27Agt

“Yesus menyerahkannya kepada ibunya”
(Sir 26:1-4.16-21; Luk 7:11-17)

” Kemudian Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain.
Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak
menyertai-Nya berbondong-bondong. Setelah Ia dekat pintu gerbang kota,
ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya
yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu.
Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas
kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: "Jangan menangis!" Sambil
menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung
berhenti, Ia berkata: "Hai anak muda, Aku berkata kepadamu,
bangkitlah!" Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai
berkata-kata, dan Yesus menyerahkannya kepada ibunya. Semua orang itu
ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata: "Seorang nabi
besar telah muncul di tengah-tengah kita," dan "Allah telah melawat
umat-Nya." Maka tersiarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di
seluruh daerah sekitarnya.” (Luk 7:11-17), demikian kutipan Warta
Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan St Monika
hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
•       “Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi
tak harap kembali, bagaikan sang surya menyinari dunia”, demikian
syair sebuah lagu, yang menggambarkan kasih seorang ibu kepada
anaknya. Isi syair di atas ini kiranya juga menggambarkan kasih janda
sebagaimana dikisahkan dalam Warta Gembira hari ini, yang menangisi
anaknya, yang telah meninggal dunia, maupun St.Monika yang kita
kenangkan hari ini. Maka baiklah dalam rangka mengenangkan St.Monika
hari ini secara khusus pertama-tama saya mengajak para ibu untuk mawas
diri dalam rangka mengasihi dan mendidik anak-anaknya. Anak-anak
selama kurang lebih sembilan bulan tumbuh berkembang dalam dan oleh
kasih di dalam rahim ibu, yang akhirnya dilahirkan dalam kasih juga.
Anak adalah buah kasih, kerjasama Allah dengan manusia serta kerjasama
antar suami-isteri yang saling mengasihi dengan segenap hati, segenap
jiwa, segenap akal budi dan segenap tubuh. Rekan-rekan ibu/perempuan
memiliki rahim dan didalam rahim tumbuh berkembang yang terkasih. Kata
rahim dapat menjadi kerahiman yang berarti belas kasih. Maka kami
berharap para ibu mendidik dan mendampingi anak-anak dalam dan oleh
belas kasih. St.Monika dalam dan oleh kasih serta doa-doanya telah
berhasil mendidik Agustinus anaknya, yang kurang ajar menjadi cerdas
spiritual, berbudi pekerti luhur. Kami berharap para ibu meneladan
St.Monika: kerja keras dalam dan oleh kasih serta doa mendampingi dan
mendidik anak-anak yang dianugerahkan oleh Allah. Moga-moga karena
pendampingan ibu yang demikian itu juga ada kemungkinan salah seorang
anaknya meneladan Agustinus, yaitu terpanggil menjadi imam, bruder
atau suster.
•       “Berbahagialah suami dari isteri yang baik, dan panjang umurnya akan
berlipat ganda. Isteri berbudi menggembirakan suaminya, yang dengan
tenteram akan menggenapi umurnya. Isteri yang baik adalah bagian yang
baik, yang dianugerahkan kepada orang yang takut akan Tuhan. Entah
kaya, entah miskin giranglah hatinya, dan selalu rianglah roman
mukanya.”(Sir 26:1-4). Selain berhasil mendidik Agustinus, anaknya,
St.Monika juga berhasil mempertobatkan suaminya dari cara hidup dan
cara bertindak yang amburadul dan tak bermoral menjadi baik, teratur
dan berbudi pekerti luhur. Maka sekali lagi kutipan di atas ini
hendaknya secara khusus menjadi bahan permenungan atau refleksi bagi
para isteri. Para isteri diharapkan berbudi pekerti luhur, baik dan
senantiasa bergirang, entah kaya atau miskin. Dalam sejarah karya
penyelamatan maupun sejarah hidup bermasyarkat, berbangsa dan
bernegara, kiranya peran isteri atau perempuan sungguh berpengaruh
atau bahan dominan. Sebagai contoh: Hawa terjebak oleh godaan setan
lalu menjebak juga Adam, para isteri pejabat pada umumnya begitu
mempengaruhi suaminya yang memiliki jabatan atau kedudukan tertentu
(ada yang berpengaruh baik, tetapi ada yang tidak baik antara lain
korupsi), iklan-iklan para pengusaha pada umumnya menawarkan usahanya
melalui gadis-gadis cantik, entah berupa gambar atau manusia hidup,
dst.. Kami berharap semoga para isteri mempengaruhi suaminya agar
hidup dan bertindak baik, untuk itu hendaknya dalam mengatur atau
mengurus kebutuhan rumah tangga sesederhana mungkin, tidak
berfoya-foya atau pamer aneka macam assesori yang dapat mengundang
pencuri. Tak kalah penting adalah dalam mendidik anak-anak, karena
pada umumnya para isteri lebih memiliki waktu dan tenaga banyak atau
kesempatan dan kesempatan mendampingi anak-anak daripada suami. Kami
berharap dalam mendidik dan mendampingi anak sedemikian rupa sehingga
anak-anak tumbuh berkembang menjadi pribadi cerdas beriman seperti
Agustinus. Jauhkan aneka bentuk pemanjaan pada anak-anak, bina dan
didiklah anak-anak agar kelak mereka menjadi ‘man/ woman for/with
others’.
“Biarlah gemuruh laut serta isinya, dunia serta yang diam di dalamnya!
Biarlah sungai-sungai bertepuk tangan, dan gunung-gunung
bersorak-sorai bersama-sama di hadapan TUHAN, sebab Ia datang untuk
menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan
bangsa-bangsa dengan kebenaran” (Mzm 98:7-9)
Ign 27 Agustus 2011

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.