28 Feb – Sir 17:24-29; Mrk 10:17-27

"Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah."

(Sir 17:24-29; Mrk 10:17-27)

 

“Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorang pun yang baik selain dari pada Allah saja. Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!" Lalu kata orang itu kepada-Nya: "Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku." Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: "Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya. Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah." Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus menyambung lagi: "Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." Mereka makin gempar dan berkata seorang kepada yang lain: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?" Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah." (Mrk 10:17-27), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Masih maraknya tindak korupsi hampir di semua bidang dan kehidupan bersama masa kini menunjukkan bahwa sikap materialistis begitu menjiwai banyak orang. UUD = Ujung-Ujungnya Duit itulah muara setiap permasalahan yang muncul masa kini. Orang bersikap mental materilistis berarti begitu mempercayakan diri pada materi (harta benda atau uang), sehingga kurang atau tidak percaya kepada Tuhan, tidak atau kurang beriman. Mereka kalau tidak menghasilkan harta benda atau uang tidak bertindak apapun. Sebagai orang beriman kita diharapkan mempercayakan diri seutuhnya kepada Allah, dan percayalah bahwa “segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah”, artinya dengan mempercayakan diri seutuhnya kepada Allah kita dapat mengerjakan segala sesuatu yang diperintahkan atau dikehendaki oleh Allah. Maka jika mendambakan hidup kekal, mulia dan berbahagia selamanya di sorga setelah meninggal dunia atau dipanggil Tuhan, marilah cara hidup dan cara bertindak kita usahakan senantiasa sesuai dengan kehendak Tuhan. Dengan kata lain marilah kita setia pada panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing, meskipun untuk itu harus menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan. Percayalah bahwa bersama dan bersatu dengan Allah kita akan mampu mengatasi aneka tantangan dan hambatan.

·   Untuk orang yang menyesalpun Tuhan membuka jalan kembali, dan orang yang kehilangan ketabahan hati dilipur oleh-Nya. Berpalinglah kepada Tuhan dan lepaskanlah dosa, berdoalah di hadapan-Nya dan berhentilah menghina” (Sir 17:24-25). Kiranya kita semua adalah orang berdosa, namun marilah kita sadari dan hayati bahwa kita juga dipanggil oleh Allah untuk bertobat atau memperbaharui diri. Salah satu bentuk dosa yang kita lakukan adalah ‘menghina’ atau melecehkan orang lain, antara lain membesar-besarkan kesalahan dan kekurangan orang lain atau menuduh salah orang lain, padahal yang sebenarnya mereka tak bersalah. “Berdoalah di hadapan-Nya dan berhentilah menghina”, demikian peringatan yang hendaknya kita indahkan. Berdoa antara lain mengarahkan hati sepenuhnya kepada Tuhan, sehingga perhatian senantiasa terarah kepada Tuhan yang hidup dan berkarya dalam ciptaan-ciptaanNya, antara lain dalam diri manusia, yang diciptakan sebagai gambar atau citra Allah. Maka marilah kita perhatikan karya Allah dalam diri kita sendiri maupun sesama atau saudara-saudari kita. Dengan kata lain marilah kita saling bersikap positif satu sama lain, melihat dan mengimani kebaikan yang ada dalam diri kita. Marilah kita hayati bahwa Tuhan mahamurah dan maha kasih, maka hendaknya jangan takut menyesali dosa dan kesalahan di hadapan Tuhan melalui sesama atau saudara-saudari kita. Para orangtua, pendidik/guru atau pemimpin kami harapkan dapat menjadi teladan dalam menyesali dosa dan mengakui kesalahan bagi anak-anaknya, peserta didik atau bawahannya.

 

“Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: "Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku," dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. Sebab itu hendaklah setiap orang saleh berdoa kepada-Mu, selagi Engkau dapat ditemui; sesungguhnya pada waktu banjir besar terjadi, itu tidak melandanya. Engkaulah persembunyian bagiku, terhadap kesesakan Engkau menjaga aku, Engkau mengelilingi aku, sehingga aku luput dan bersorak” (Mzm 32: 5-7)

 

Jakarta, 28 Februari 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: