3 Mar – Yer 18:18-20; Mat 20:17-28

“Sekarang kita pergi ke Yerusalem”

(Yer 18:18-20; Mat 20:17-28)

Ketika Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil kedua belas murid-Nya tersendiri dan berkata kepada mereka di tengah jalan: "Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan." Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Kata Yesus: "Apa yang kaukehendaki?" Jawabnya: "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu." Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: "Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?" Kata mereka kepada-Nya: "Kami dapat." Yesus berkata kepada mereka: "Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya." Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Mat 20:17-28), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Yerusalem adalah kota suci atau kota idaman bagi orang Yahudi, Kristen dan Islam. Di Yerusalem ada kenisah atau bait suci orang Yahudi, yang saat ini menjadi masjid bagi umat Islam, di Yerusalem Yesus disalibkan dan naik ke sorga, di atau melalui kota Yerusalem  Nabi Muhamad s.a.w, naik ke sorga. Yesus mengajak para rasul ke Yerusalem berarti harus menghadapi ‘musuh-musuh’, orang-orang yang ingin membunuh atau menyingkirkanNya. Para rasul tahu akan hal itu, maka ada permintaan dari beberapa rasul: sebelum Yesus wafat hendaknya memberi kepastian bahwa mereka kelak boleh bersamaNya di sorga. Yerusalem kita masing-masing adalah tempat dimana kita setiap hari memboroskan waktu dan tenaga kita, tempat idaman, antara lain keluarga dan tempat kerja/tugas. Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk sungguh mempersembahkan diri seutuhnya dalam melaksanakan tugas atau pekerjaan, entah di dalam keluarga maupun tempat tugas. Memang untuk itu kita tidak akan terlepas dari aneka tantangan dan hambatan, yang lahir dari kesombongan dan keserakahan, maka untuk menghadapinya kita diharapkan hidup dan bertindak dengan semangat melayani. Hadapi dan sikapi aneka macam tantangan, masalah dan hambatan dengan semangat melayani, sebagaimana dihayati oleh para pelayan yang baik di dalam rumah tangga atau tempat kerja.      

·   "Marilah kita mengadakan persepakatan terhadap Yeremia, sebab imam tidak akan kehabisan pengajaran, orang bijaksana tidak akan kehabisan nasihat dan nabi tidak akan kehabisan firman. Marilah kita memukul dia dengan bahasanya sendiri dan jangan memperhatikan setiap perkataannya!" (Yer 18:18), demikian ancaman terhadap nabi Yeremia. Nabi adalah utusan Allah, pewarta dan pembawa kebenaran-kebenaran. Sebagai orang beriman kita memiliki dimensi kenabian, dipanggil untuk membawa dan mewartakan kebenaran-kebenaran.  Memang dalam mewartakan kebenaran kita pasti akan menghadapi ancaman-ancaman pembunuhan, sebagaimana pernah terjadi dalam diri Munir, yang kasusnya sampai sekarang masih misterius. “Mati satu tumbuh seribu”, itulah keyakinan iman sang pembawa dan pewarta kebenaran, artinya sebagai pembawa dan pewarta kebenaran siap sedia untuk mati menjadi korban kekerasan, keserakahan dan kesombongan, karena jika ia sungguh mati menjadi korban, maka akan menjadi korban persembahan kepada Tuhan yang menyuburkan dan mengembangkan benih-benih kenabian dalam banyak orang. Dengan ini kami berharap kepada para pejuang kebenaran dimanapun dan kapanpun untuk tidak takut dan gentar terhadap aneka ancaman, terror, intimidasi dst..; percayalah kebenaran pasti akan menang dan berjaya atas kebohongan-kebohongan dan manipulasi. Memperjuangkan kepentingan dan hak orang miskin dan tersingkir juga tak akan terlepas dari aneka tantangan, hambatan dan masalah, entah berasal dari yang miskin dan tersingkir sendiri atau dari mereka yang berkuasa.

 

“Sebab aku mendengar banyak orang berbisik-bisik, — ada kegentaran dari segala pihak! — mereka bersama-sama bermufakat mencelakakan aku, mereka bermaksud mencabut nyawaku. Tetapi aku, kepada-Mu aku percaya, ya TUHAN, aku berkata: "Engkaulah Allahku!"Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, lepaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku dan orang-orang yang mengejar aku!”(Mzm 31:14-16)

 

Jakarta, 3 Maret 2010

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.