29 Jan – Ibr 10:1-2, 8-19; Mrk 4:35-41

"Mengapa kamu begitu takut?”

(Ibr 10:1-2, 8-19; Mrk 4:35-41)

 

“Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: "Marilah kita bertolak ke seberang." Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: "Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?" Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: "Diam! Tenanglah!" Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?" Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: "Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” (Mrk 4:35-410, demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas  bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Maju kena mundur kena”, begitulah kiranya kata-kata yang ada dalam hati banyak orang masa kini dalam menghadapi aneka pertumbuhan dan perkembangan yang begitu pesat maupun aneka masalah dan tantangan. Memang ada orang takut untuk tumbuh dan berkembang, karena untuk itu harus berani berjuang dan berkorban. Sabda Yesus hari ini mengajak dan mengingatkan kita semua agar tidak takut menghadapi aneka tantangan, masalah maupun hambatan kehidupan. Penakut pada umumnya ada ancaman kecil atau sedikit saja langsung berteriak-teriak. Penakut berarti kinerja syarat dan metabolisme darah atau otak bawah sadar atau otak yang berada dalam seluruh anggota tubuh kita tidak berfungsi secara normal atau prima. Sebaliknya jika kita tidak pernah takut berarti otak bawah sadar kita berfungsi secara prima, sehingga mampu mengatasi atau menghadapi aneka macam tantangan, masalah dan hambatan. Penakut berarti juga kurang/tidak beriman. Pemberani berarti memiliki harapan dan dengan penuh harapan menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan, yang berarti harapan menjadi nyata dalam kasih atau tindakan konkret. Marilah kita bersikap ksatria, meneladan Werkudoro yang tanpa takut dan gentar menerobos hutan belantara yang penuh ancaman dan bahaya guna mengusahakan kehidupan sejati. “Rawe-rawe rantas, malang-malang putung”, demikian motto orang yang tidak takut alias pemberani. Hendaknya jika kita berkehendak baik tidak takut sedikitpun untuk mewujudkan kehendak tersebut dalam tindakan, meskipun ada kemungkinan yang kita lakukan salah. “Trial and error” (mencoba dan bersalah) hendaknya juga menjadi pedoman cara hidup dan cara bertindak kita. Takut mencoba tak akan tumbuh dan berkembang.

·   "Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu.”(Ibr 10:9). Kutipan ini hendaknya menjadi pedoman atau acuan kita setiap kali kita melangkah atau datang ke suatu tempat, misalnya tempat belajar atau bekerja. Datang ke tempat belajar berarti untuk belajar, maka ketika sedang belajar kami harapkan belajar dengan sungguh-sungguh sehingga terampil belajar, demikian juga datang ke tempat kerja, sehingga terampil bekerja. Keterampilan inilah hendaknya yang kita usahakan dengan perjuangan dan pengorbanan, bukan selembar kertas berupa pengakuan formal alias ijasah atau sertifikat. Kita boleh belajar dari Bapak Andrie Wongso, promotor yang terkenal di Indonesia, yang dengan sungguh-sungguh bekerja keras sendiri (auto-didak), Ia memiliki cita-cita: ‘Success in my life”. Salah satu motto dalam mengusahakan sukses antara lain “Besi batangan pun kalau digosok terus menerus pasti menjadi sebatang jarum yang tajam”. Dalam hidup sehari-hari ada dukungan dalam melakukan kehendak Tuhan antara lain berupa aturan atau tata tertib, maka hendaknya senantiasa mentaati atau melaksanakan aneka aturan dan tata tertib yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Aneka aturan dan tata tertib dibuat dan diberlakukan atau diundangkan untuk dihayati atau dilaksanakan, bukan hanya untuk hiasan saja. Dengan kata lain jika kita mengikuti aturan atau tata tertib yang berlaku hendaknya tidak takut melangkah atau bertindak. Hendaknya juga tidak takut mengingatkan dan menegor saudara-saudari kita yang tidak taat pada aturan dan tata tertib. Kami berharap para penegak dan pejuang kebenaran dan keadilan tanpa takut dan gentar terus berjuang, meskipun untuk itu harus menghadapi aneka ancaman dan terror.

 

“Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu, — seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus — untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita, untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita dan mengingat akan perjanjian-Nya yang kudus, yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapa leluhur kita, bahwa Ia mengaruniai kita, supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut,  dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup kita

(Luk 1:69-75)     .

Jakarta, 29 Januari 2011

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.