5 Agustus

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?”

(Ul 4:32-40; Mat 16:24-28)

” Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya."(Mat 16:24-28), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Sikap mental materialistis atau duniawi menjiwai cukup banyak orang pada masa kini, yang antara lain ditandai semakin maraknya korupsi di hampir semua bidang; tidak hanya di kalangan pejabat pemerintah saja korupsi dilakukan tetapi juga di antara wakil-wakil rakyat yang duduk di DPR, katanya mewakili rakyat namun dalam kenyataannya memperkaya diri sendiri. Ada impian sementara orang, dan beberapa orang telah mampu mewujudkan impian tersebut, yaitu “menumpuk atau mengumpulkan harta benda/uang untuk tujuh turunan”, dengan kata lain yang bersangkutan boleh dikatakan sebagai ‘pengumpul’. Memiliki harta benda atau uang sebanyak apapun ketika meninggal dunia atau dipanggil Tuhan tidak akan terbawa; apalagi ketika ahli waris yang ditinggalkan tidak rukun dan tak dapat kerjasama maka peninggalan harta benda atau uang akan menjadi masalah besar. Maka dengan ini kami mengharapkan kita semua untuk lebih mengutamakan keselamatan jiwa daripada tubuh, lebih berpedoman pada “human investment’ daripada ‘material investment”, lebih mengutamakan pendidikan yang baik bagi anak-anaknya daripada mewariskan harta benda atau uang. Saya pribadi sangat bersyukur dan berterima kasih kepada orangtua atau bapak-ibu saya yang miskin lebih mengutamakan pendidikan kami, anak-anaknya, daripada bangunan rumah atau harta benda lainnya. Kami berharap kepada para orangtua maupun para pengelola, pengurus dan pelaksana pendidikan/sekolah untuk lebih mengutamakan agar anak-anak atau peserta didik tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik, bermoral atau berbudi pekerti luhur daripada pandai alias cerdas otaknya saja. Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita untuk menhayati atau memfungsikan harta benda atau uang sebagaimana dikehendaki oleh Tuhan yaitu ‘bersifat sosial’; dengan kata lain semakin banyak memiliki harta benda atau uang hendaknya semakin hidup sosial, semakin banyak sahabat, karena juga semakin dikasihi oleh Tuhan maupun sesamanya.

·   Sebab itu ketahuilah pada hari ini dan camkanlah, bahwa TUHANlah Allah yang di langit di atas dan di bumi di bawah, tidak ada yang lain. Berpeganglah pada ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya baik keadaanmu dan keadaan anak-anakmu yang kemudian, dan supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk selamanya.”(Ul 4:39-40).. Apa yang menjadi ‘ketetapan dan perintah Tuhan’  bagi saya hari ini? Semua ketetapan atau perintahNya kiranya dapat dipadatkan atau disimpulkan dalam perintah ‘saling mengasihi sebagai sesama manusia’ sebagai perwujudan terima kasih kita kepada Allah yang telah mengaruniai aneka macam kebutuhan hidup kepada kita.  Hemat saya tidak ada ajaran agama di dunia ini yang tidak mengajarkan ‘saling mengasihi satu sama lain’; mengaku beragama tetapi membenci orang lain hemat saya pembohong atau bidaah. Mengasihi maupun dikasihi hemat saya butuh pengorbanan atau penyerahan diri serta keterbukaan. Tanpa pengorbanan, penyerahan diri dan keterbukaan kasih bukanlah kasih, melainkan hanya merupankan upacara liturgis atau formal belaka. Salah satu perwujudan kasih yang tak boleh ditinggalkan adalah ‘boros waktu dan tenaga bagi yang terkasih’, bukan uang atau harta benda. Maka kami mengharapkan anda tidak pelit dalam hal waktu dan tenaga bagi yang anda kasihi. Tentu saja kami mengharapkan hal ini terjadi di dalam keluarga, yaitu suami-isteri saling memboroskan waktu untuk pasangannya, dan bersama-sama sebagai orangtua memboroskan waktu dan tenaga bagi anak-anak yang dianugerahkan Tuhan. Kami berharap kita semua menjauhi ‘ASRI”, yaitu Asyik Sibuk Sendiri. Maklum aneka macam sarana teknologi modern seperti computer yang dapat digunakan untuk internet pada masa kini tanpa sadar telah mendorong orang untuk asyik sibuk sendiri, tidak ada waktu dan tenaga lagi untuk berkomunikasi secara konkret, curhat dengan saudara-saudarinya, bahkan dengan saudara-saudari dalam satu keluarga. Komputer dengan internetnya, BB atau iPad telah membuat banyak orang menjadi begitu egois dan kurang sosial. Saya orang-orang kaya begitu memanjakan anak-anaknya dengan sarana-sarana modern tersebut, sehingga nampak krasan tinggal di rumah, tidak mengganggu orang lain, padahal yang terjadi sesungguhnya adalah proses pengurungan diri untuk menjadi egois. Marilah sedini mungkin anak-anak kita bina untuk siap sedia ‘memboroskan waktu dan tenaga bagi yang terkasih’ alias kita bina kepekaan sosialnya.

” Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala. Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu. Ya Allah, jalan-Mu adalah kudus! Allah manakah yang begitu besar seperti Allah kami? Engkaulah Allah yang melakukan keajaiban; Engkau telah menyatakan kuasa-Mu di antara bangsa-bangsa” (Mzm 77:12-15).

Ign 5 Agustus 2011

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.