30 Juli – Yer 26:1-9; Mat 13:54-58

“Seorang nabi dihormati dimana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri”

(Yer 26:1-9; Mat 13:54-58)

 

“Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: "Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu? Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?" Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: "Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya." Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ.” (Mat 13:54-58), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Seorang nabi pada umumnya adalah suci serta bertugas menyebarluaskan kebenaran-kebenaran atau suara/ kehendak Allah; ia adalah utusan Allah, maka selayaknya dihormati dimana-mana, lebh-lebih oleh orang-orang beriman. Kebanyakan dari kita memiliki sikap mental bahwa apa-apa yang  berasal dari luar negeri/daerah lebih baik daripada apa yang ada di dalam negeri/daerah, padahal secara obyektif apa yang ada di dalam negeri/daerah sebenarnya lebih baik dan berkwalitas daripda yang berasal dari luar negeri/daerah. Maka benarlah apa yang disabdakan oleh Yesus bahwa “Seorang nabi dihormati dimana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan dirumahnya”. Sabda Yesus ini memperingatkan dan mengajak kita semua untuk lebih memperhatikan apa-apa yang baik, indah, luhur, mulia di tempat asal kita sendiri, di rumah atau lingkungan hidup kita sendiri. Untuk itu memang kita sering harus berani mengambil jarak dari tempat asal atau rumah kita sendiri untuk melihat lebih teliti, cermat, tepat dan benar apa-apa yang ada di dalam tempat asal atau rumah kita sendiri. Sebagaimana para pemain sepak bola tak mungkin merefleksi permainan mereka sendiri dengan baik, melainkan pengamat atau penonton akan lebih baik dalam merefleksi permainan, demikian juga perihal kebersamaan hidup kita. Maka silahkan sekali waktu anda ‘keluar’ dari rumah dan tempat asal untuk melihat dalam terang Tuhan apa yang ada di dalam tempat asal atau rumah kita. Marilah kita hormati, junjung tinggi apa-apa yang baik, benar, mulia dan indah di tempat asal atau rumah kita sendiri. Marilah kita kenakan pakaian produksi dalam negeri, kita konsumsi aneka jenis makanan dan minuman yang sehat yang berasal dari tempat asal atau rumah sendiri.

·   Jika kamu tidak mau mendengarkan Aku, tidak mau mengikuti Taurat-Ku yang telah Kubentangkan di hadapanmu, dan tidak mau mendengarkan perkataan hamba-hamba-Ku, para nabi, yang terus-menerus Kuutus kepadamu, — tetapi kamu tidak mau mendengarkan — maka Aku akan membuat rumah ini sama seperti Silo, dan kota ini menjadi kutuk bagi segala bangsa di bumi." (Yer 26:4-6). Marilah kita dengarkan dan laksanakan perkataan para nabi, para pengkotbah, para guru agama, para pembawa kebenaran di dalam hidup dan kerja kita bersama setiap hari. Perkataan mereka mungkin jarang kita dengarkan, maka baiklah kita baca, renungkan dan hayati tulisan-tulisan mereka atau aneka aturan dan tatanan hidup sebagai terjemahan kehendak Tuhan melalui orang-orang baik dan benar. Ada aneka macam aturan dan tatanan hidup yang tertulis dimana-mana, misalnya di jalanan ada rambu-rambu lalu lintas atau petunjuk jalan, dalam aneka kemasan makanan, minuman, obat dan sarana-prasarana ada aturan pakai, dalam hidup dan kerja bersama ada aturan atau tatanan demi kesuksesan dan kebahagiaan hidup maupun kerja, dst.. Pengalaman menunjukkan ketika warga kota tidak mentaati atau melaksanakan aturan atau tatanan hidup bersama, maka apa yang terjadi di dalam kota adalah kutuk atau musibah bagi warga kota sendiri, misalnya perilaku warga membuang sampah seenaknya sehingga menyumbat saluran-saluran maupun sungai yang mengakibatkan banjir bandang, penyambungan kabel listrik seenaknya menyebabkan kebakaran, berkendara seenaknya menyebabkan kecelakaan dan korban manusia, dst..  Jika terhadap aturan atau tatanan hidup bersama yang sederhana itu saja orang tak mampu mentaati dan melaksanakannya, apalagi aturan atau tatanan lain yang lebih berat dan rumit. Marilah kita biasakan mentaati dan melaksanakan aneka aturan dan tatanan hidup sehari-sehari di rumah kita sendiri, di lingkungan hidup kita sendiri, di tempat kerja atau belajar kita, dst…

 

“Orang-orang yang membenci aku tanpa alasan lebih banyak dari pada rambut di kepalaku; terlalu besar jumlah orang-orang yang hendak membinasakan aku, yang memusuhi aku tanpa sebab; aku dipaksa untuk mengembalikan apa yang tidak kurampas. Sebab oleh karena Engkaulah aku menanggung cela, noda meliputi mukaku. Aku telah menjadi orang luar bagi saudara-saudaraku, orang asing bagi anak-anak ibuku; sebab cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku, dan kata-kata yang mencela Engkau telah menimpa aku

(Mzm 69:5.8-10)

Jakarta, 30 Juli 2010

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: