50 Tahun Skolastikat SCJ: Siapkan Nabi-nabi Cinta Kasih (1)

50 Tahun Skolastikat SCJ

MINGGU terakhir Juni lalu menjadi hari-hari yang membahagiakan bagi para warga Skolastikat SCJ. Perayaan lima puluh tahun hadirnya Skolastikat SCJ di Yogyakarta menjadi pusat seluruh kegiatan. Berbagai persiapan dilakukan untuk menyongsong pesta besar itu.

Saat menginjakkan kaki di lingkungan Skolastikat SCJ yang terletak di Jalan Kaliurang Km 7,5 itu, tampak wajah-wajah tegang. Namun lebih banyak wajah-wajah ceria yang ditemui. Saat hari yang ditunggu-tunggu, Rabu (25/6), sukacita itu semakin sempurna saat ratusan umat dan imam merayakan Perayaan Pesta Emas di lapangan basket Skolastikat SCJ.

Skolastikat SCJ di Yogyakarta hadir untuk mendampingi para calon imam dan biarawan SCJ. Dari tempat inilah para imam dan bruder SCJ mendapatkan pendidikan untuk menjadi pelayan-pelayan umat di mana pun mereka diutus.

Mereka menggembleng diri untuk menjadi nabi-nabi cinta kasih dan pelayan perdamaian. Tentu saja hal ini tidak mudah, karena para calon SCJ mesti berhadapan dengan berbagai tantangan yang ada.

Produk Skolastikat SCJ tahun 1966

Perayaan Pesta Emas Skolastikat SCJ dipimpin oleh Mgr. Aloysius Sudarso SCJ, Uskup Agung Keuskupan Palembang.

Mgr. Sudarso sendiri merupakan penghuni Skolastikat SCJ tahun 1966. Ia juga sempat menjadi rektor Skolastikat SCJ selama dua periode (1978-1986), sebelum terpilih menjadi propinsial dan uskup. Sebanyak 53 imam mendampingi Mgr Sudarso dalam perayaan ini bersama Uskup Emeritus, Mgr Henrisoesanta SCJ.

Dalam homilinya, Mgr Sudarso mengatakan bahwa kehadiran skolastikat bukan sekedar suatu upaya-upaya manusia. “Roh Kudus sendiri yang membimbing rumah pendidikan ini melalui banyak orang, melalui para pendidik seperti Pater Hoovers, Pater Elling, Pater Bert van der Heijden dan Pater. Cees van Paassen serta melalui para donatur,” kata Mgr. Sudarso.

Karena itu, merayakan Pesta Emas berarti juga mengenang mereka yang telah berjasa dalam proses pendidikan para calon imam dan biarawan SCJ.

Berkenaan dengan tema yang diangkat dalam perayaan ini, yaitu Menjadi Nabi Cinta Kasih dan Pelayan Perdamaian, Mgr. Sudarso mengatakan bahwa kesadaran baru tentang nabi tumbuh dalam diri kongregasi dan karakter seorang religius di tengah-tengah Gereja. Kesadaran baru itu memberi kedalaman hidup, kesaksian dan bukan orang yang berkeliling berteriak-teriak dan protes.

“Dibutuhkan kesadaran bahwa Gereja menjadi tempat Yesus menghadirkan diriNya. Gereja ingin menampilkan bahwa dunia ini lebih daripada yang ada,” tandas Mgr. Sudarso.

Untuk itu, Mgr. Sudarso menekankan iman yang mendalam dari para calon SCJ. Iman menjadi akar dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, iman menunjang kehidupan manusia.

“Iman para calon itu mesti ditunjukkan melalui pengalaman akan Tuhan yang hidup. Karena itu, sangat penting pengalaman pribadi akan Allah. Caranya adalah dengan mendengarkan Sabda Tuhan dalam konteks zaman ini. Tuhan masih berkarya sampai saat ini,” kata Mgr. Sudarso.

Para imam dan biarawan SCJ yang lahir dari proses pendidikan di Skolastikat SCJ Yogyakarta ternyata tidak hanya menjadi nabi-nabi cinta kasih dan pelayan perdamaian di Bumi Pertiwi ini.

Sejumlah anggota SCJ Indonesia kini bekerja di sejumlah negara sebagai misionaris. Negara-negara itu adalah Philippina, Vietnam, Amerika Serikat, Kanada, Madagaskar, Mozambik, India (mulai membuka dan selama lebih dari sepuluh tahun bekerja), Italia (sebagai staf di Generalat), dan akan memulai karya misi di Tiongkok.

“Sejak dimulai tahun 1964, Skolastikat SCJ telah memberikan kontribusi yang begitu banyak kepada Kongregasi SCJ secara keseluruhan,” tandas Romo Andreas Madya Srijanto SCJ, Propinsial SCJ Indonesia.

Ia mengatakan, SCJ Indonesia merupakan sebuah propinsi yang sedang bertumbuh dengan cepat, sedang mencoba untuk berusaha mandiri dalam bidang keuangan. Pendidikan mendapatkan porsi perhatian yang besar dengan biaya yang besar pula.

“Tujuan pendidikan di skolastikat untuk mendidik para frater dan bruder tentang sejarah dan karisma kongregasi, dan mensyukuri segala sesuatu yang dianugerahkan Tuhan dan mendalami pengetahuan mereka,” kata Rm. Madya tentang tujuan kehadiran Skolastikat SCJ di Yogyakarta.

Untuk mempersiapkan diri, para frater belajar Filsafat dan Teologi di Fakultas Teologi Wedabhakti, Universitas Sanatadharma. Setiap hari kuliah, para frater menaiki sepeda atau berjalan kaki menuju kampus yang terletak di Jalan Kaliurang, Km 6,5, Yogyakarta.

Saat ini ada 36 frater yang sedang belajar filsafat. Akan ada 7 frater yang akan bergabung setelah mengikrarkan kaul pertama di Novisiat St Yohanes Gisting, Lampung.

“Memang, kita sedang bertumbuh secara mantap dalam hal jumlah dalam konteks Indonesia yang menurun jumlah panggilan untuk menjadi imam dan biarawan. Tetapi kemajuan ini juga memberikan dua tantangan utama. Pertama, kurangnya para pendamping (pendidik) bagi para frater. Sekarang ini hanya ada lima imam yang mendampingi para calon imam dan bruder. Kedua, kita membutuhkan dana untuk membiayai rumah pendidikan yang besar ini. Kami sangat bersyukur atas bantuan dari para donatur dan SCJ dari propinsi lain seperti Amerika Serikat, Jerman dan Belanda,” kata Pater FX Priyo Widarto SCJ, Rektor Skolastikat SCJ saat ini.

Yah, imam-imam bukan hanya milik kongregasi. Lebih dari itu, para imam adalah milik umat. Mereka berasal dari umat, menyiapkan diri untuk pelayanan bagi umat Allah yang sedang berziarah di dunia ini. Umat pun diharapkan tetap berpartisipasi dalam pendidikan para calon imam dan biarawan. Ulurkan tangan Anda!

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.