“Barangsiapa mendengar perkataanKu dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku ia mempunyai hidup yang kekal”
(Yes 49:8-15; Yoh 5:17-30)

“Ia berkata kepada mereka: “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.” Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah. Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. Sebab Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri, bahkan Ia akan menunjukkan kepada-Nya pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi dari pada pekerjaan-pekerjaan itu, sehingga kamu menjadi heran. Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya. Bapa tidak menghakimi siapa pun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.”(Yoh 5:17-24), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
•    Menjadi utusan maupun percaya kepada seorang utusan rasanya tidak mudah, orang sering kurang percaya diri sabagai yang diutus atau kurang percaya kepada seorang utusan. Sabda Yesus hari ini mengajak dan mengingatkan kita semua untuk mawas diri sejauh mana kita percaya kepada sabda-sabdaNya dan kemudian melaksanakannya dalam hidup sehari-hari. “Barangsiapa mendengar perkataanKu dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku ia mempunyai hidup yang kekal”, demikian sabda Yesus. Selama berpartisipasi di dalam Perayaan Ekaristi, setelah dibacakan sabda Tuhan kita menjawab “Tanamkanlah sabda-Mu,  ya Tuhan, dalam hati kami”. Jika sabda Tuhan sungguh tertanam di dalam hati kita masing-masing, kami percaya kita akan hidup berbahagia, damai sejahtera dan ketika dipanggil Tuhan langsung menikmati hidup kekal, berbahagia selama-lamanya di sorga. Percaya memang tidak mudah, maka baiklah saya mengingatkan sekali lagi: sedikit banyak HP (Hand Phone) telah menggerogoti kepercayaan kita kepada saudara-saudari kita, dan ketika kita kurang percaya kepada saudara-saudari kita maka akan sulit percaya kepada Tuhan. Bukankah ketika belum ada HP kita jarang mengkontak/menghubungi suami, isteri, anak-anak, pacar/tunangan, rekan, atau sahabat kita, namun ketika memiliki HP hampir setiap jam atau ada kesempatan kita menghubunginya. Pertanyaan: ketika saya menghubungi mereka melalui HP -> hal itu merupakan tanda cinta atau tanda curiga? Hemat saya merupakan tanda curiga alias kurang percaya. Percaya kepada Tuhan identik dengan percaya kepada saudara-saudari kita, yang hidup dan bekerja setiap hari bersama kita.

•    “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.” (Yes 49:15), demikian sabda Tuhan melalui nabi Yesaya. Tuhan tidak pernah melupakan kita, meskipun kita sering melupakan atau mengabaikanNya. Para ibu kiranya dapat menjadi teladan dalam mengingat dan mengenangkan kebaikan atau kasih karunia Tuhan, mengingat dan mempertimbangkan pernah mengandung dan mendampingi dengan penuh kasih dan perhatian `kasih karunia Tuhan’, bayi, anak manusia, yang dianugerahkan kepadanya. Maka dengan ini kami berharap kepada para ibu untuk menjadi kekuatan dalam hal mengenangkan kasih karunia atau sabda-sabda Tuhan dalam keluarganya, sehingga seluruh anggota keluarga ingat dan senantiasa mengenangkan kasih karunia atau sabda-sabda Tuhan. Dalam kenyataan dapat kita lihat bahwa yang rajin hadir dalam doa bersama di lingkungan pada umumnya adalah para ibu. Kita ingat juga sebuah lagu “Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia”. Semoga para ibu atau rekan perempuan sungguh dapat menjadi sinar yang menerangi hidup bersama dimanapun dan kapanpun. Semoga kehadiran dan sepak terjang rekan-rekan perempuan atau para ibu sungguh menggairahkan dan menggembirakan kehidupan bersama dimanapun dan kapanpun.

“TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya. TUHAN setia dalam segala perkataan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya. TUHAN itu penopang bagi semua orang yang jatuh dan penegak bagi semua orang yang tertunduk.” (Mzm 145:8-9.13b-14)

Jakarta, 6 April 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.