4 Jan

“Apa yang kamu cari?”

(1Yoh 3:7-10; Yoh 1:35-42)

” Pada keesokan harinya Yohanes berdiri di situ pula dengan dua orang muridnya. Dan ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah!" Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus. Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat, bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu cari?" Kata mereka kepada-Nya: "Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?" Ia berkata kepada mereka: "Marilah dan kamu akan melihatnya." Mereka pun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat. Salah seorang dari keduanya yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut Yesus adalah Andreas, saudara Simon Petrus. Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus)." Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata: "Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).” (Yoh 1:35-42), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sbb.:

·   Pertanyaan “Apa yang kamu cari?” juga ditanyakan kepada kita semua umat beriman, maka marilah kita mawas diri: apakah yang kita cari dalam hidup dan bertindak kita setiap hari dengan susah payah, kerja keras dan membanting tulang? Jika kita jujur mawas diri kiranya banyak dari kita akan menjawab “cari uang atau harta benda” demi kesejahteraan dan kebahagiaan hidup masa kini. Kiranya tidak salah bahwa kita cari uang dan harta benda, karena selama hidup di dunia ini kita membutuhkannya. Namun baiklah saya mengajak anda sekalian untuk berusaha agar dalam mencari uang dan harta benda juga semakin suci atau membaktikan diri seutuhnya kepada Tuhan. Dengan kata lain jika semakin memiliki banyak uang dan harta benda hendaknya semakin suci, semakin dikasihi oleh Tuhan dan sesamanya kapan pun dan dimana pun. Ketika melihat uang atau harta benda hendaknya juga melihat Tuhan yang telah menganugerahkannya, demikian juga ketika memiliki uang atau harta benda berarti semakin melihat dan mengimani Tuhan. Ingatlah dan sadari bahwa uang atau harta benda pada dasarnya bersifat sosial, semakin memiliki uang atau harta benda berarti semakin sosial, semakin memiliki sahabat dan teman, bukan semakin pelit dan dibenci oleh banyak orang. Sebagai bentuk atau wujud bahwa kita sungguh mencari Tuhan dalam aneka kesibukan dan pelayanan kita setiap hari, hendaknya diawali dengan doa. Secara khusus kepada siapapun yang beriman kepada Yesus Kristus, hendaknya membuat tanda salib sebelum melakukan segala sesuatu sehingga dalam Tuhan kita melakukan segala sesuatu serta tidak hanya mengikuti keinginan atau selera pribadi.

·   Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah. Inilah tandanya anak-anak Allah dan anak-anak Iblis: setiap orang yang tidak berbuat kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikian juga barangsiapa yang tidak mengasihi saudaranya.” (1Yoh 3:9-10). Sebagai orang beriman kiranya kita semua harus mengakui dan mengimani bahwa masing-masing dari kita ‘lahir dari Allah’ kerjasama dengan orangtua atau bapak-ibu kita yang saling mengasihi. Benih ilahi ada di dalam diri kita masing-masing, maka marilah kita beri kesempatan dan kemungkinan yang leluasa untuk tumbuh berkembang. Cara memberi kesempatan dan kemungkinan tidak lain adalah senantiasa berbuat baik dan tidak pernah melakukan dosa sekecil apapun. Kita diharapkan senantiasa melakukan apa yang baik dan benar, dan apa yang baik dan benar senantiasa berlaku umum atau universal. Yang baik dan benar antara lain adalah keselamatan jiwa manusia, maka marilah dalam segala cara bertindak maupun cara hidup kita senantiasa berpedoman pada keselamatan jiwa; keselamatan jiwa hendaknya menjadi barometer atau tolok-ukur keberhasilan atau kesuksesan hidup kita, bukan uang atau harta benda. Maka marilah kita fungsikan semua ciptaan lain di dunia ini sebagai bantuan bagi kita untuk mengejar tujuan kita diciptakan, yaitu keselamatan jiwa manusia. Secara konkret kami harapkan hendaknya segala usaha pendidikan atau pembinaan, entah formal atau informal, memiliki tujuan atau arah agar para peserta didik semakin tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik, berbudi pekerti luhur atau bermoral. Mendidik atau membina anak maupun peserta didik agar menjadi baik, berbudi pekerti luhur atau bermoral,  memang lebih sulit daripada agar pandai atau pintar, namun demikian marilah kita imani bahwa bersama dan bersatu dengan Tuhan semuanya akan menjadi mudah dan mungkin.

Biarlah gemuruh laut serta isinya, dunia serta yang diam di dalamnya! Biarlah sungai-sungai bertepuk tangan, dan gunung-gunung bersorak-sorai bersama-sama di hadapan TUHAN, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kebenaran.” (Mzm 98:7-9)

Ign 4 Januari 2012

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: