4 September

“Apa urusanMu dengan kami?”
(1Kor 2:10b-16; Luk 4:31-37)

Kemudian Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea, lalu mengajar di situ pada hari-hari Sabat. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa. Di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan setan dan ia berteriak dengan suara keras: "Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah." Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: "Diam, keluarlah dari padanya!" Dan setan itu pun menghempaskan orang itu ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari padanya dan sama sekali tidak menyakitinya. Dan semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, katanya: "Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar." Dan tersebarlah berita tentang Dia ke mana-mana di daerah itu.” (Luk 4:31-37), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Mereka yang berbuat jahat atau para penjahat ketika tertangkap basah pada umumnya dengan keras melawan atau bahkan berusaha untuk membinasakan mereka yang berusaha menangkapnya atau paling tidak menakut-nakuti mereka yang mau menangkapnya. Memang begitulah cirikhas roh jahat atau setan yang pada umumnya menggertak mereka yang memusuhi atau membinasakannya. Sebaliknya roh baik pada umumnya bertindak dengan lembut. Maka marilah kita mawas diri: apakah kita lebih dikuasai oleh roh jahat atau roh baik, setan atau malaikat. Kami berharap kepada segenap umat beriman atau pa beragama senantiasa hidup dan bertindak dijiwai oleh roh baik atau malaikat, dan tanpa takut atau tanpa gentar berusaha mengusir roh jahat yang menguasai saudara-saudari kita. Marilah meneladan Yesus yang dengan tenang dan lembut namun tegas mengusir roh jahat dengan berkata “Diam, keluarlah dari padanya”. Biarlah karena tindakan kita yang lembut mengusir setan akhirnya membuat orang yang menyaksikannya takjub, serta menyebarluaskan perbuatan baik kita. Dengan kata lain kita semua umat beriman dipanggil untuk senantiasa menjadi saksi kebaikan-kebaikan, sehingga dari diri kita senantiasa tersiarkan apa-apa yang baik. Pada masa kini rasanya cukup banyak orang dikuasai dan dijiwai oleh roh jahat, yang menggejala ke dalam tindakan-tindakan amoral serta merusak kehidupan bersama. Marilah kita bina diri kita bersama-sama agar kata-kata yang keluar melalui mulut kita sungguh memiliki kuasa atau kekuatan untuk mengusir dan memberantas aneka tindak jahat atau amoral.

·   “Manusia rohani menilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain. Sebab: "Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasihati Dia?" Tetapi kami memiliki pikiran Kristus” (1Kor 2:15-16). Sebagai orang beriman hemat saya kita termasuk ‘manusia rohani’ artinya orang yang hidup dan bertindak sesuai dengan atau dijiwai oleh roh baik, Roh Kudus. Sebagai manusia rohani dapat menilai segala sesuatu, tetapi tidak dinilai orang lain, artinya manusia rohani senantiasa mampu membaca tanda-tanda zaman maupun aneka macam gerak-gerik sesamanya, tentu saja lebih melihat atau mengutamakan karya roh baik dalam diri sesamanya daripada karya roh jahat, dengan kata lain lebih berpikiran positif daripada berpikiran negatif. Secara khusus kami berharap kepada segenap biarawan dan biarawati yang juga sering disebut sebagai rohaniwan-rohaniwati, yang berarti memang sungguh hidup dan bertindak sesuai dengan dorongan Roh Kudus, karena yang menjadi kesukaan atau kebiasaan hidup adalah senantiasa bergaul dengan Roh Kudus. Hidup dan bertindak dijiwai oleh Roh Kudus berarti cara hidup dan cara bertindaknya berbuah keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai kehidupan yang menyelamatkan dan mambahagiakanm yaitu “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.” (Gal 5:22-23). Semoga para biarawan-biarawati dapat menjadi teladan dalam penghayatan keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai tersebut di atas dalam cara hidup dan cara bertindaknya setiap hari dimana pun dan kapan pun, dan segenap umat beriman senantiasa bekerjasama , saling mendukung dan membantu, juga berusaha menghayati keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai tersebut diatas. Pecayalah bahwa jika kita bersama-sama berusaha menghayatinya akan lebih berhasil atau sukses daripada sendirian. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh, demikian kata sebuah pepatah. Kita semua diciptakan dan dididik dalam kerjasama atau merupakan buah kerjasama, maka tidak bekerjasama dalam hidup dan bertindak berarti ingkar diri.

TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya. Segala yang Kaujadikan itu akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, dan orang-orang yang Kaukasihi akan memuji Engkau. Mereka akan mengumumkan kemuliaan kerajaan-Mu, dan akan membicarakan keperkasaan-Mu,”
(Mzm 145:8-10)
Ign 4 September 2012

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.