28 sept

“Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan”
(Pkh 3:1-11; Luk 9:19-22)
“Jawab mereka: "Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit." Yesus bertanya kepada mereka: "Menurut kamu, siapakah Aku ini?" Jawab Petrus: "Mesias dari Allah." Lalu Yesus melarang mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapa pun. Dan Yesus berkata: "Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” (Luk 9:19-22), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Setia pada iman atau ajaran agama yang benar kiranya tak akan pernah terlepas dari aneka penderitaan, hambatan dan tantangan. Semua agama maupun ajaran perihal iman kiranya memuncak atau berpusat pada ajaran cintakasih, dan cintakasih sejati tak akan terlepas dari penderitaan sebagaimana dihayati oleh Yesus yang harus menderita dan wafat di kayu salib karena cintakasihNya kepada umat manusia di bumi ini. Saya percaya bahwa anda sebagai suami-isteri yang saling mengasihi juga tak pernah lepas dari penderitaan, demikian juga cintakasih orangtua terhadap anak-anaknya. Maka sabda hari ini hemat saya tidak terlalu asing bagi mereka yang hidup saling mengasihi satu sama lain di dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari, khususnya para suami-isteri yang baik, saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tenaga atau tubuh. Maka tak henti-hentinya kami mengajak dan mengingatkan para orangtua/bapak-ibu untuk mewariskan penderitaan dan pengorbanan sebagai konsekwensi hidup saling mengasihi kepada anak-anaknya. Maka jauhkan aneka bentuk pemanjaan pada anak-anak dalam mendidik dan mendampinginya. Anak-anak sedini mungkin secara bertahap sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhan pribadinya hendaknya diperkenalkan akan kerja keras dan penderitaan sebagai konsekwensi dari kesetiaan hidup beriman. Marilah kita hayati motto “jer basuki mowo beyo” (untuk hidup mulia dan berbahagia harus berjuang dan menderita). Jika anda tidak mendidik dan membina anak-anak dalam hal kerja keras dan penderitaan sebagaimana saya maksudkan di atas, maka pada masa depan anda sendiri yang akan kecewa serta menderita di masa lansia anda.
·   Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam; ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun; ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari;ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk; ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang; ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara; ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.” (Pkh 3:1-8). Saya sengaja mengutipkan hampir lengkap karena hemat saya sungguh cukup jelas dan baik. Kita diingatkan akan hal waktu: hendaknya kita tidak cemas dalam hal waktu, karena masing-masing kegiatan pasti akan memiliki waktu. Tentu saja kita semua diharapkan memanfaatkan atau mengisi waktu untuk melakukan apa yang baik dan menyelamatkan, terutama keselamatan jiwa. Kita semua diharapkan untuk tertib dalam hal waktu, jika kita mendambakan hidup bahagia dan sejahtera baik lahir maupun batin, fisik maupun spiritual. Memperhatikan kutipan di atas marilah kita fungsikan waktu untuk menyembuhkan, membangun, mengumpulkan dan mengasihi, gerakan-gerakan, usaha-usaha atau tindakan yang positif, baik dan menyelamatkan. Pengrusakan, perceraian atau perpisahan dan kebencian masih marak di sana-sini, yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak atau kurang beriman, misalnya perusakan hutan,  perceraian suami-isteri atau permusuhan antar suku, ras dan agama. Negara kita senantiasa mencanangkan program pembangunan, semoga apa yang dicanangkan tidak berhenti dalam wacana atau tulisan, tetapi menjadi kenyataan, terutama pembangunan manusia seuttuh melalui pelayanan jajaran Departemen Pendidikan maupun Departemen Agama.
Terpujilah TUHAN, gunung batuku, yang mengajar tanganku untuk bertempur, dan jari-jariku untuk berperang; yang menjadi tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, kota bentengku dan penyelamatku, perisaiku dan tempat aku berlindung, yang menundukkan bangsa-bangsa ke bawah kuasaku! Ya TUHAN, apakah manusia itu, sehingga Engkau memperhatikannya, dan anak manusia, sehingga Engkau memperhitungkannya? Manusia sama seperti angin, hari-harinya seperti bayang-bayang yang lewat.” (Mzm 144:1-4)
Ign 28 September 2012

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.