6 Agustus

"Tuhan betapa bahagianya kami berada di tempat ini”

(2Ptr 1:16-19; Mat 17:1-9)

” Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia. Kata Petrus kepada Yesus: "Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia." Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia." Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan. Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata: "Berdirilah, jangan takut!" Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorang pun kecuali Yesus seorang diri. Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: "Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati." (Mat 17:1-9), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta Yesus Menampakkan KemuliaanNya hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Setiap dari kita kiranya memiliki suatu pengalaman yang sangat mengesan dan menyentuh hati kita, sehingga pengalaman tersebut menggerakkan dan memotivasi kita untuk melakukan apa yang terbaik dalam perjalanan hidup maupun penghayatan panggilan serta pelaksanaan tugas kewajiban kita, sebagaimana dialami oleh tiga murid/rasul di ‘sebuah gunung yang tinggi’. Pengalaman berada di puncak gunung yang tinggi memang sungguh mengesan dan mempesona, maka (maaf kalau sedikit porno) bagi seorang lelaki ‘berada di puncak gunung nona’ alias mencium payudara pasti mengesan, baik bagi sang lelaki sendiri maupun sang nona yang bersangkutan. Dalam perjalanan hidup, penghayatan panggilan maupun pelaksanaan tugas kewajiban, kiranya kita sering mengalami frustrasi, putus-asa atau tak bergairah alias lesu. Jika anda sedang mengalami yang demikian itu kami ajak untuk mengenangkan pengalaman yang pernah menyentuh dan mengesan, yang kemudian menggerakkan dan menggairahkan cara hidup dan cara bertindak kita. Pengalaman itu antara lain saat-saat kita memasuki hidup baru, entah sebagai suami-isteri, imam, bruder atau suster ataupun pelajar dan pekerja baru. Maka dengan ini kami mengajak anda sekalian untuk senantiasa kembali ke pengalaman tersebut alias ‘back to basic’. Atau marilah kita hayati doa ini dalam hidup kita sehari-hari, yaitu ” Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” (Rap 3:22-23). Kasih setia Tuhan nampak dan menjadi nyata dalam dan melalui aneka sentuhan, sapaan, perhatian dan perlakuan orang lain terhadap diri kita yang lemah dan rapuh ini.

·   “Suara itu kami dengar datang dari sorga, ketika kami bersama-sama dengan Dia di atas gunung yang kudus. Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu” (2Ptr 1:18-19), demikian kesaksian Petrus atas pengalaman penampakan Yesus dalam KemuliaanNya. Marilah apa yang dikatakan oleh Petrus ini juga menjadi kata-kata kita atau keyakinan iman kita. Suara Tuhan antara lain menggema dalam hati yang jernih dan bersih alias suci, sehingga menjadi suara hati atau dalam aneka ajakan dan kehendak baik dari saudara-saudari kita. Saudara-saudari kita tersebut antara lain orangtua, para guru/pendidik, pastor/pendeta/kyai, orang bijak dst.. , yang sering menyampaikan apa-apa yang baik dan bijak, yang menyinari cara hidup dan cara bertindak kita, sehingga kita dapat berjalan di jalan yang benar. Maka dengan ini kami mengajak anda sekalian untuk mengenangkan aneka nasihat, ajaran, petuah, saran, tegoran dst.. dari orangtua, guru/pendidik, pastor/ pendeta/kyai dst..yang pernah kita terima dalam dan melalui aneka kesempatan. Mengenangkan berarti mengingat-ingat dan mencecap dalam-dalam nasihat, ajaran, petuan, saran dan tegoran tersebut, sehingga menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita. Maka mungkin baik jika ada kata-kata yang mengesan dan menyentuh hati kita, hendaknya ditulis dan kemudian pasang saja tulisan tersebut di tempat-tempat dimana setiap hari kita dapat melihatnya. Biarlah kata-kata mutiara yang mengesan dan menyentuh tersebut senantiasa menyinari cara hidup dan cara bertindak kita. Biarlah hati kita senantiasa bersinar, yang menjadi nyata dalam keceriaan dan kegembiraan kita dalam kondisi maupun situasi apapun.

“TUHAN adalah Raja! Biarlah bumi bersorak-sorak, biarlah banyak pulau bersukacita!Awan dan kekelaman ada sekeliling Dia, keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Nya.Gunung-gunung luluh seperti lilin di hadapan TUHAN, di hadapan Tuhan seluruh bumi.Langit memberitakan keadilan-Nya, dan segala bangsa melihat kemuliaan-Nya” (Mzm 97:1-2.5-6)

Ign 6 Agustus 2011

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.