50 Tahun Gereja Paroki St. Yoseph Purwokerto Timur, Lalu Apa? (2)

MENARIK ketika saya berkesempatan mengikuti misa syukur puncak peringatan 50 Tahun Paroki St. Yosepp Purwokerto timur. Selain misa dipimpin oleh Mgr. Yos Suwatan MSC, Uskup Diosis Manado, saya juga mencoba mencermati isi sambutan Bpk.Uskup Diosis Purwokerto Mgr. Julianus SunarkaSJ.

Sebagai romo kapelan di paroki ini beberapa dasarwarsa silam, demikian kisah Mgr. Suwatan, di masa-masa awal pendirian paroki bentuk pelayanan pastoralnya masih secara sederhana dipraktikkan. Namun itu sudah sangat menyentuh. Karena itu, tak heran, kalau di akhir homily, kisah itu sungguh membetot emosi dan umat pun riuh bertepuk tangan.

Lain lagi dengan Mgr. Sunarka.

Di awal sambutan beliau pada akhir misa, Mgr. J. Sunarka menyanyikan lagu mars St.Yosep dengan iringan musik tepuk tangan. Meski Bapak Uskup sudah sepuh, beliau menyanyikan dengan diikuti derap langkah kaki ditempat. Selanjutnya beliau menggharapkan sekaligus meminta kepada umat yang hadir tetap semangat dan dijiwai mars tersebut.

Beliau minta, meski usia telah menapaki hingga umur 50 tahun, namun Paroki St. Yoseph Purwokerto Timur jangan sampai mengalami impotensi, tetapi tetap mampu melahirkan paroki-paroki baru seperti misalnya Paroki Banyumas.

Semoga dalam waktu mendatang, demikian harapan Bapak Uskup, Paroki St. Yoseph ini juga akan melahirkan Paroki Sokaraja dan Paroki Karanggitung. Lain itu, Bapak Uskup juga berharap agar paroki ini juga mampu melahirkan panggilan imamat.

Oleh karena itu keluarga muda katolik diharapkan memiliki empat anak; jangan cukup hanya dengan dua anak saja. Pada bagian awal, Bpk.Uskup Sunarka juga mengundang Mgr. Yos Suwartan agar ‘pulang mudik’ ke Keuskupan Purwokerto jika sekali waktu nanti –setahun lagi—sudah boleh menikmati masa pensiun.

Menyenangkan sekali.

Gereja-Santo-Yosep-Purwokerto-2

Gereja Paroki St. Yoseph Purwokerto Timur kini sudah berumur 50 tahun. (Ist)

Jaga kekompakan
Perdamaian dalam komunitas paroki akan terbentuk, jika di paroki tidak ada tempat untuk bergosip, iri hati, fitnah, pencemaran nama baik dan senantiasa bermurah hati akan pengampunan. Bukankah cinta menutup semua itu?

Oleh karena itu pertanyaan yang sering kali muncul yakni apakah di tengah umat hidup dan menghidupi sikap lemah lembut, dan rendah hati? Apakah di antara umat terjadi perebutan pengaruh? Komunitas paroki dapat terlihat dari bagaimana sikap umat memandang orang miskin dan bagaimana sikap kemiskinan berkembang dan hidup di tengah umat?

Miskin di hati dan miskin di hadapan Tuhan sbg sebuah semangat hidup, sehingga tidak menempatkan keimanan pada harta benda/kekayaan. Bagaimana belajar dan dimampukan untuk bersikap miskin?

Yesus menjelaskan kepada Nikodemus: “Ini datang dari atas , karena satu-satunya yang dapat melakukan hal ini adalah Roh Kudu , dan semangat kemiskinan adalah pekerjaan Roh Gereja yang dibangun oleh Roh Kudus. Roh menciptakan kesatuan. Roh membawa kita untuk menyaksikan. Roh membuat kita miskin, karena Ia adalah kekayaan kita dan membawa kita untuk merawat orang miskin”

Semoga ini juga menjadi perutusan parokiku.

Jayalah parokiku

Lain lagi dengan kesan yang diguratkan oleh Suster Reny OP. “Santo Yosep yang menjaga keluarga Nasareth masa kini. Semoga di usia setengah abad ini, umat Paroki St. Yosep semakin guyub, anak-anak muda semakin giat dan anak-anak sekolah minggu semakin rajin demi menegakkan Kerajaan Allah yang menjadi visi Paroki St. Yoseph.Profisiat dan mari berjuang bersama Rahkmat-Nya. Profisiat juga kepada para pastor dan panitia yang dengan tenaga dalam mempersiapkan segalanya. Capaimu, cucuran keringatmu, dan sumbangsihmu nantinya akan di perhitungkan oleh Tuhan. Terima kasih St. Yoseph tetap jaya dan berkembang.

Photo credit: Gereja Paroki St. Yoseph Purwokerto Timur (Ist)

Tautan:  Uskup Purwokerto Sambut 50 Tahun Gereja Paroki St. Yoseph Purwokerto Timur (1)

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.