5 Roti 2 Ikan, Lewat Yesus Kita Kenal Allah (1)

PERISTIWA Yesus memberi makan 5.000 orang merupakan penampilan Yesus yang paling ‘sukses’ dan ‘meriah’. Ada 5.000 laki-laki, belum terhitung perempuan dan anak-anak yang hadir. Entah berapa banyak penyembuhan dan berbagai ajaran yang disampaikanNya. Tetapi Yohanes tidak memperhatikan hal-hal itu, melainkan peristiwa yang lebih hebat lagi: Yesus perduli pada kebutuhan semua orang itu.

Sayang, para murid tidak menangkap keprihatinan Yesus. Mereka hanya melihat ketidak mampuan mereka. 200 dinar, jumlah uang tabungan Yesus yang dipegang oleh Yudas, dapat memberi makan 200 keluarga. Jika 1 keluarga terdiri dari 5 orang, maka yang dapat makan hanya 1000 orang. Berarti jatah makan 1 orang harus dibagi untuk 5 orang atau lebih. Pasti sangat tidak cukup.

Siapa anak yang membawa 5 roti dan 2 ikan? Roti dan ikan sebanyak itu pasti bukan bekal untuk dirinya sendiri. Mungkin ia membawa bekal untuk seluruh keluarganya, orang tua dan saudaranya. Atau dia diutus orang tuanya memberi bingkisan kepada Andreas, yang sudah mengantar orang tuanya untuk bertemu Yesus.

Siapapun anak itu, bungkusan yang diserahkannya, menjadi awal karya luar biasa Yesus. Pemberian ini menjadi ungkapan syukur Yesus kepada BapaNya, sehingga dapat dibagikan secara berlimpah kepada semua orang dengan sisa 12 bakul. Tetapi kisah ini diakhiri dengan Yesus menyingkiri orang banyak yang hendak mengangkatNya menjadi raja.

Mengenal Allah
Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa melalui Yesus, kita mengenal Allah bukan hanya sebagai pemberi karunia; Allah Bapa juga Allah yang tahu bersyukur; berterimakasih. Ketulusan hati anak itu, rasa syukur Yesus dan rasa terimakasih Bapa, mengalirkan berkat kepada semua yang membutuhkannya.

Peristiwa ini masih terjadi sampai sekarang. Setiap hari Minggu, dalam setiap Perayaan Ekaristi, orang datang dengan beragai macam tujuan. Entah mencari ambisi mereka sendiri, sibuk dengan keinginan dan kebutuhan mereka sendiri atau sekedar datang mengisi waktu, menonton keramaian. Mereka seperti para rasul yang tidak peka pada kebutuhan orang banyak atau seperti orang banyak yang datang hanya untuk mencari roti dan mencari raja demi ambisi mereka saja.

Tetapi seperti dulu, keprihatinan dan keperdulian Tuhan Yesus dapat terwujud karena ada anak kecil yang rela berbagi itu, demikian juga sekarang, Ekaristi ini menjadi berkat bagi kita semua karena selalu ada orang-orang kecil yang baik dan mau berbagi diantara kita.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.