28 Agt

“Siapa yang mempunyai kepadanya akan diberi sehingga ia berkelimpahan”
(1Yoh 4:7-16; Mat 13:8-12)

Sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!" Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: "Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?" Jawab Yesus: "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.” (Mat 13:8-12), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Agustinus, Uskup dan Pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Agustinus adalah orang yang sungguh cerdas, dan berkat didikan dan bimbingan ibunya, Monika, yang tekun dan sungguh-sungguh, maka Agustinus tidak menyia-nyiakan kecerdasannya. Ia mendalami filsafat dan juga wahyu ilahi sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci. Sebagai Uskup ia tetap terus memperdalam Kitab Suci dengan filsafatnya, maka akhirnya oleh Gereja Agustinus juga diangkat sebagai pujangga Gereja. “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya”, demikian sabda Yesus, yang hemat saya sungguh menjiwai Agustinus. Sabda ini kiranya juga terarah bagi kita semua yang beriman kepada Yesus Kristus, maka marilah kita renungkan dan hayati. Marilah kita kembangkan dan perdalam aneka anugerah Allah kepada kita, entah itu berupa keterampilan, bakat, kecerdasan dst.. serta kemudian kita baktikan atau sumbangkan kepada orang lain melalui hidup dan kerja kita setiap hari dimana pun dan kapan pun. Ingatlah dan hayati bahwa keterampilan, bakat, kecerdasan dst..ketika kita sumbangkan atau berikan kepada orang lain tidak akan berkurang, melainkan semakin bertambah, mendalam dan handal. Maka hendaknya kita jangan menjadi orang egois, melainkan sosial, karena jati diri manusia adalah sosial, sebagaimana manusia pertama Adam dianugerahi teman hidup, Hawa, untuk hidup bersama demi kebahagiaan dan kesejahteraan bersama. Pendek kata sekecil atau sederhana apapun keterampilan, bakat dan kecerdasan kita hendaknya kita baktikan atau sumbangkan bagi kehidupan bersama.
·   Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (1Yoh 4:7-8). Sebagai manusia, kita semua berasal dari Allah, diciptakan oleh Allah karena kasihNya serta bekerjasama dengan orangtua kita masing-masing yang saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan atau tubuh. Tapa kasih kita tidak dapat hidup dan ada sebagaimana adanya pada saat ini, hanya dalam dan oleh kasih kita dapat hidup, tumbuh-berkembang sampai kini. Masing-masing dari kita adalah buah kasih atau yang terkasih, maka selayaknya setiap bertemu dengan orang lain kita senantiasa hidup saling mengasihi. “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih”, demikian peringatan Yohanes dalam suratnya, sebagaimana saya kutip di atas. Kami percaya bahwa kita semua mengakui diri sebagai orang yang beriman, yang berarti senantiasa berusaha membaktikan diri sepenuhnya kepada Allah, dan dengan demikian mengenal Allah sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan masing-masing, maka marilah kita tunjukkan bahwa diri kita sungguh mengenal Allah dengan hidup saling mengasihi dengan siapapun, tanpa kenal batas SARA, Suku, Ras dan Agama. Salah satu usaha atau bentuk menghayati panggilan untuk saling mengasihi adalah berusaha bersama-sama menghayati apa yang sama di antara kita, misalnya sama-sama manusia ciptaan Allah, yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citra Allah. Masing-masing dari kita adalah gambar atau citra Allah dan karya Allah dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini antara lain menggejala dalam apa yang baik, mulia, indah dan luhur dalam diri kita masing-masing. Marilah kita angkat dan wujudkan apa yang baik, mulia, indah dan luhur dalam diri kita masing-masing. Kita juga dipanggil untuk senantiasa berpikiran positif terhadap orang lain atau saudara-saudari kita dimana pun dan kapan pun.
Orang bebal berkata dalam hatinya: "Tidak ada Allah." Busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada yang berbuat baik. TUHAN memandang ke bawah dari sorga kepada anak-anak manusia untuk melihat, apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Allah. Mereka semua telah menyeleweng, semuanya telah bejat; tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak. Tidak sadarkah semua orang yang melakukan kejahatan, yang memakan habis umat-Ku seperti memakan roti, dan yang tidak berseru kepada TUHAN?” (Mzm 14:1-4)
Ign 28 Agustus 2012

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.