6 Okt – Gal 2:1-2.7-14; Luk 11:1-4

Tuhan ajarilah kami berdoa”

(Gal 2:1-2.7-14; Luk 11:1-4)

 

“Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: "Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya." Jawab Yesus kepada mereka: "Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu. Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan." (Luk 11:1-4), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Ada orang ketika berdoa begitu panjang, bertele-tele dan berbelit-belit. Doa Bapa Kami yang diajarkan oleh Yesus, sebagai acuan cara berdoa kita, begitu singkat, sederhana dan mudah dimengerti, karena isinya adalah kebutuhan hidup kita sehari-hari. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan anda semua jika berdoa hendaknya singkat dan sederhana saja atau mungkin dapat berpedoman pada doa umat sebagaimana diatur dalam Perayaan Ekaristi hari Minggu, yaitu ada empat ujud utama: berdoa bagi pemimpin Negara atau pemerintahan, bagi pemimpin Gereja, bagi mereka yang miskin dan berkekurangan serta bagi diri kita senidri. Mungkin baik kita mawas diri perihal doa bagi diri sendiri dengan cermin doa yang diajarkan oleh Yesus, yaitu “Berikanlah kami setiap hari ,makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami”. Kita mohon kepada Tuhan agar kita hidup sederhana, tidak serakah dan aneh-aneh atau berfoya-foya. Jika masing-masing dari kita dapat hidup secara sederhana kiranya tidak ada lagi saudara-saudari kita yang kelaparan atau kehausan alias menderita dalam hal makanan dan minuman, namun karena ada sementara orang yang serakah, berfoya-foya serta bersikap mental pengumpul maka ada cukup banyak orang yang berkekurangan. Kita juga diharapkan hidup dalam saling mengampuni dan mengasihi setiap hari di manapun dan kapanpun. Percayalah jika kita mohon hidup sederhana maupun hidup saling mengampuni pasti akan dikabulkan oleh Tuhan, memang yang dibutuhkan adalah kesiap-sediaan kita untuk pengabulan doa tersebut alias berusaha dengan seoptimal mungkin untuk hidup sederhana serta saling mengampuni.

·   Setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat; hanya kami harus tetap mengingat orang-orang miskin dan memang itulah yang sungguh-sungguh kuusahakan melakukannya” (Gal  2:9-10), demikian kesakisan iman Paulus kepada umat di Galatia.  Kami harus tetap mengingat orang-orang miskin dan memang itulah yang sungguh-sungguh kuusahakan melakukannya”, inilah kiranya yang harus kita hayati bersama-sama sebagai umat beriman. Marilah kita perhatikan orang-orang miskin di lingkungan hidup dan kerja kita masing-masing. Secara khusus kami berseru kepada para penentu kebijakan hidup bersama, misalnya kepala Negara atau pemerintahan di tingkat apapun untuk senantiasa memperhatikan mereka yang miskin, berpihak kepada yang miskin dan berkekurangan. Jika masih ada orang miskin dan menderita di wilayah pemerntahan anda berarti anda gagal dalam melaksanakan tugas. Marilah kita senatiasa berusaha untuk lebih menjadi ‘abdi rakyat’ bukan ‘abdi negara’, yang berarti senantiasa memperhatikan kepentingan rakyat, mengusahakan agar rakyat dapat hidup sejahtera, damai dan bahagia. Kepada para politici kami harapkan berjuang dengan motto ‘bonum commune’  (=demi kesejahteraan atau kebahagiaan umum), bukan demi diri sendiri atau kelompoknya saja. Secara pribadi marilah masing-masing dari kita, mungkin dari kekurangan kita, memperhatikan mereka yang lebih miskin dan berkekurangan dari kita. Memberi dari kekurangan itulah keutamaan, sedangkan memberi dari kelimpahan berarti melecehkan penerima, karena penerima menjadi tempat sampah. Hendaknya perhatian terhadap yang miskin dan berkekurangan tidak pandang bulu atau SARA.

 

“Pujilah TUHAN, hai segala bangsa, megahkanlah Dia, hai segala suku bangsa! Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan TUHAN untuk selama-lamanya. Haleluya! (Mzm 117)

   

Jakarta, 6 Oktober 2010

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: