6 Langkah Menuju Maut (1)

Posted on

Ayat bacaan: Efesus 4:17-19
=======================
“Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka. Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran.”

6 langkah menuju maut

Jika anda ingin belajar menari, anda perlu mempelajari langkah-langkah yang menjadi pola dari masing-masing jenis tarian, karena setiap jenis pasti memiliki langkah yang berbeda pula. Different dance, different steps. Ratusan tarian daerah yang merupakan kekayaan khasanah budaya Indonesia, ballet, swing, ballroom, country, folk, hip hop, country, hoedown dan berbagai jenis tarian lainnya, semua memiliki langkah-langkah yang berbeda pula. Maka jangan berharap anda sukses jika ditaruh di lantai dansa dengan irama swing apabila anda mempelajari tarian hip hop. Dalam hidup pun kita sering dianjurkan untuk melihat langkah demi langkah. Alangkah beresikonya apabila kita menjalani apapun dalam hidup ini tanpa mengetahui langkah-langkah penting yang harus kita cermati dan lakukan. Betapa banyaknya buku yang menulis berbagai hal yang berguna dengan membaginya ke dalam langkah-langkah. Langkah menuju sukses, langkah mendapatkan kebahagiaan, dan langkah-langkah lainnya, semua itu tentu sering kita lihat di toko-toko buku manapun. Memperhatikan dan mengetahui langkah-langkah penting dalam hidup merupakan hal yang harus kita ketahui. Bukan saja langkah-langkah menuju sukses atau kebahagiaan, tetapi juga langkah-langkah yang bisa membawa kita ke dalam kegagalan besar atau maut. Ini perlu kita ketahui agar kita bisa secepatnya sadar sebelum segalanya menjadi semakin parah atau bahkan menjadi terlambat.

Dalam surat Paulus kepada jemaat Efesus kita bisa menemukan sebuah ayat menarik yang berisi 6 langkah menuju maut ini. “Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka. Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran. (Efesus 4:17-19). Perhatikanlah ayat ini sesungguhnya berisi point-point yang saling berhubungan dan semakin lama semakin tinggi intensitasnya. Mari kita lihat point-point tersebut:
– pikiran yang sia-sia
– pengertian yang gelap
– jauh dari hidup persekutuan dengan Allah
– Perasaan mereka telah tumpul
– menyerahkan diri kepada hawa nafsu
– mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran

Semua diawali dengan pikiran yang sia-sia. Kita mungkin lupa menjaga pikiran kita dengan hal-hal yang baik dari Tuhan, sehingga kita mulai terjebak untuk mengisi pikiran kita pada hal yang sia-sia. Membiarkan pikiran mengawang kemana-mana tanpa kendali menuju kepada hal yang bukan saja sia-sia namun juga jahat atau buruk bukanlah sesuatu yang bijaksana. Kita kerap membiarkan pikiran kita mengembara tanpa diawasi. Apakah itu pikiran-pikiran yang mesum, kebencian yang didasarkan oleh iri hati dan sebagainya, keinginan-keinginan membalas dendam, merugikan atau menghancurkan orang, itu semua merupakan bentuk-bentuk pikiran yang jahat, bisa merugikan kita sendiri. Banyak orang yang berpikir bahwa itu semua hanyalah pikiran, imajinasi atau sebatas ingin saja, dan tidak akan berdosa jika tidak dilakukan. Tetapi Firman Tuhan tidak berkata seperti itu. Ambil contoh kecil saja mengenai pengertian zinah seperti yang dikatakan Yesus: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.” (Matius 5:28). Lihatlah bahwa seriusnya pikiran atau perasaan dengan perbuatan adalah sama saja. Itulah sebabnya Paulus mengingatkan: “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (Filipi 4:8). Lalu kita pun diminta untuk mengarahkan pikiran bukan kepada kesenangan atau kenikmatan di dunia ini, tetapi justru kepada yang di atas. “Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” (Kolose 3:2). Ketika kita memikirkan untuk memperkuat diri kita agar fokus pada hal-hal surgawi, maka kita akan jauh dari memikirkan hal-hal yang sifatnya sia-sia dan hanya terbatas pada kepuasan duniawi saja.

Lalu lihatlah point selanjutnya, pengertian yang gelap. Ini adalah kelanjutan dari langkah pertama dimana kita mulai kehilangan hikmat, menjadi sulit untuk membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang benar dan yang salah. Batas-batas itu semakin kabur, toleransi kepada kecemaran yang kita berikan semakin besar karena segalanya menjadi semakin gelap. Maka kita pun akan berlanjut masuk kepada stadium berikutnya: jauh dari hidup dalam persekutuan dengan Allah. Kita akan lebih tertarik pada segala kenikmatan duniawi dan mulai malas untuk menghampiri Tuhan. Doa mulai jarang, saat teduh atau beribadah bolong-bolong dan semakin lama semakin jarang. Kita tidak lagi menganggap penting untuk bersatu bersama-sama menyembah Tuhan baik di gereja, persekutuan dan sebagainya. Itu dan waktu-waktu saat teduh menjadi hal yang kita anggap buang-buang waktu. Dan ketika ini masih kita biarkan, akan membuat perasaan menjadi tumpul. Tidak ada lagi suara Tuhan yang didengar, hati nurani menjadi kaku sehingga semakin jauh dari kebenaran firman Tuhan. Kemudian kita pun menyerah pada hawa nafsu. Semua yang dikejar hanyalah untuk pemuasan nafsu semata, dan sampailah pada langkah terakhir, hidup dengan nyaman dalam berbagai macam kecemaran. Disana kita sudah tidak lagi merasa bersalah kepada segala kecemaran atau kejahatan yang kita lakukan. Hati kita tidak berfungsi lagi, suara Tuhan melalui Roh Kudus atau nasihat-nasihat orang lain tidak lagi kita indahkan. Maka kita pun akan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran tanpa rasa bersalah atau takut lagi. Semua bagaikan hal yang biasa saja. Dan lihatlah Yakobus seolah melanjutkan 6 langkah ini hingga sampai pada kesimpulan. “Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.” (Yakobus 1:15). Semua itu mengarah kepada dosa, dan pada suatu ketika di saat dosa itu matang, ia pun melahirkan maut. Maut. Itulah akhirnya. Bukan sebuah akhir yang indah, tetapi akhir yang mengerikan yang jika tidak kita cermati dari awal akan membuat kita menyesal selamanya. Dan itu pada suatu ketika sudah terlambat jika tidak cepat diatasi.

(bersambung)

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.