4Maret

“Sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.”

(2Raj 5:1-15a; Luk 4:24-30)

“Dan kata-Nya lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon. Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu." Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi” (Luk 4:24-30), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Karena perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia dengan Cina, maka cukup banyak produk Cina, seperti kain/baju, sarana elektonik (HP, computer, AC dst..) membanjiri pasar di Indonesia dengan harga lebih murah daripada jenis barang yang sama produk Indonesia. Maklum sejauh saya dengar Indonesia menjadi laboratorium produk Cina, dimana di negeri Cina memang cukup banyak pabrik (karena beaya murah izin mendirikan pabrik maupun imbal jasa buruh). Secara kebetulan juga sikap mental konsumptif begitu menjiwai rakyat Indonesia, sehingga setiap ada produk baru ditawarkan orang pun berlomba untuk membelinya. Tanda sadar semuanya itu membentuk sikap mental rakyat kita kurang menghargai produk bangsanya sendiri, yang juga berdampak kurang atau tidak menghormati ide, gagasan, usulan dan saran dari bangsanya sendiri. Jika orang tidak mampu menghargai dan mengasihi yang dekat dan hidup setiap hari, maka memperhatikan dan mengasihi yang jauh merupakan bentuk pelarian dari tanggungjawab, sedangkan ketika orang mampu  menghargai dan mengasihi yang dekat, maka memperhatikan dan mengasihi yang jauh akan melayani. Maka dengan ini kami mengharapkan kita semua untuk saling menghargai dan mengasihi mereka yang hidup dan bekerja bersama setiap hari, maupun hasil karya dan sumbangannya. Pertama-tama dan terutama tentu kami berharap terjadi saling menghargai dan mengasihi antar anggota keluarga dalam sebuah keluarga, yang kemudian antar keluarga dalam satu RT atau desa atau kampung. Marilah kita saling menghargai satu sama lain dengan saudara-saudari kita yang dekat, termasuk dalam hal mengkomsumi aneka jenis makanan dan minuman hendaknya lebih mengutamakan untuk mengkomsumsi aneka produk dari dalam negeri sendiri.

·   "Bapak, seandainya nabi itu menyuruh perkara yang sukar kepadamu, bukankah bapak akan melakukannya? Apalagi sekarang, ia hanya berkata kepadamu: Mandilah dan engkau akan menjadi tahir."(2Raj 5:13), demikian kata para pegawai kepada Naaman, rajanya. Naaman semula malu demi penyembuhan dari penyakit harus mandi di sungai, namun atas saran dari para pegawai atau bawahan-nya akhirnya ia melakukan saran dari nabi asing itu. Pengalaman ini kiranya dapat menjadi pelajaran bagi para pemimpin atau atasan, yaitu dengan mendengarkan aneka saran, usul dan nasihat dari anggota atau bawahannya demi kamajuan dan keberhasilan usaha dan kerja. Pengalaman menunjukkan bahwa perusahaan atau karya maju berkembang serta menghasilkan buah yang membahagiakan dan menyelamatkan karena ada kerjasama yang bagus antara atasan dan bawahan, pemimpin dan anggota-anggotanya. Secara khusus kami berharap kepada para pemimpin atau atasan untuk tidak malu melakukan pekerjaan atau tugas sederhana, dan tentu saja kami harapkan juga hidup dengan sederhana. Pemimpin yang sederhana dan merakyat akan sukses dengan baik karya dan pelayanannya, sebaliknya pemimpin yang tidak mau sederhana dan tidak merakyat pasti akan gagal. Sekali lagi kami berharap kepada para orangtua untuk mendidik dan membiasakan anak-anak hidup sederhana serta mengerjakan pekerjaan-pekerjaan sederhana rumah tangga, sehingga anak-anak kelak kemudian berkembang menjadi orang sederhana dan pekerja keras. Jauhkan aneka bentuk pemanjaan pada diri anak, yang akan mencelakakan anak di masa depan maupun masa tua anda sendiri.

“Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?”

(Mzm 42:2-3)

Ign 4 Maret 2013

    

     

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.