4 Mar – Yer 17:5-10; Luk 16:19-31

“Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita”.

(Yer 17:5-10; Luk 16:19-31)

 

"Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.”(Luk 16:19-26), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Gus Dur (alm) memang kaya akan humor yang berbobot alias berisi. Antara lain ketika bertemu dengan Bapak Kardinal, Gus Dur berkata “Bapak Kardinal itu enak kalau nanti naik ke sorga, lebih enak daripada saya”. “Gimana itu Gus’, pertanyaan Kardinal untuk minta penjelasan lebih lanjut. “Di sorga itu yang ada ialah yang tidak ada di dunia ini. Bapak Kardinal tidak nikah alias tidak boleh menikmati perempuan cantik, maka di sorga nanti disediakan perempuan-perempuan cantik dan dengan bebas memilih dan menikmati semaunya, sedangkan saya di dunia ini tidak boleh makan sate babi, maka di sorga nanti paling hanya disediakan sate babi”, demikian penjelasan Gus Dur lebih lanjut. Apa yang dijelaskan oleh Gus Dur ini hemat saya senada dengan kutipan Warta Gembira hari ini “Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita”. Saya merasa hal ini merupakan pengajaran atau katekese sederhana, maka marilah kita mawas diri: apa yang telah dan belum kita lakukan selama hidup di dunia ini. Jika di dunia ini kita berfoya-foya, maka di sorga nanti kita harus matiraga, sebaliknya jika di dunia ini kita matiraga, maka di sorga nanti kita dapat berfoya-foya seenaknya; jika kita jarang atau tak pernah berdoa, maka nanti harus berdoa terus menerus, dst…

·   "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN” (Yer 17:5-7). Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk menjadi “orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan”, maka marilah kita mawas diri perihal harapan, dambaan, cita-cita atau impian-impian kita, yang menggerakkan dan menggairahkan hidup kita. Harapan, dambaan, cita-cita dan impian kita hendaknya sesuai dengan janji-janji yang pernah kita ikrarkan atau diientegrasikan ke dalam janji tersebut. Dengan kata lain hendaknya harapan kita sesuai dengan aturan dan tatanan yang terkait dengan hidup dan panggilan kita masing-masing alias hidup dan bertindak secara konstitusional, menghayati visi atau spiritualitas hidup bersama dalam kesibukan dan pelayanan sehari-hari. Maka baiklah pada masa Prapaskah ini kita buka kembali buku atau catatan perihal konstitusi, pedoman hidup, anggaran dasar, dst.., kita bacakan dan renungkan serta fahami kembali. Kami percaya bahwa dalam setiap organisasi atau paguyuban hidup bersama pasti ada aturan atau cara bertindak yang harus diikuti atau dilaksanakan oleh seluruh anggotanya, maka alangkah indahnya jika semua anggota memahami semua aturan yang terkait dan kemudian melaksanakannya. Mungkin tidak sempat membaca dan merenungkan seluruh buku, maka baiklah kita renungkan apa yang menjadi motto hidup bersama, yang pada umumnya singkat dan padat. Dengan ini juga kami mengingatkan siapa saja yang hanya mengandalkan kekuatannya sendiri untuk bertobat; marilah saling membantu dan bergotong-royong dalam menghayati panggilan maupun melaksanakan tugas pengutusan.

 

“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin.”(Mzm 1:1-4)

 

Jakarta, 4 Maret 2010

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.