50 Tahun Konsili Vatikan II: Peta Perjalanan Iman (4)

SUNGGUH suatu upaya bijaksana yang secara mendasar diprakarsai oleh Paus Benediktus XVI, dengan Porta Fidei, untuk mendesak Gereja merayakan 50 tahun Konsili Vatikan II dengan cara kembali lagi kepadanya, mempelajarinya lagi secara lebih segar, teks-teks yang telah disetujui dalam Konsili itu.

Ada landasan-landasan historis bagi interpretasi atau aplikasi pengajaran Konsili Vatikan II, dan kaitannya dengan pengakuan (claim) apakah suatu policy dan perkembangan baru adalah sesuai, atau tidak sesuai dangan apa yang dimaksudkan oleh Konsili Vatikan II.

Sering terdengar ada yang mengatakan: tidak sesuai!  50 tahun setelah pembukaan Konsili Vatikan II tahun 1962 itu, Gereja katolik telah berubah. Konsili telah mengubahnya. Empat Paus sesudah konsili mengubahnya lebih lanjut. Teks Konsili Vatikan II sekarang ini tidak bisa lagi dibaca seperti ketika masih baru dihasilkan, yang pada waktu itu terasa sangat baru. Yang pasti adalah bahwa dengan kembali kepada teks  Konsili Vatikan II seperti dimaksudkan ketika itu, Gereja Katolik akan menyegarkan kembali pemahamannya tentang dirinya sendiri dan tentang misinya.

Hal itu akan sangat bermanfaat, namun hal itu juga akan mengakibatkan mengorek luka lama tentang kontroversi yang terjadi sekitar penafsiran teks Konsili. Namun hal itu juga bisa menguntungkan bila mengarahkan Gereja kembali kepada Kitab Suci, Tradisi dan akar-akar teologis, di mana kekayaan baru sedang menanti untuk digali dengan bantuan rahmat Allah. Proses ini disebut ressourcement. Kata-kata wasiat Kardinal Martini ialah permintaannya kepada Gereja untuk kembali kepada Kitab Suci. Itulah agenda utama untuk reformasi Gereja katolik.

Paus Benediktus XVI berulang-ulang menekankan bahwa ada lebih dari satu cara untuk memahami Konsili Vatikan II, dan bukan semua pemahaman itu memiliki keabsahan yang sama. Beberapa catatan yang diberikan oleh Paus pada tahun 2005, tidak lama setelah Ia terpilih sebagai Pengganti St. Petrus, telah dimengerti sebagai niat Paus untuk lebih memihak, bahkan ingin memaksakan penafsiran konservatif terhadap apa yang sudah dicapai oleh Vatikan II. Paus menampilkan lagi kontras (pertentangan) antara “hermeneutic of continuity” (penafsiran berkesinambungan, yang lebih Ia setujui) dan “hermeneutic of rapture” (penafsiran pemutusan), yang dia tolak. Namun, penafsiran Paus itu sendiri adalah suatu penafsiran konservatif tentang apa yang Ia katakan sendiri.

Kata-kata sambutannya di hadapan Kuria Roma pada hari Natal 2005 itu adalah lebih jelas menyatakan posisi Paus yang sebenarnya. Ia sepenuhnya mengakui adanya ketegangan antara kontinuitas dan diskontinuitas yang manandai banyak perdebatan dalam Konsili, dengan adanya kelompok yang pro kontinuitas di suatu tempat, dan pro diskontinuitas (reformasi) di tempat lainnya. Paus tidak memiliki mandat untuk memaksakan penafsiran kontinuitas di atas ketegangan itu – yaitu suatu pandangan bahwa sebenarnya Konsili Vatikan II tidak mengubah apa-apa. Suatu penyimpangan serius atas hasil karya Vatikan II seperti itu akan mengarah pada penolakan atasnya.

Kontinuitas versus diskontinuitas ( ressourcement vs aggiornamento)

Sering kali satu-satunya kontinuitas (ressourcement) yang bisa dilihat dalam teks Konsili adalah dengan kembali ke Kitab Suci, daripada kembali ke sejarah Gereja belakangan (recent Church history). Tidak ada kontinuitas antara deklarasi Nostra Aetate dalam hubungan dengan orang Yahudi dan umat beriman lain, misalnya, dengan sikap Anti-Yahudi seperti dipromosikan oleh Konsili Lateran IV tahun 1215. Dan ini, Puji Tuhan, sungguh-sungguh suatu diskontinuitas (pemutusan) dengan tradisi sebelumnya.

Lagi, tentang Deklarasi tentang Kebebasan Beragama secara frontal bertentangan dengan ensiklik Paus Pius IX yang bernama “Syllabus of Errors”, yang adalah kontinuitas dari apa yang secara tradisional menjadi ajaran Gereja bahwa ‘error tidak memiliki hak”. Untuk menunjuk latar belakang deklarasi kebebasan beragama itu, maka sepertinya lebih menjadi kontinuitas dari tradisi pemikiran zaman Pencerahan (Aufklärung) daripada dengan tradisi Gereja.

Teks Konsili seperti adanya, adalah bagaikan suatu potret yang diambil dari sebuah perjalanan, dan banyak wilayah teologis yang terliput di dalamnya. Teks-teks awal Konsili nampak belum matang. Dalam beberapa kasus, misalnya soal dekrit tentang media massa, nampak sangat miskin. Namun tema itu tetap dilanjutkan pembahasannya, karena belum ada teks lain yang siap untuk diperdebatkan. Alasan mengapa teksnya belum siap adalah salah satu pokok yang paling sensasional dalam sejarah Konsili Vatikan II, yang sangat mewarnai apa pun yang Konsili lakukan kemudian.

Kuria Roma telah penyiapkan teks yang dimaksudkan untuk disetujui menjadi dratf dan menjadi keputusan Konsili. Teks itu hanya mencerminkan pandangan Anggota Kuria  yang sempit tentang dunia sejauh mereka kenal (maklum karena mungkin mereka hanya tinggal di Roma saja) dan berusaha supaya para bapa konsili menyetujuinya. Teks itu digambarkan sebagai hanya mengatakan: “Seperti yang kita katakan kemarin… (as we were saying yerterday…). Teks Kuria Roma itu benar-benar mencerminkan kontinuitas dan tidak akan mengubah apa pun di dalam Gereja Katolik. Dan para uskup setelah membaca teks Kuria Roma itu, langsung menyapunya dari meja dan memulainya lagi dari awal dan sama sekali baru. Hal ini benar-benar bisa disebut “rupture”, diskontinuitas, keterputusan atau bahkan kudeta (coup d’état) terhadap Konsili Vatikan II rancangan Kuria Roma.

Tujuan Konsili Vatikan II yang sesungguhnya, seperti disampaikan oleh Paus Yohanes XXIII ketika mengumumkannya dan membukanya, adalah untuk mencari suatu aggiornamento – suatu keterbukaan kepada dunia. Ketika Konsili sedang berlangsung, penggantinya, yaitu Paus Paulus VI, mendukungnya dan mengawalnya dan menjadikannya mottonya sendiri. Tahun 1964 Paulus VI menyatakan, “Kita ingin mengusahakan supaya aggiornamento menjadi perhatian seluruh Gereja. Ia harus menjadi pendorong bagi Gereja untuk meningkatkan vitalitasnya dan kemampuannya menggali potensinya sendiri dan memperhatikan dengan cermat tanda-tanda zaman, selalu dan di mana-mana, menguji segala-sesuatu dan memegang teguh apa yang baik dengan antusiasme semangat kemudaanya”.

Apa yang sangat terasa adalah bahwa dengan usaha-usaha itu nampak suatu keinginan baik untuk tidak membekukan Gereja pada suatu masa atau tahap perkembangannya ( to freeze the Church at one stage of its development.). Hal itu menunjukkan bahwa Konsili tidak bermaksud untuk menentukan cetak biru sebagai suatu usulan target, melainkan sebagai proses yang harus dikerjakan terus, sebagai sebuah peta perjalanan yang akan dilewati. 

Selamat menyongsong peringatan 50 tahun pembukaan Konsili Vatikan II, 11 Oktober 1962–2012.

Dari The Tablet 6 Oktober 2012.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.