6 Juli – Kej 41:55-57; 42:5-7a.17-24a; Mat 10:1-7

“Pergilah kepada domba-domba yang hilang”

(Kej 41:55-57; 42:5-7a.17-24a; Mat 10:1-7)

” Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan.  Inilah nama kedua belas rasul itu: Pertama Simon yang disebut Petrus dan Andreas saudaranya, dan Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya,  Filipus dan Bartolomeus, Tomas dan Matius pemungut cukai, Yakobus anak Alfeus, dan Tadeus,  Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot yang mengkhianati Dia. . Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: "Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria,  melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat.” (Mat 10:1-7), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Para rasul diutus oleh Yesus “untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan” dan khususnya “kepada domba-domba yang hilang”, yang berarti merasul di antara mereka yang miskin dan berkekurangan dalam berbagai hal atau kebutuhan hidup yang sehat wal’afiat baik secara phisik maupun spiritual. Bagi kita hal ini berarti suatu panggilan atau ajakan untuk melaksanakan salah satu opsi Gereja atau hidup beriman, yaitu “preferential option for/with the poor’ (=keberpihakan pada/bagi yang miskin). Secara konkret hal ini bagi kita tergantung dari fungsi atau tugas pekerjaan kita sehari-hari. Sebagai guru atau pendidik hendaknya memperhatikan para peserta didik yang bodoh atau lemah; sebagai warga masyarakat hendaknya memperhatikan mereka yang miskin dan berkekurangan di lingkungan hidup masing-masing; sebagai dokter atau tenaga medis kiranya harus dengan lembah lembut dan rendah hati melayani pasien/orang sakit dan sementara itu rumah sakit hendaknya juga memberi peluang bagi yang miskin dan berkekurangan untuk berobat, dst.. Organisasi kemasyarakatan kami harapakan mengalokasikan dana dan tenaga secara khusus bagi mereka yang miskin dan berkekurangan. Kami berharap orang-orang miskin dan berkekurangan tidak menjadi ‘sarana proyek’ untuk memperkaya diri atau kelompok, sebagaimana sering dilakukan oleh LSM-LSM tertentu. “Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat”, demikian perintah Yesus, yang bagi kita berarti sepak terjang, cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun diharapkan menghadirkan Allah yang meraja, artinya melalui diri kita yang lemah dan rapuh ini orang tergerak untuk semakin beriman, mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan.

·   Pergilah kepada Yusuf, perbuatlah apa yang akan dikatakannya kepadamu” (Kej 41:55), demikian kata Firaun kepada rakyat Mesir yang menderita kelaparan. Yusuf adalah anak yang dibuang dan ‘dianggap hilang’ oleh saudara-saudaranya; namun ternyata ia masih hidup dan di negeri asing berfungsi menyelamatkan; Yusuf pun akhirnya juga menyelamatkan saudara-saudaranya yang telah membuangnya dan menganggapnya telah hilang. Perintah Yesus kepada para rasul untuk pergi kepada domba-domba yang hilang kiranya mengingatkan kisah saudara-saudaranya yang menderita kelaparan. Yang dibuang telah menjadi penyelamat, itulah misteri karya penyelamatan sejati. Hidup pribadi atau bersama kita, entah di dalam keluarga, pastoran, biara, tempat kerja dst.. mungkin tidak beres alias kurang atau tidak bahagia, maka baiklah jika demikian adanya kami ajak anda untuk menemukan sesuatu yang hilang atau mungkin telah anda singkirkan, yaitu charisma atau spiritualitas pendiri atau visi organisasi.  Kata Firaun kepada rakyatnya kiranya dapat kita hayati pada masa kini merupakan suatu ajakan untuk mencari dan menemukan kembali  sesuatu yang penting bagi hidup kita pribadi maupun hidup bersama. Semua charisma, spiritualitas dan visi hemat saya dijiwai oleh cintakasih, dicanangkan berdasarkan cintakasih dan diharapkan siapapun yang menghayatinya semakin hidup dan bertindak saling mengasihi. Saling mengasihi berarti memberi dan menerima kasih, hemat saya pada masa kini yang sulit dihayati adalah menerima kasih. Ingat kasih tidak selalu mulus dan nikmat di tubuh, hati, jiwa maupun akal budi, tetapi juga menyakitkan atau bahkan menusuk hati, sebagaimana kasih sering disimbolkan dengan hati yang tertusuk. Menerima kasih berarti menerima pujian, saran, kritik, nasihat, ejekan, cemoohan, dst.. Bukankah menerima saran, kritik, nasihat, ejekan dan cemoohan cukup berat dan banyak orang menolaknya? Hendaknya semua saran, kritik, nasihat, ejekan dan cemoohan disikapi dan dihayati sebagai perwujudan kasih dari saudara-saudari kita, maka tanggapi dengan singkat dan rendah hati dengan kata ‘terima kasih’.

“Bersyukurlah kepada Tuhan dengan kecapi; bermazmurlah bagiNya dengan gambus sepuluh tali! Nyanyikanlah bagiNya nyanyian baru; petiklah kecapi baik-baik dengan sorak-sorai

 (Mzm 33:2-3)

Ign 6 Juli 2011

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.