada orang yang mati tangannya itu: "Bangunlah dan berdirilah di tengah!" Maka bangunlah orang itu dan berdiri.Lalu Yesus berkata kepada mereka: "Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?" Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu: "Ulurkanlah tanganmu!" Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya. Maka meluaplah amarah mereka, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus“(Luk  6:6-11), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Tata tertib atau aturan dibuat dan diberlakukan sebagai tuntunan untuk berbuat atau bertindak baik, sehingga hidup bersama berjalan dengan baik dan siapapun yang berada dalam kebersamaan tersebut merasa damai, tenteram dan aman serta selamat. Akhir-akhir ini dikeluhkan kemacetan lalu lintas di kota metropolitan Jakarta, ibu kota Negara kita. Berbagai pikiran dan alasan terlontar, entah mencari sebab kemacetan maupun usul pemecahan, misalnya pemindahan ibu kota Negara, pertambahan jumlah kendaraan yang tak seimbang dengan kemampuan jalan, dst… Tetapi ada juga pengamatan yang menarik, yaitu: jika para pengendara mentaati tata tertib atau aturan lalu lintas, meskipun berjalan lambat, kiranya tidak terjadi kemacetan yang menjengkelkan dan membuat stress banyak orang. Hemat saya pengamatan ini benar dan baik, mengingat dan memperhatikan di berbagai Negara atau kota besar seperti Jakarta di negara-negara lain, dimana warganya taat dan setia pada tata tertib atau aturan yang berlaku, kemacetan dapat diatasi. Dengan kata lain rasanya mayoritas warganegara kita tidak taat dan setia pada tata tertib atau aturan yang berlaku. Meskipun ada tata tertib atau aturan yang cukup jelas, mereka tetap berbuat jahat alias melanggar tata tertib atau aturan. Ketika orang setia dan mentaati tata tertib atau aturan yang berlaku dengan baik, maka pada suatu saat, yang memang mendesak dan penting, ia dengan tenang melanggar tata tertib atau aturan. Mengapa? Karena yang ia lakukan demi keselamatan jiwa manusia lain (misalnya ambulan pengantar pasien sakit berat, mobil pemadam kebakaran dst..). Dengan kata lain asal demi keselamatan jiwa atau apa yang lebih baik daripada yang diatur, kita tidak perlu takut melanggar tata tertib atau aturan yang berlaku.Keselamatan jiwa itulah pedoman kita untuk berbuat baik.

·   “Marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran” (1Kor 5:8). Apa itu berpesta dengan ragi kemurnian dan kebenaran? Murni dan benar berarti suci, maka ragi kemurnian dan kebenaran berarti apa-apa yang dapat menyebabkan atau berbuahkan kesucian. Tentu saja yang menyebabkan kesucian adalah apa yang baik alias perbuatan-perbuatan baik, maka marilah berlomba dalam berbuat baik dimanapun dan kapanpun. Kata Latin ‘baik’ adalah ‘bene’ , yang dapat berarti baik, layak, cukup, betul, tepat, maka apa yang disebut baik mengandung sifat-sifat tersebut dari arti ‘bene’. Marilah kita kerjakan segala sesuatu dengan betul dan tepat, agar apa yang kita kerjakan sungguh membuat gembira diri kita sendiri maupun mereka yang melihat atau menikmati buah kerja kita. Pertama-tama perkenankan kami mengingatkan dan mengajak rekan muda-mudi untuk senantiasa mengusahakan apa yang betul dan tepat, misalnya dalam pergaulan antar jenis. Hubungan seksual sebelum menjadi suami-isteri kiranya tidak betul dan tidak tepat, maka hendaknya jangan dilakukan di masa perkenalan, pacaran maupun tunangan. Jika anda seenak melanggar kemurnian alias tidak betul dan tidak tepat dalam pergaulan antar jenis, maka masa depan anda akan lebih dijiwai oleh ragi keburukan dan kejahatan daripada ragi kemurnian dan kebenaran. Sebaliknya jika anda setia menjaga kemurnian anda, kami percaya masa depan anda akan dijiwai ragi kemurnian dan kebenaran, sehingga hidup bersama sebagai suami-isteri sungguh bahagia serta suka berbuat baik kepada sesama.. Marilah kita jauhkan dan berantas aneka perbuatan cabul, dan dalam hal ini kami lebih berpesan dan mengajak kepada rekan laki-laki untuk tidak berbuat cabul terhadap rekan-rekan perempuan sebagaimana sering terjadi di kendaraan-kendaraan umum.

 

“Engkau bukanlah Allah yang berkenan kepada kefasikan; orang jahat takkan menumpang pada-Mu. Pembual tidak akan tahan di depan mata-Mu; Engkau membenci semua orang yang melakukan kejahatan. Engkau membinasakan orang-orang yang berkata bohong, TUHAN jijik melihat penumpah darah dan penipu

(Mzm 5:5-7)

Jakarta, 6 September 2010

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: