5 Okt – Gal 1:13-24; Luk 10:38-42

"Tuhan tidakkah Engkau peduli bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri?”

(Gal 1:13-24; Luk 10:38-42)

 

“Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku." Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” (Luk 10:38-42), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Kisah Warta Gembira di atas ini sering menjadi inspirasi motto “Ora et laora” (=berdoa dan bekerja) atau “contemplativus in actione” (=menemukan Tuhan dalam segala sesuatu atau menghayati segala sesuatu dalam Tuhan). Mayoritas waktu dan tenaga kita kiranya lebih untuk bekerja daripada berdoa, maka baiklah kita mawas diri sejauh mana selama bekerja kita dijiwai oleh iman kita, sehingga dapat menghayati segala sesuatu dalam Tuhan. Memang ada orang bekerja keras tanpa kenal lelah dengan harapan dipuji orang lain, dengan kata lain bekerja untuk mencari pujian, dan ketika tidak dipuji atau tidak diperhatikan orang lain tidak mau bekerja atau marah-marah, mengeluh atau menggerutu seperti Marta. Menghayati segala sesuatu dalam Tuhan berarti dalam apapun yang kita kerjakan atau alami kita senantiasa bersama dan bersatu dengan Tuhan, dan dengan demikian kita hidup dan bekerja sesuai dengan kehendak Tuhan. Hidup dan bekerja bersama Tuhan meskipun secara phisik dan sosial sendirian pasti tidak mengeluh atau menggerutu ketika harus menghadapi aneka tantangan, hambatan dan masalah, melainkan tetap sabar, tenang, bergairah dan ceria.  Memang agar dapat demikian kita tidak boleh melupakan untuk menyisihkan waktu dan tenaga secara khusus setiap hari untuk berdoa, berkomunikasi secara  pribadi dengan Tuhan. Doa orang yang setia dan taat pada panggilan dan tugas pengutusannya alias bekerja keras sesuai dengan kewajibannya pada umumnya lebih berkwalitas daripada mereka yang bermalas-malas dalam melaksanakan tugas pengutusan. Sekali lagi kami ingatkan bagi kita semua bahwa hidup dan bekerja kehilangan kegairahan dan keceriaan kehilangan maknanya dan dengan demikian tidak menarik dan mempesona bagi orang lain.

·   “Mereka hanya mendengar, bahwa ia yang dahulu menganiaya mereka, sekarang memberitakan iman, yang pernah hendak dibinasakannya.Dan mereka memuliakan Allah karena aku” (Gal 1:23-24), demikian sharing pengalaman iman Paulus kepada umat di Galatia, kepada kita semua orang beriman. “Memberitakan iman” itulah kiranya yang baik kita renungkan atau refleksikan. Pemberitaan iman pertama-tama adalah melalui perilaku atau tindakan bukan omongan atau wacana. Maka marilah kita mawas diri apakah tindakan atau perilaku kita setiap hari sungguh memberitakan iman. Sebagai tanda bahwa cara hidup dan cara bertindak kita atau perilaku kita memberitakan iman adalah mereka yang melihat atau menyaksikan atau kena dampak perilaku kita tergerak untuk memuliakan Allah alias semakin beriman, semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah. Dengan ini kami mengingatkan kita semua: hendaknya jangan membanggakan diri sebagai yang beragama, memiliki kedudukan atau jabatan khusus dalam hidup dan bekerja bersama, aktif dalam aneka kegiatan keagaamaan dst…jika perilaku kita tidak baik, tidak bermoral. Keunggulan hidup  beriman atau sebagai murid Yesus Kristus adalah dalam tindakan atau perilaku yang baik dan berbudi pekerti luhur. Maka kami mengajak anda sekalian yang mengerti dan menguasai aneka nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan kehidupan secara intelektual, kami harapkan dengan rendah hati mentranformasikan nilai atau keutamaan tersebut kedalam tindakan atau perilaku. Semakin tahu banyak nilai atau keutamaan hendaknya juga semakin berperilaku dan bertindak baik, berbudi pekerti luhur. Dengan kata lain kami berharap kepada para pemimpin atau atasan dalam kehidupan dan kerja bersama dimanapun untuk menjadi teladan dalam penghayatan nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan kehidupan alias menjadi saksi-saksi iman dalam hidup sehari-hari.

 

“TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi.” (Mzm 139:1-3)

 

Jakarta, 5 Oktober 2010

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.