28 spt

"Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang
tidak layak untuk Kerajaan Allah.”
(Neh 2:1-8; Luk 9:57-62)

” Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka,
berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: "Aku akan mengikut
Engkau, ke mana saja Engkau pergi." Yesus berkata kepadanya: "Serigala
mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak
mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya." Lalu Ia berkata kepada
seorang lain: "Ikutlah Aku!" Tetapi orang itu berkata: "Izinkanlah aku
pergi dahulu menguburkan bapaku." Tetapi Yesus berkata kepadanya:
"Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah
dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana." Dan seorang lain lagi
berkata: "Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku
pamitan dahulu dengan keluargaku." Tetapi Yesus berkata: "Setiap orang
yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk
Kerajaan Allah.” (Luk 9:57-62), demikian kutipan Warta Gembira hari
ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:
•       “Maju kena mundur kena”, itulah kata sebuah peribahasa, yang berarti
melangkah maju atau mundur sama-sama akibatnya. Bagi orang yang sehat
secara phisik maupun spiritual pasti lebih memilih untuk melangkah
maju  daripada mundur. Dalam warta gembira hari ini dikisahkan dua
sikap mental orang yang tak berani melangkah maju dengan alasan yang
tak dapat dijelaskan dan keterikatan keluarga (melayat dan
tradisionil). Tak ada orang yang tidak mengizinkan orang lain minta
pamit untuk layat; izin untuk melayat pasti dikabulkan. Banyak orang
juga hidup dan bertindak hanya mengikuti selera pribadi atau kebiasaan
dalam keluaganya, yang tidak sesuai lagi dengan perkembangan dan
tuntutan zaman. Kita semua dipanggil untuk melangkah maju terus
menerus, dan untuk itu memang harus memiliki sikap mental berubah
terus menerus alias diperbaharui terus menerus. Ingatlah dan sadari
bahwa yang abadi di dunia ini adalah perubahan, maka siapapun yang
tidak berubah pasti akan segera hilang dalam peredaran alias
ketinggalan zaman. Tentu saja perubahan yang baik adalah berubah
semakin suci, semakin berbudi pekerti luhur, semakin dikasihi oleh
Tuhan dan sesamanya. Anggota tubuh kita berubah, umur berubah, waktu
berubah dst.., apakah cara melihat, cara berpikir, cara merasa, cara
bersikap dan cara bertindak juga berubah? Kita semua dipanggil untuk
memiliki cara melihat, berpikir, merasa, bersikap dan bertindak
sebagaimana dikehendaki Tuhan, sehingga kita tumbuh-berekembang
menjadi sahabat-sahabat Tuhan, orang yang sungguh beriman atau
membaktikan diri seutuhnya kepada Tuhan melalui sesamanya dan
ciptaan-ciptaan Tuhan lainnya.
•       "Hiduplah raja untuk selamanya! Bagaimana mukaku tidak akan muram,
kalau kota, tempat pekuburan nenek moyangku, telah menjadi reruntuhan
dan pintu-pintu gerbangnya habis dimakan api?" (Neh 2:3). Kota berarti
tempat tinggal atau tempat bekerja, sedangkan pekuburan adalah tempat
mereka yang telah meninggal dimakamkan, yang sering juga disebut
taman, seperti Taman Makam Pahlawan. Di Indonesia pernah terjadi dan
mungkin juga masih berlangsung ‘lomba kebersihan dan keindahkan kota’,
maka para walikota dan bupati menggerakan rakyatnya untuk
mengusahakan, menjaga dan merawat kotanya agar bersih dan indah. Para
bupati dan walikota pun mencangkan motto dan dipasang di jalan-jalan,
misalnya ‘kota ASRI, kota SANTRI, dst..”. Kami berharap semoga tidak
hanya bersih dan indah secara phisik atau material saja, tetapi juga
secara manusiawi dan spiritual, artinya semua warganya bersih, beriman
dan baik, sehingga tidak ada kejahatan atau perilaku amoral
sedikitpun. Demikian juga perihal kuburan atau makam, semoga terjaga
kebersihan dan keindahannya sehingga tidak menjadi sarang penjahat dan
menakutkan. Jadikan makam atau kuburan menjadi semacam ‘tempat wisata
rohani’, dimana siapapun yang datang untuk mengunjungi makam dari
mereka yang telah dipanggil Tuhan mengenangkan kebaikan dan
nilai-nilai luhur yang telah ditinggalkannya. Mengenangkan berarti
menghadirkan kembali, maka jika kita dapat mengenangkan sungguh
berarti kita akan menghayati nilai-nilai luhur yang dulu dihayati oleh
mereka yang telah dipanggil Tuhan. Nilai-nilai luhur hendaknya
diabadikan melalui cara  hidup dan cara bertindak kita setiap hari.
Kita juga dapat mengenangkan para tokoh agama atau masyarakat yang
dapat menjadi panutan dalam cara hidup dan cara bertindak kita.
“Di tepi sungai-sungai Babel, di sanalah kita duduk sambil menangis,
apabila kita mengingat Sion. Pada pohon-pohon gandarusa di tempat itu
kita menggantungkan kecapi kita. Sebab di sanalah orang-orang yang
menawan kita meminta kepada kita memperdengarkan nyanyian, dan
orang-orang yang menyiksa kita meminta nyanyian sukacita:
"Nyanyikanlah bagi kami nyanyian dari Sion!" (Mzm 137:1-3)

 Ign 28 September 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: