29 Des – 1Yoh 2:3-11; Luk 2:22-35

“Biarkanlah hambaMu ini pergi dalam damai sejahtera sesuai dengan firmanMu”

(1Yoh 2:3-11; Luk 2:22-35)

 

“Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah", dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel." Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan — dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri –, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang." (Luk 2:22-35), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Pada hari ini kepada kita diketengahkan seorang tokoh bernama Simeon, “seorang benar dan saleh…Roh Kudus di atasnya”. Ia yang sungguh menantikan penghiburan sejati dan kini telah menyaksikan dalam Kanak-Kanak Yesus yang sedang dipersembahkan di bait Allah, maka ia pun memuji Allah serta bersyukur, antara lain dengan berkata “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hambaMu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firmanMu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari padaMu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa”. Sebagai orang yang telah usur alias lansia kiranya kutipan di atas ini baik menjadi permenungan atau refleksi. Hendaknya ketika sudah usia lanjut, sesuai dengan aturan di Indonesia ketika usia 60 tahun ber-KTP abadi, dengan jiwa besar dan hati rela berkorban untuk ‘mengundurkan diri’ serta memberi kesempatan kepada generasi muda lebih berperan dalam kehidupan bersama. Hal yang sama kiranya juga baik dilakukan oleh mereka yang merasa senior terhadap yang yunior. Marilah kita beri kepercayaan kepada generasi muda sebagai pembaharu, “untuk menjatuhkan dan membangkitkan banyak orang…supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang”. Sebaliknya kepada generasi muda kami harapkan siap sedia untuk mengambil alih peran dan fungsi generasi tua.

·   “Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang.Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan” (1Yoh 2:9-10). Kutipan dari surat Yohanes ini kiranya dialami oleh Simeon, yang “berada di dalam terang, dan dalam dia tidak ada penyesatan”. Kutipan ini juga baik menjadi permenungan bagi para orangtua, para senior, pendidik/guru, dst..: hendaknya senantiasa berada dalam terang dan tidak ada penyesatan dalam cara hidup dan cara bertindaknya, sehingga dalam mendampingi dan mendidik anak-anak, yunior, peserta didik, dst.. sungguh bermanfaat bagi masa depan mereka. Hendaknya orangtua, pendidik/guru dst. tidak menyesatkan. Tanda bahwa tidak menyesatkan antara lain senantiasa hidup berbudi pekerti luhur serta mengajarkan dan membina anak-anak/peserta didik untuk berbudi pekerti luhur. Maka perkenankan sekali lagi saya kutipkan ciri-ciri budi pekerti luhur, yang harus dihayati dan dibinakan, yaitu “bekerja keras, berani memikul resiko, berdisiplin, beriman, berhati lembut, berinisiatif, berpikir matang, berpikiran jauh ke depan, bersahaja, bersemangat, bersikap konstruktif, bersyukur, bertanggung jawab, bertenggang rasa, bijaksana, cerdik, cermat, dinamis, efisien, gigih, hemat, jujur, berkemauan keras, kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, mawas diri, menghargai karya orang lain, menghargai kesehatan, menghargai waktu, pemaaf, pemurah, pengabdian, pengendalian diri, produktif, rajin, ramah tamah, rasa kasih sayang, rasa percaya diri, rela berkorban, rendah hati, sabar, setia, sikap adil, sikap hormat, sikap tertib, sopan santun, sportif, susila, tangguh, tegas, tekun, tetap janji, terbuka dan ulet “(Prof.Dr.Sedyawati: Pedoman Penananam Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka, Jakarta 1997)

“Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorak, biarlah gemuruh laut serta isinya, biarlah beria-ria padang dan segala yang di atasnya, maka segala pohon di hutan bersorak-sorai di hadapan TUHAN, sebab Ia datang, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kesetiaan-Nya” (Mzm 96:11-13).

 

Jakarta, 29 Desember 2009

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.