27 Juni – 1Raj 19:16b.19-21; Gal 5:1.13-18; Luk 9:51-62

"Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”

Mg Biasa XIII: 1Raj 19:16b.19-21; Gal 5:1.13-18; Luk 9:51-62

Dalam acara seminar atau lokakarya perihal ‘kebudayaan dan pendidikan’ ada seorang pembicara menyampaikan sindirian sebagai berikut: “Salah satu cermin budaya suku/bangsa antara lain ada pada tarian. Tarian Jawa/kasunanan Solo atau kasultanan Yogya adalah ‘bedoyo’, di mana sang penari nampak maju satu langkah dan mundur dua langkah. Bukankah hal ini mencerminkan sementara orang Jawa yang bersikap mental ‘nrimo’ (=menerima) dan kurang bergairah untuk melangkah maju dengan bereksplorasi atau mencoba-coba hal baru?”.  Sindiran ini rasanya erat kaitannya dengan Warta Gembira hari ini, dimana dikisahkan orang yang ingin mengikuti Yesus, tetapi ketika Yesus mengatakan bahwa "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.“, orang tersebut mengundurkan diri dengan alasan yang nampak logis, namun yang benar adalah orang tersebut tidak siap untuk melangkah ke depan bersama Yesus karena takut terhadap aneka tantangan, hambatan atau masalah. Mungkinkah kita juga termasuk orang yang takut melangkah ke depan karena aneka macam tantangan, hambatan atau masalah yang harus dihadapi? Marilah kita mawas diri!.

 

"Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”(Luk 9:62)

 

Ada dua alasan yang ditampilkan dalam warta gembira hari ini perihal orang-orang yang ‘menoleh ke belakang’, yaitu:

 

1) "Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku." (Luk 9:59)

Minta izin tidak bekerja atau tidak belajar dengan alasan ‘layat’  pada umumnya dengan mudah diizinkan serta jarang ditolak. Maka sering ada pekerja atau pelajar tertentu, yang malas dan ingin membolos, minta izin dengan alasan hendak melayat saudaranya atau kenalannya. “Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku”  merupakan alasan licik bagi orang malas untuk maju, tumbuh dan berkembang; alasan yang tak mungkin dibicarakan atau didiskusikan lagi. Orang yang demikian ini pada umumnya hanya ingin mengikuti dan mempertahankan pendapat atau ide atau cita-citanya sendiri samibl berkata ‘pokoknya ini’. 

 

2) "Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku."(Luk 9:61)

Pamitan dahulu dengan keluargaku”  berarti orang begitu dikuasai oleh  atau terikat pada semangat/ mental orangtua, dan dengan demikian tidak sedia untuk hidup dan bertindak sesuai dengan charisma atau spiritualitas atau visi hidup baru dimana yang bersangkutan mulai menapaki atau menghayatinya. Sebagai contoh: sudah menjadi suami-isteri tetapi baik sang suami maupun sang isteri hanya mau mengikuti kehendak dan keinginan sendiri sebagaimana telah ditanamkan dan diterima dari orangtua masing-masing, menjadi anggota lembaga hidup bakti (biarawan atau birawati) tidak sedia hidup dan bertindak sesuai dengan charisma pendiri melainkan hanya mau mengikuti keinginan atau kemauan sendiri, dst… Dengan kata lain orang masih kekanak-kanakan alias belum dewasa.

 

Kepada mereka yang memiliki sikap mental sebagaimana saya angkat di atas ini kami harapkan untuk bertobat atau memperbaharui diri, dan marilah mengikuti Tuhan dengan penuh kesetiaan dan ketaatan. Memang untuk mengikuti Tuhan kita harus berani meneladan Yesus dengan hidup sebagaimana Ia gambarkan ini, “serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya“. Mengikuti Tuhan berarti siap sedia dengan jiwa besar dan hati rela berkorban meninggalkan segala keinginan dan kehendak sendiri serta kemudian mengikuti perintahNya atau meneladan cara hidup Yesus, yang kaya tetapi memiskinkan DiriNya, yang besar dan mulia tetapi merendahkan diri. Dengan kata lain mengikuti Tuhan berarti melaksanakan atau menghayati aneka aturan dan tatanan yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing: hidup dan bertindak sesuai dengan janji yang pernah kita ikrarkan atau spiritualitas pendiri organisasi.

 

Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih” (Gal 5:13) 

 

Layanilah seorang akan yang lain oleh kasih”, inilah yang baik menjadi permenungan atau refleksi kita, sebagai orang beriman yang telah ‘dipanggil untuk merdeka’. Melayani berarti membahagiakan dan mensejahterakan, pelayan yang baik senantiasa tidak pernah mengecewakan yang dilayani. Pelayan yang baik senantiasa dijiwai oleh kasih, yaitu “sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri dan tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran, menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1Kor 13:4-7)     

 

Tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain”  inilah yang kiranya baik kita hayati dan sebarluaskan pada masa kini, mengingat dan memperhatikan masih maraknya aneka bentuk kemarahan di sana-sini yang menimbulkan korban manusia maupun harta benda. Marah berarti menghendaki yang dimarahi tidak ada; bentuk kemarahan yang paling lembut adalah mengeluh dan yang paling kasar adalah membunuh/memusnahkan. Orang yang mudah mengeluh hemat saya orang yang sedang menderita sakit, entah sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi maupun sakit tubuh. Makanan, minuman, cuaca, situasi dst. dapat menjadi bahan mengeluh. Pendek kata apa yang tidak sesuai dengan selera atau keinginan pribadi dapat menjadi sumber mengeluh atau marah. 

 

Orang yang suka menyimpan kesalahan orang lain pada umumnya juga mudah marah, karena isi otak atau pikirannya adalah kesalahan-kesalahan orang lain maupun kesalahan diri sendiri. Ingat dan sadari bahwa apa yang akan kita lakukan pada hari ini tergantung apa yang sedang ada dalam pikiran atau otak kita, maka jika yang ada di dalam otak atau pikiran kita adalah kesalahan-kesalahan dengan sendirinya kita akan mudah marah karena tidak pernah puas atau nikmat dalam hidup ini. Orang yang mudah menyimpan kesalahan-kesalahan memang tak mungkin dapat nikmat dan bahagia atau sejahtera di dalam hidup di dunia masa kini. Orang yang senang menyimpan kesalahan-kesalahan pada umumnya juga perfektionis, yang dikehendaki sempurna adanya, padahal di dunia ini banyak hal yang tidak sempurna. Mereka juga kurang melayani dan lebih senang untuk dilayani.     

 

Kita semua dipanggil untuk merdeka, dan marilah kita hayati atau fungsikan kemerdekaan kita untuk hidup saling melayani satu sama lain dalam dan oleh kasih.

 

“Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku. Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram; sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan. Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa

 (Mzm 16:7-11)

Jakarta, 27 Juni 2010

 

5 pencarian oleh pembaca:

  1. renungan lukas 9:51-62
Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.