“3 Days to Kill”, Mencintai dan Membunuh dalam Satu Paket Kehidupan

< ![endif]-->

TERAMAT absurd bagi seorang ayah dengan kasih sayang luhur terhadap anaknya, namun dalam kenyataan sehari-hari malah tidak pernah disapa sebagai bapak. Inilah dilema kehidupan riil yang dialamai Ethan Renner (Kevin Costner), agen senior CIA di lapangan yang merenda sukses besar di medan operasi. Namun, nyatanya  ia gagal total sebagai seorang ayah bagi seorang putrinya Zoey (Hailee Steinfeld) yang berjiwa eksentrik dan pemberontak. Sudah barang tentu pula, Ethan juga dianggap gagal sebagai seorang suami. Itu karena selama lebih dari 5 tahun ia minggat begitu saja, meninggalkan tanpa kabar terhadap istrinya yang menawan Christine (Connie Nielsen).

Itu pula yang membawa Ethan sampai ke Paris, setelah kurang begitu sukses melakukan operasi penyergapan terhadap penjahat perang di Beograd. Tujuannya satu: mendamaikan masa lalunya sendiri sekaligus merajut cinta dengan keluarganya: istrinya Christine dan anaknya Zoey. Itu harus dia lakukan sebelum ajal sebentar lagi akan menjemputnya karena didera penyakit kanker otak yang juga menggerogoti paru-parunya.

Tugas terakhir sebelum ajal

Namun, kepergiaannya ke Paris malah dikuntit oleh Vivi Delay (Amber Heart) yang mendapat mandate khusus dari Direktur Operasi CIA untuk melenyapkan duet penjahat perang The Albino (Tomas Lemarquis) dan bosnya The Wolf (Richard Sammel). Semula, Ethan enggan mengikuti arahan Vivi, namun dia tak bisa berbuat banyak karena butuh ‘saluran emosional’ untuk menebus kegagalannya sebagai ayah.

Dia ingin bayaran tinggi agar bisa mendapatkan polis asuransi yang bisa diwariskan kepada Zoey. Juga dia butuh anti-dote untuk menggerus penyakit yang kini menderanya.

Layaknya film-film Perancis hasil besutan sutradara kenamaan Luc Besson, 3 Days to Kill bukan hanya urusan dar-der-dor semata. Ia juga menghadirkan kekonyolan yang memicu tawa.

MOVIE 3 DAYS TO KILL

Happy ending story: Agen senior CIA Ethan Renner (Kevin Costner) bercanda ceria bersama istrinya Christine (Connie Nielsen) dan putri semata wayang mereka Zoey (Hailee Steinfeld), usai berhasil menyelesaikan tugas akhir CIA membunuh kawanan penjahat perang di Paris. (Ist)

Chauvinisme Perancis

Sebagai orang Perancis yang selalu demam dengan chauvinism, Luc Besson tentu saja dengan sangat sengaja membawa karakter naif  Jules (Eriq Ebouaney) –pria kulit hitam dari Mali, Afrika—yang terang-terangkan merasa lebih nyaman berbahasa français daripada anglais. Kalau pun akhirnya ia memaksa diri berbahasa Inggris seperti dilakukan oleh para polisi Perancis, maka yang terjadi adalah kelucuan-kelucuan: sangat khas orang Perancis memaksa diri berbicara bahasa Inggris. Pun pula, Guido yang asli Italia memaksa diri omong Inggris.

Serba kagok itulah yang dibidik Luc Besson sebagai lelucon yang menawan hati.

Chauvinisme Luc Besson tampil mencolok ketika dia memamerkan kehebatan kualitas produk otomotif pabrikan Perancis vs. Jerman. Makanya, di jalanan Paris duet agen CIA bernama  Ethan dan Vivi –jagoan kita dari Langley, Virginia, AS— lalu pamer kemewahan dan kecepatan prima dari  sedan-sedan teranyar koleksi Singa Jingkrak alias Peugeot. Lawan main mereka adalah kendaraan otomotif produksi Jerman: Audi.

Saling balap antara Peugeot dan Audi merajai jalanan di Paris dalam 3 Days to Kill, sedikit mirip-mirip trilogy film Taxi yang amat menawan.

3-days-to-kill-movie-still-19Film ini berakhir dengan happy ending, ketika akhirnya Ethan berhasil mendapatkan apa yang dia maui sebelum ajal menjemputnya: statusnya sebagai ayah dan suami ‘terkoreksi’ dengan sempurna karena keluarganya menyatu kembali di Pittsburgh, AS. Sementara tugasnya terakhir di CIA sebelum pensiun berhasil dia lakukan meski dengan babak belur di Paris.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.