2Mei

“Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya”
(1Yoh 5:1-5; Mat 10:22-25a)

“Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang
bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Apabila mereka
menganiaya kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain;
karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sebelum kamu selesai
mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang. Seorang murid
tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya.
Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan
bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya” (Mat
10:22-25a), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta
St.Atanasius, uskup dan pujangga Gereja, hari saya sampaikan
catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
•       “Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya”, demikian kutipan
sabda Yesus. Kata-kata ini kiranya secara umum dalam dunia pendidikan
tidak berlaku, karena pada umumnya para murid (khususnya murid Sekolah
Dasar atau pelajar Sekolah Menengah) karena belajar terus pasti akan
lebih pandai, lebih cerdas, lebih bergelar dari pada gurunya. Namun
yang dimaksudkan dengan ‘guru’ di sini tidak lain adalah Yesus
sendiri. Ia begitu mengasihi umat manusia sampai harus menderita dan
wafat di kayu salib alias sungguh membaktikan Diri sepenuhnya kepada
tugas pengutusan tanpa syarat. Sedangkan kita para pengikut atau
muridNya pada umumnya jauh dari apa yang telah dihayati oleh Yesus.
Apalagi pada masa kini cukup banyak orang begitu egois dan bersikap
mental materialistis, sehingga cara hidup dan cara bertindaknya justru
semakin menjauhi Tuhan (Yesus). Marilah kita saling membantu dalam
rangka menghayati rahmat kemuridan, dengan rendah hati dan kerja keras
berusaha hidup dan bertindak meneladan Yesus, Guru dan Tuhan kita.
Sebagai umat beriman hendaknya kita setia menghayati iman, dan memang
setia dalam penghayatan iman pada masa kini tak akan terlepas dari
aneka macam tantangan, masalah dan hambatan yang membuat kita harus
siap sedia untuk menderita dan berjuang. Hidup baik, bermoral dan
berbudi pekerti luhur pada masa kini memang harus siap sedia untuk
dibenci oleh orang-orang yang materialistis dan egois. Dalam dunia
pendidikan atau di sekolah-sekolah hidup jujur dan disiplin pun tak
terhindar dari kebencian dan ancaman, bahkan orang jujur bagaikan di
ujung tanduk, yang sewaktu-waktu tergusur.
•       “Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu
apabila kita mengasihi Allah serta melakukan
perintah-perintah-Nya.Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa
kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak
berat,sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah
kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita” (1Yoh 5:2-4). Iman
memang sungguh mampu mengalahkan aneka godaan atau rayuan setan,
ajakan untuk berbuat jahat atau berdosa. Sebagai manusia, kita semua
adalah ciptaan Allah, berasal dari Allah, maka tak mungkin kita akan
hidup bahagia dan damai sejahtera sejati tanpa Allah, dengan
meninggalkan peran Allah dalam cara hidup dan cara bertindak kita.
Demi kebahagiaan dan kesejahteraan kita marilah kita senantiasa taat
dan setia kepada perintah-perintah Allah. Perintah-perintahNya antara
lain menggejala dalam perintah atasan kita atau dalam aneka bentuk
tata tertib atau aturan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas
pengutusan kita. Secara khusus kami mengingatkan segenap anggota
Gereja Katolik, bahwa ada pengamatan terjadi krisis ketaatan pada
Hirarki. Memang taat pada Hirarki sungguh membutuhkan kerendahan hati
serta kerelaan untuk berjuang dan berkorban. Taat pada Hirarki berarti
kita siap sedia untuk diutus, diperintah dan ditegor ketika kita hidup
tidak setia pada Hirarki. Pada umumnya umat Katolik memang begitu
mendengarkan dan berusaha mentaati dan melaksanakan arahan atau
nasihat pastoral dari gembalanya atau uskup, namun sungguh
memprihatinkan bahwa ketaatan dan kesetiaan tersebut tidak umur
panjang, dengan kata lain karena situasi dan kondisi yang berat
akhirnya orang cenderung hidup dan bertindak seenaknya sendiri. Kami
berharap kepada rekan-rekan pastor/imam dapat menjadi teladan dalam
ketaatan dan kesetiaan pada Hirarki, dan kemudian membina umat untuk
berusaha taat dan setia pada Hirarki. Segala usaha dan bentuk
kreativitas kegiatan gerejani atau pastoral hendaknya tetap dalam
rambu-rambu Hukum Gereja maupun pesan-pesan pastoral dari gembala
kita.
“Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri
dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan
memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. Serahkanlah hidupmu
kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;Ia akan
memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang” (Mzm
37:3-6)
Ign 2 Mei 2013

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.